HEADLINE

KAMIS, 23 FEBRUARI 2017

LAMPUNG --- Ratusan warga Dusun Buring, Desa Bakauheni, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, berunjuk rasa menuntut ganti-rugi lahan terdampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di ruas Bakauheni-Terbanggibesar Lampung, Kamis (23/2/2017).
Massa aksi saat berangkat menuju Kantor Gubernur Lampung
Selain diikuti oleh sekitar 500 warga Dusun Buring, aksi unjuk rasa itu juga diidampingi oleh sekitar 150 anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM-GMBI) dari berbagai distrik, di antaranya distrik Lampung Selatan, distrik Pringsewu serta wilayah teritorial Lampung. Massa aksi yang sebagian besar merupakan warga terdampak JTTS tersebut berangkat menyampaikan aspirasi menuju Kantor Gubernur Lampung, menggunakan 10 armada mobil.

Ketua GMBI Wilayah Teritorial (Wilter) Lampung, Ali Muktamar Hamas, saat dikonfirmasi Cendana News sebelum keberangkatan massa aksi, mengatakan, aksi unjuk rasa yang diikuti kurang lebih 500 warga merupakan solidaritas dari sebanyak 76 warga di Dusun Buring, pemilik sekitar puluhan hektar lahan terdampak JTTS. “Kita mendampingi masyarakat terdampak jalan tol Sumatera yang menginginkan ganti-rugi hak atas tanam-tumbuh dan lahan tanah, namun justru saat akan proses pencairan tanah tersebut statusnya milik Dinas Kehutanan. Sementara, jauh-jauh hari warga tidak ada kejelasan status,” ungkap Ali.

Ali menyebut, LSM GMBI secara khusus menjadi lembaga kontrol sosial yang memantau kegiatan Pemerintah dan swasta dalam hal pembangunan. Khusus di Provinsi Lampung, LSM GMBI Wilter Lampung menegaskan, mendukung penuh Pemerintah Daerah dan Pusat, dalam pembangunan jalan Tol Trans Sumatera, yang akan dibangun dari Bakauheni hingga Terbanggibesar.

Namun, lanjutnya, pembangunan JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar diduga oleh LSM GMBI masih terdapat masyarakat yang belum menerima uang ganti-rugi lahan tol, karena adanya penyimpangan serta persoalan-persoalan lain, seperti tumpang tindih lahan serta status kepemilikan. LSM GMBI bahkan mempertanyakan kinerja tim apraissal, Badan Pertanahan Nasional, Dinas Pekerjaan Umum dan instansi terkait lain berkaitan dengan dampak JTTS. “Kami menilai, pemberian ganti-rugi lahan baik rumah, hak tanam-tumbuh dan kerugian non fisik kurang transparan, " terang Ali.

Massa aksi yang digelar masyarakat dan LSM GMNI Wilter Lampung, hendak mendatangi Pemerintah Provinsi Lampung, guna meminta keterangan terkait nilai ganti-rugi lahan, rumah, hak tanam-tumbuh sesuai daftar harga JTTS per meter, karena di beberapa lokasi yang sama masyarakat sebagian mengakui nilai yang dibayarkan tidak sama. Beberapa instansi yang akan dimintai keterangan, di antaranya Dinas PU, BPN, Tim Appraisal dan Ketua Tim Panitia Pengadaan Tanah (P2T) JTTS Bakauheni-Terbanggibesar. “Khusus untuk warga di Dusun Sukabaru, persoalan yang sangat pokok adalah terkait ganti-rugi lahan yang diklaim merupakan milik Dinas Kehutanan. Padahal, saat proses awal pendataan, warga tidak pernah diberitahu soal status tersebut,” ungkap Ali.
Ketua GMBI Wilayah Teritorial (Wilter) Lampung, Ali Muktamar Hamas
Sebagai LSM, sambung Ali, GMBI telah mendapat kuasa dari masyarakat Dusun Buring untuk meminta ganti-rugi atau kompensasi lahan sesuai Perpres No.71 Tahun 2012 tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Selain dari Dusun Buring, LSM GMBI juga mendapat kuasa dari warga Desa Tetaan yang hendak meminta ganti-rugi lahan sesuai harga yang layak, patut dan adil sebesar, Rp. 300.000 per meter.

Sementara itu, salah-satu peserta aksi yang merupakan salah-satu pemilik lahan di wilayah Dusun Sukabaru dan 1 dari sekitar 76 warga yang belum mendapat uang ganti-rugi lahan JTTS, Hendro (34), mengaku sama sekali belum menerima uang ganti-rugi lahan termasuk tanam-tumbuh. Dalam pendataan, ia mengaku sebanyak 100 lebih tanaman kelapa dan pohon coklat belum diganti, meski ia mendapat penjelasan tanah yang digarap merupakan milik Dinas Kehutanan. “Saya bisa memahami jika status tanah diklaim sebagai tanah milik kehutanan, namun justru tanam tumbuh yang saya miliki hingga kini belum dibayarkan,” ungkap Hendro.

Hendro dan puluhan warga terdampak JTTS, didukung ratusan warga lain dan LSM GMBI mengaku akan meminta kejelasan soal status tanah serta berharap penggantian rugi lahan serta tanam-tumbuh bisa diberikan, seperti di wilayah lain yang lebih dahulu memperoleh uang ganti-rugi lahan.

Pantauan Cendana News, belasan kendaraan pengangkut massa masyarakat Dusun Buring Desa Sukabaru terdampak JTTS berangkat sekitar pukul 8.40 WIB, dikawal ptugas jajran Polres Lampung.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
KAMIS, 23 FEBRUARI 2017

JAYAPURA --- Calon Walikota Kota Jayapura, Benhur Tommy Mano (BTM) mengucap syukur atas kemenangan dari hasil rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum Kota Jayapura dengan perolehan 83,07 persen suara.
Benhur Tommy Mano
“Pertama bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan kemenangan kami sebagai calon tunggal di Pilkada Kota Jayapura, kedua, saya berterimakasih kepada seluruh masyarakat Kota Jayapura yang telah bersam-sama  saya mengawal pembangunan di Kota Jayapura selama lima tahun membangun kota ini untuk kemuliaan Tuhan,” kata BTM, sapaan akrabnya, Rabu (22/02/2017).
Baca:
Benhur Tommy Mano Dipastikan Kembali Menjabat Walikota Jayapura
Pada putaran kedua saat dirinya kembali maju sebagai calon Walikota Jayapura, kembali mengajak masyarakat untuk mendukung dirinya maju Pilkada Kota Jayapura. Ucapan terima kasih juga kepada penyelenggara serta aparat keamanan atas suksesnya demokrasi di ibukota provinsi Papua. “Atas kepercayaan masyarakat pada tanggal 15 Februari kemarin, mereka datang ke TPS memberikan suara politik mereka. Dan, tak lupa saya sampaikan terimakasih kepada penyelenggara KPU yang telah bekerja maksimal dengan baik,” tuturnya.

BTM bersama pasangannya Rustan Saru, unggul dengan perolehan suara 83,07 persen atau 116.006 suara. “Dilihat dari jumlah pemilih yang memiliki e-KTP, partisipasi masyarakat 70 persen,” ujarnya.

Namun  demikian, ia mengakui partisipasi masyarakat dalam Pilkada Kota Jayapura masih kurang dari yang ditargetkan. Sebelumnya, tim pemenangan dan Lembaga Survey Indonesia (LSI) menaretkan ia mendapatkan 95 persen suara, namun pada kenyataannya menurun. Menrut BTYM, hal itu disebabkan oleh tiga alasan. “Jangka waktu penetapan calon tunggal hanya dua minggu, sehingga KPU tak maksimal menyelenggarakan sosialisasi. Pemerintah Kota juga kurang maksimal menyosialisasi pilkada, dan ketiga, kami juga tak maksimal melakukan sosialisasi,” kata BTM.

Selain itu, ia menilai catatan sejarah pertamakali Pilkada Kota Jayapura calon tunggal, kemungkinan masyarakat berpikir kalau calon tunggal berarti sudah menang. Tak hanya itu, lanjutnya, Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang teracak membuat pemilih enggan ke TPS. “Data pemilih diacak, jadi orang malas datang,” ujarnya.

Hasil rapat pleno terbuka KPU Kota Jayapura yang digelar pada Rabu (22/2/2017) siang hingga tengah malam, menyatakan perolehan suara BTM-HaRUS sebanyak 116.006 suara, dengan presentase sebesar 83,07 persen. Sementara suara kotak kosong sebanyak 21.569 suara dengan total keseluruhan suara sah 137.575.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta
KAMIS, 23 FEBRUARI 2017

JAYAPURA --- Pasangan Benhur Tommy Mano dan Rustan Saru (BTM-HaRus) mendapatkan 83,07 persen suara dari hasil rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jayapura dalam proses Pilkada Serentak 2017 di ibukota Provinsi Papua.
Ketua KPU Papua, Adam Arisoi (kanan), bersana sejumlah saksi menanda-tangani berita acara hasil perolehan suara.
Rapat pleno terbuka KPU Kota Jayapura Papua dipimpin oleh KPU Provinsi Papua, telah menyatakan, pasangan Benhur Tommy Mano dan H. Rustan Saru (BTM-HaRUS)  sebagai pemenang Pilkada Kota Jayapura periode 2017-2022. Kurang lebih 9 jam proses rekapitulasi suara dari 5 distrik itu dilakukan, disaksikan langsung oleh Penjabat Walikota Kota Jayapura, Daniel Pahabol,  dan muspida lainnya. Ada pun kelima distrik itu adalah Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram dan Distrik Muara Tami.

Ketua KPU Papua, Adam Arisoi, dalam rapat pleno tersebut, mengatakan, pasangan calon BTM-HaRUS memperoleh 116.006 suara (83,7 persen), dan suara kotak kosong sebanyak 21.569 suara. Namun demikian, penetapan hasil perolehan suara ini masih harus menunggu selama 3 x 24 jam atau 3 hari, guna memberikan kesempatan kepada masyarakat yang sekiranya hendak mengajukan upaya hukum terkait hasil perolehan suara itu. Jika tak ada gugatan, penetapan calon terpilih akan dilaksanakan pada 8 Maret 2017, mendatang.

Pasangan BTM-HaRus memperoleh suara di Distrik Abepura sebanyak 33.978 suara, Heram sebanyak 20.377 suara, Jayapura Selatan sebanyak 28.078, Jayapura Utara sebanyak 29.205 dan Distrik Muara Tami sebanyak 4.368 suara. Sementara itu, Surat Suara Kotak Kosong di Distrik Abepura sebanyak 6.663 suara, Heram sebanyak 3.591 suara, Jayapura Selatan sebanyak 5.133, Jayapura Utara sebanyak 4.859 dan Distrik Muara Tami sebanyak 1.323 suara.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta
RABU 22 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA---Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota seniman yang melahirkan banyak musisi. Banyak penyanyi maupun grup musik dengan berbagai aliran mulai tradisional, hingga modern lahir di kota ini. Salah satu grup musik di Yogyakarta yang kini banyak bermunculan adalah grup musik hip-hop dengan mengangkat bahasa lokal yakni Bahasa Jawa. 

Salah satu personil NDX AKA Familia Yunanda Frisna Damara.
Dari sekian banyak grup musik hip-hop berbahasa Jawa asal Yogyakarta yang cukup fenomenal adalah NDX AKA Familia. Grup musik yang beranggotakan dua orang anak muda asal Imogiri Bantul, yakni Yunanda Frisna Damara (21) dan Fajar Ari (21) ini memiliki ciri khas yang kental dengan nuansa dangdut. Sehingga musik mereka sering disebut dengan hip-hop dangdut.

Berdiri sejak 11 September 2011, NDX AKA Familia saat ini telah memiliki ribuan penggemar fanatik di berbagai daerah mulai dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Jakarta bahkan Sumatera. Mereka biasa disebut dengan sebutan Familia. Hampir setiap konser NDX AKA selalu dihadiri ribuan Familia yang mayoritas merupakan anak muda dan remaja.

Lagu-lagu NDX AKA Familia yang mengkolaborasikan musik hip-hop dan dangdut dengan lirik Bahasa Jawa sangat populer di telinga masyarakat khususnya anak-anak muda. Lirik-liriknya yang banyak menceritakan atau mengangkat kisah cinta dan pertemanan anak muda sehari-hari begitu merasuk dihati setiap penggemarnya.

Sejumlah lagu NDX AKA Familia yang dapat didownload gratis di web mereka atau di Youtube, bahkan telah ditonton puluhan juta orang hingga saat ini. Seperti misalnya lagu "Kimcil Kepolen", "Bojoku Ditikung" dan "Tewas Tertimbun Masa Lalu". Tak hanya itu, lagu-lagu mereka bahkan kerap dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi dangdut di setiap konser-konser dangdut.

Mungkin tak banyak yang mengira jika personil NDK AKA Familia sebenarnya adalah pemuda desa biasa. Salah satunya adalah Yunanda Frisna Damara. Pemuda  kelahiran 7 November 1995 ini sehari-hari tinggal dusun Jati, Sriharjo, Imogiri, Bantul, sekitar 13 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.

Ia mengaku memilih musik hip-hop dangdut dengan Bahasa Jawa karena sesuai dengan pribadinya sebagai anak muda pinggiran kota. Melalui lagu-itulah ia juga mengaku lebih bisa menyampaikan apa yang banyak dirasakan anak-anak muda seusianya.

"Awalnya cuma iseng buat lagu, lalu direkam sendiri. Idenya kebanyakan dari pengalaman pribadi atau curhatan teman-teman. Liriknya lebih pada curhatan hati kaum anak muda pinggiran kota, " katanya.

Meski suka menyanyi sejak kecil, namun Yunanda mengaku tak bisa bermain alat musik. Ia membuat iringan setiap lirik lagunya dengan memanfaatkan aplikasi musik. Semua ia lakukan sendiri tanpa ada yang mengajari. Mulai dari menciptakan lagu, mengolah hingga merekamnya.

"Karena lagu yang ssya buat banyak yang suka akhirnya saya mencoba buat lagi. Saat ini total sudah ada 35 lagu. Semua masih berupa single yang kita unggah di web dan bisa didownload gratis. Tahun 2017 ini kita baru berencana membuat album pertama," katanya.

Jika pada awal manggung mereka hanya dibayar Rp75 ribu, kini sekali mangggung mereka bisa mendapat bayaran hingga Rp30 juta. Mereka bahkan tak jarang kerap manggung bersama artis dangdut maupun artis lagu pop yang lebih dulu terkenal di Indonesia.

"Kita sudah pernah tampil di 35 kota di Indonesia. Paling berkesan itu waktu di Jember. Itu yang hadir sampai 20.000 orang lebih. Sampai panggungnya rusak karena rusuh. Itu kita hanya sempat main 3 lagu saja," kata Yunanda yang mengaku ingin mengikuti jejak senior mereka Yogja Hip-hop Foundation untuk mempopulerkan bahasa Jawa ke seluruh dunia itu.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Baca:

http://www.cendananews.com/2017/02/politik-menyenangkan-ala-hip-hop-colony.html