MINGGU, 28 MEI 2017

MAKASSAR --- Tahun ini sebagian warga Pesisir Marbo Kelurahan Tallo punya cara ngabuburit, yaitu membaca buku. Mereka tampak serius membaca buku bacaannya. Mereka merasakan puasa tahun ini berbeda dengan tahun lalu. 

Anak-anak pesisir tampak sedang asyik membaca menunggu beduk Mahgrib.
Jalannya buka lapak baca di bulan puasa ini membawa suka cita tersendiri bagai masyarakat Pesisir Marbo. Ini terbukti dari antusias warga masyarakat yang berkumpul bersama sambil membaca buku.

Menurut Andi salah satu warga pada bulan puasa anak-anak di sini bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat yaitu membaca buku.

"Biar bulan puasa lapak baca pesisir tetap berjalan seperti hari biasanya. anak-anak juga senang karena ada lapak baca pesisir jadi sambil tunggu Magrib mereka bisa membaca buku," jelas Andi.

Dengan adanya kegiatan seperti ini dapat menambah pengetahuan mereka dan waktu ngabuburit tidak terbuang sia-sia. Warga sebenarnya menginginkan kegiatan lapak baca ini terus berlangsung.

Lapak baca Pesisir Pantai Marbo sendiri merupakan salah satu kegiatan Komunitas Ruang Abstrak literasi. Kegiatan ini baru terbentuk pada Februari kemarin. Kegiatan ini biasa dilakukan di monggu sore oleh anggota ruang abstrak literasi.

Kegiatan lapak baca ini tidak hanya dilakukan di Pesisir Pantai Marbo saja. Kegiatan lapak baca ini juga di lakukan di bawah fly over di Jalan Urip Sumuharjo. Lapak ini diperuntukan untuk anak-anak pemulung dan juga anak-anak pengamen di sana.

Namun menurut pengurus Ruang Abstrak Literasi jika dilihat antusias masyarakat, maka  lebih antusias warga pesisir ini. Mereka lebih punya semangat membaca dibanding anak-anak di bawah fly over.

Menurut Icang salah satu anggota Ruang Abstrak Literasi kalau dari pertama kali dibuka kegiatan lapak baca pesisir ini animo masyarakat memang tinggi.

"Hanya saja saat pengisian absensi kebanyakan anak-anak susah sekali ditanya namanya pekerjaan orang tuanya seperti apa," tutup Icang.

Suasana ngabuburit di Pesisir Marbo dalam areal lapak membaca Ruang Abstrak Literasi.
 Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah

MINGGU, 28 MEI 2017

JAKARTA --- Pemerintah melalui Perum Bulog telah menyiapkan berbagai langkah dan strategi, terutama terkait stok ketersediaan dan ketahanan pangan, khususnya dalam menghadapi datangnya bulan puasa dan juga Lebaran Hari Raya Idul Fitri 2017 mendatang. 

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Karyawan Gunarso.
Hal tersebut disampaikan secara langsung Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Karyawan Gunarso dalam sebuah acara diskusi tentang ketahanan pangan di Museum Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu petang (28/5/2017).

Awalnya acara diskusi yang bertajuk "Ketersediaan dan Distribusi Pangan Saat Ramadan" akan dihadiri oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman dan juga Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Djarot Kusumayakti. Karena sesuatu hal, ketiga pejabat Pemerintah tersebut tidak jadi datang, namun meskipun demikian acara diskusi tentang ketahanan pangan tersebut tetap berlangsung.

Secara nasional, ketahanan dan ketersediaan stok kebutuhan beras selama Puasa dan Idul Fitri 2017 sangat aman. Stok beras di gudang Bulog pada awal 2017 tercatat mencapai 1,74 juta ton. Itu baru stok beras di gudang Bulog saja, belum termasuk stok beras yang sudah beredar di masyarakat.

Sedangkan produksi padi secara nasional mencapai 85,57 juta ton dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 49,77 juta ton beras. Sedangkan total kebutuhan beras secara nasional Rata-raya sebesar 114,6 kilogram per kapita per tahun. Data tersebut berdasarkan hasil Rakor Menkoperekonomian pada 3 Februari 2017 yang lalu.

"Secara nasional stok ketahanan dan ketersediaan pangan khususnya beras selama Puasa dan Idul Fitri 2017 sangat aman atau cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama dua bulan ke depan. Selain itu Bulog juga menjaga stok ketersediaan dan pangan lainnya yang paling banyak dibutuhkan masyarakat umum, mudah-mudahan harga kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan, alias tetap stabil," jelas Karyawan kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/5/2017).

Jurnalis: Eko Sulestyono/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Eko Sulestyono
MINGGU, 28 MEI 2017

CIAMIS  --- Pada bulan suci Ramadan, seperti sekarang ini produsen sale pisang ambon khas Ciamis, kebanjiran order pesanan hingga Hari Raya Idul Fitri nanti. Produksi Sale Pisang Ambon khas Ciamis, hingga kini mencapai sekitar 5 ton dengan jumlah perajin sekitar 10 orang, di Blok Cilisung, Dusun Kotaharja, RT 35, RW 09, Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. 

Seorang Pembuat Sale Pisang Ambon di Ciamis.
Produksi Sale Pisang Ambon dari daerah tersebut sudah bisa menembus Pasaran di wilayah Bogor, Purwakarta, Bandung, Tanggerang, Yogyakarta. Sentra usaha Sale Pisang Ambon di daerah tersebut tumbuh dan berkembang, karena dengan melimpahnya bahan baku tanaman pisang dan para pengrajin yang menggeluti usaha tersebut.

Salah seorang produsen, Aceng, Minggu (28/05/2017), mengatakan pihaknya setiap pekan memasok Sale Pisang Ambon ke Purwakarta, karena permintaan sale pisang ambon dan pasarannya cukup meningkat.

Para pembuat Sale Pisang Ambon di desa tersebut sudah berjalan sekitar 5 tahun, hingga berkembang seperti sekarang, dan kini menjadi sumber mata pencarian warga setempat.

Aceng, berharap pemerintah daerah dapat membantu penguatan modal agar produksi sale pisang ambon didaerah tersebut bisa lebih meningkat dan bisa bersaing dengan daerah penghasil sale lainnya yang ada di Indonesia.

Hal senada diungkapkan, Ade, sale pisang yang diproduksinya sudah mampu membus pasaran tidak saja wilayah Jawa Barat, tetapi juga Jawa Tengah. Produksi sale pisangnya pun sudah berbagai jenis sale pisang ambon yang diproduksi seperti bentuk, stik, gulungan, dan lain-lain. Sayangnya produksi pisang sale masih terbatas akibat kekurangan permodalan.

"Sebetulnya permintaan Sale Pisang Ambon, selama Ramadan, di pasaran cukup tinggi, namun kami tidak bisa memenuhi permintaan dan pesanan yang cukup tinggi seperti sekarang ini," pungkasnya.

Jurnalis: Baehaki Efendi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Baehaki Efendi
MINGGU, 28 MEI 2017

SURABAYA --- Sifat kritis masyarakat dalam memahami produk media massa merupakan hal terpenting dalam kehidupan di sebuah negara demokrasi. Banyaknya jumlah media yang memiliki kredibilitas berbeda, menuntut rakyat Indonesia agar cerdas ketika mendapatkan suguhan berita yang ada supaya tidak menimbulkan perpecahan serta kekacauan. 

Suasana Gelar Wicara di Stikosa AWS.
Masalah tersebut menjadi pokok bahasan utama dalam sebuah gelar wicara bertema ‘Mediamorfosis: Media Sebagai Wadah Membangun Literasi Informasi’ yang diselenggarakan mahasiswa pecinta alam Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya–Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) pada hari Minggu (28/5) di Auditorium Kampus.

Pada kegiatan itu, seorang fotografer kantor berita asing Agence France-Presse (AFP), Juni Kristanto, dihadirkan sebagai pembicara. Juni menjelaskan bahwa sebagai pekerja jurnalistik, dirinya dituntut untuk mampu menampilkan produk, dalam hal ini foto, seusai dengan kenyataan dan realita yang ada. Pasalnya, apa yang disampaikan oleh fotografer akan dikonsumsi masyarakat luas.

“Sebagai seorang fotografer jurnalistik, khususnya untuk kantor berita asing, kita harus benar-benar memahami etika jurnalistik. Karya yang kita hasilkan harus memberi edukasi dan realita kepada khalayak. Jangan sampai kita membuat karya yang justru menggiring opini masyarakat ke arah negatif, katakan pertikaian,” ungkap Juni.

Juni bahkan sempat mendapatkan teguran keras ketika melakukan liputan erupsi Gunung Kelud beberapa waktu lalu. Kala itu dirinya sempat mendaki hingga mendekat ke Gunung Kelud dan mendapatkan foto yang diinginkan. Dari teknik dan seni fotografi, foto hasil jepretan Juni memang bagus dan layak tayang. Tetapi ada banyak aspek yang perlu diperhatikan.

“Saya kirim fotonya ke kantor Jakarta, lalu dikirim ke kantor Asia di Hong Kong. Dari Hong Kong marah ke kantor Jakarta dan saya akhirnya ikut dimarahi. Alasannya waktu itu radius aman Gunung Kelud adalah sepuluh kilometer dari pusat erupsi, sedangkan saya hanya berjarak 500 meter dari lokasi,” kata Juni.

Pihak AFP memutuskan untuk tidak memuat foto milik Juni tersebut. Pasalnya jika tetap ditayangkan, maka masyarakat akan menilai bahwa jarak radius yang ditetapkan pemerintah tidak berguna lagi karena ada orang yang mampu meraih jarak 500 meter. Tak hanya itu, Juni juga mendapat peringatan dari Kantor AFP.

“Pada dasarnya kantor berita itu tidak membutuhkan foto yang bagus dan langka jika proses pengambilannya justru membahayakan fotografer yang bersangkutan. Apalagi posisi saya waktu itu memang melanggar imbauan pemerintah. Kalau pelaku medianya melanggar, secara tidak langsung mengajarkan hal serupa kepada pembaca,” terang Juni.

Moderator gelar wicara, Putri Aisyiyah, turut berpesan agar masyarakat, khususnya mahasiswa, mampu menyaring dan mengonsumsi pemberitaan secara menyeluruh. Putri menjelaskan jika tidak semua produk media memiliki tujuan yang berpihak kepada masyarakat. Ada beberapa pihak yang ingin membuat propaganda melalui pemberitaan.

“Jadi mudahnya adalah kalau membaca berita, usahakan dari berbagai sumber agar kita bisa menilai mana yang benar-benar valid dan nyata. Kalau hanya satu, bisa-bisa kita yang termakan opini dan menyebarkan berita palsu. Karena media saat ini bisa menjadi senjata paling ampuh untuk menyerangan orang, golongan atau organisasi tertentu,” pungkas perempuan yang juga menjadi dosen di Stikosa AWS dan Universitas Kristen Petra surabaya itu.

Jurnalis: Afif Linofian/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Afif Lifofian