SENIN, 15 AGUSTUS 2016

ACEH --- Usia perdamaian Aceh telah mencapai 11 tahun paska perjanjian damai yang pada 2005 silam. Meski telah dalam kondisi damai, sejumlah tugas rumah masih terus harus diselesaikan oleh masyarakat Aceh, terutama dalam hal merawat perdamaian.


Alumni Sekolah Keberagaman Aceh Utara dan Lhokseumawe, menggelar diskusi terkait nilai toleransi dalam merawat perdamaian. Mereka menilai, salah satu hal yang masih menjadi ‘PR’ besar bagi masyarakat Aceh dalam situasi damai saat ini adalah merawat damai dengan hidup toleran.

Para alumni sekolah tersebut menilai, keberagaman agama, suku, ras yang terdapat di Aceh, berpotensi melahirkan kasus-kasus intoleransi. Intoleransi menurut mereka, berpotensi besar untuk merusak perdamaian Aceh yang sudah terjalin dengan baik.

“Contohnya kasus pertikaian di Kabupaten Aceh Singkil, yang menyebabkan pembakaran gereja, atau kasus pembakaran Tengku Aiyub yang dituduh sesat, kita menilai kejadian-kejadian intoleransi ini bisa menimbulkan konflik baru dan merusak perdamaian Aceh,” ujar Mulkan Syahriza, salah seorang alumni Sekolah Keberagaman, kepada Cendana News, Senin (15/8/2016).

Ia menambahkan, sebagai umat yang taat beragama islam, maka toleransi terhadap agama lain, juga terhadap kaum-kaum minoritas di Aceh menjadi sebuah keharusan. Bahkan, katanya, Nabi Muhammad mengajarkan hal tersebut.

Senada dengan Mulkan, alumni lainnya, Afri Fandi, juga menyampaikan hal yang sama. Fandi, meminta masyarakat Aceh tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang menyesatkan. Selama ini menurut Fandi, kasus intoleransi terjadi karena masyarakat terlalu proaktif menyikap isu-isu yang berpotensi melahirkan kerusuhan.

“Orang-orang yang tidak bertanggungjawab sengaja melemparkan isu, mempengaruhi masyarakat kita dengan isu-isu negatif, kita sebagai pemuda sebagai warga seharusnya tidak mudah terporovokasi dan harus terlebih dahulu menyaring isu-isu tersebut, benar atau tuidak,” katanya.

Agar perdamaian terus terawat dengan baik,  baik Mulkan, Fandi dan para alumni sekolah keberagaman lainnya berharap, masyarakat Aceh menjadi masyarakat yang lebih toleran. “Selama ini kita syudah cukup baik hidup berdampingan dan penuh toleransi dengan agam lain, kita harus meningkatkan itu, kita harus lebih toleran agar kita terus hidup dalam situasi damai seperti ini,” pungkas Mulkan.(Zulfikar Husein)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: