SELASA, 16 AGUSTUS 2016

CATATAN JURNALIS --- Usia negeri tercinta Republik Indonesia ke-71 disambut meriah oleh berbagai elemen masyarakat dari kota hingga desa dengan berbagai kegiatan perlombaan, menghias lingkungan serta berbagai kegiatan lain. Selain masyarakat berbagai sekolah dari tingkat Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD),Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ikut memeriahkan dengan menghias sekolah dengan aksesoris bendera Merah Putih.


Berbagai kemeriahan tersebut begitu kontras dengan suasana di beberapa sekolah yang ada di pelosok negeri, diantaranya di Kabupaten Lampung Selatan yang hanya mengibarkan bendera Merah Putih di tiang depan sekolah tanpa umbul umbul serta penghias. Keberadaan sekolah di tempat yang cukup jauh diantaranya dialami siswa siswa di SDN 5 Sumur di Pulau Rimau Balak Kecamatan Ketapang dan SDN 2 Bandar Agung Kecamatan Sragi serta MI Nurul Hidayah di Desa Padan Kecamatan Penengahan dan SMPN satu atap Palas.

Khusus untuk SDN 2 Bandar Agung yang berdiri sejak tahun 1980 dengan kepala sekolah saat ini Endang Sudaryat menghadapi berbagai keterbatasan, selain lokasi yang sering terjadi bencana pasang rob, belum lama ini sekolah tersebut porak poranda dihantam puting beliung. Beberapa guru bahkan harus menempuh perjalanan menyusuri sungai Way Sekampung menggunakan perahu kayu dengan kondisi akses jalan cukup memprihatinkan. 

Jalan tanpa aspal dengan masih menggunakan tanah menjadi pemandangan sehari hari bagi para guru yang mengajar di SDN 2 Bandar Agung yang sebagian merupakan guru honorer dan mengajar bagi sebanyak 201 siswa kelas 1 hingga kelas 6. Salah satu guru, Askin, sehari hari harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengajar di SDN yang ada di tepi Sungai Way Sekampung tersebut.

Serupa dengan SDN 2 Bandar Agung sebuah sekolah di pulau Rimau Balak, SDN 2 Sumur merupakan salah satu sekolah yang dalam usia ke-71 Republik Indonesia jauh dari kata sempurna untuk sebuah sekolah layaknya di sekolah lain yang sudah mengalami perbaikan dalam era kemerdekaan ini. Kepala sekolah SDN. 5 Sumur, Iswandi, dalam kunjungan Cendana News mengakui sangat membutuhkan bantuan pemerintah berupa lokal belajar, karena sistem belajar bagi siswa masih menggunakan kelas bersekat dari triplek.


Situasi sekolah di daerah terpencil tersebut dengan keterbatasan yang ada tetap masih memerlukan perhatian pemerintah daerah untuk lokal baru, rumah dinas guru serta fasilitas dermaga terbuat dari kayu yang sudah tak layak digunakan. Pemerataan sektor pendidikan yang masih sangat jauh dari harapan anak anak negeri yang ibu pertiwinya telah merdeka selama lebih dari lima puluh tahun pun terlihat dengan sekolah sekolah yang ada dekat dengan ibukota kabupaten. 

Kondisi sekolah yang terkena pasang rob air laut bahkan membuat siswa harus berangkat sekolah menggunakan sepatu boots. Jangan harap bisa mendapatkan pelajaran komputer layaknya siswa di sekolah lain yang lebih baik karena jangankan listrik dari PLN sumber listrik pun tergantung dari genset dan tenaga surya.

Kondisi sekolah di tingkat SD cukup memprihatinkan begitupun juga kondisi sekolah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) layaknya yang terjadi di SMP Satap Tanjungsari Kecamatan Palas yang terpaksa menjadikan aula sekolah menjadi kelas dengan sekat dari geribik bambu untuk kelas 7 hingga kelas 9.

Potret pendidikan yang dinikmati anak anak negeri usia sekolah tersebut sebanding dengan nasib tenaga pendidik yang harus berjibaku dengan kondisi alam perairan sungai dan laut dan menentang bahaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Beberapa guru di SDN 5 Sumur bahkan harus melawan ganasnya ombak dengan perahu kayu bermesin untuk mendidik siswa siswa sekolah di pulau terpencil.

Harapan beberapa tenaga pendidik yang menginginkan lokal sekolah reperesentatif dan fasilitas untuk mobilitas diantaranya sarana angkutan air bahkan telah diusulkan sejak lama meski menempuh jalur birokrasi yang cukup panjang. Langkah para pendidik bahkan dilakukan diantaranya dengan mengusulkan kepada para wakil rakyat yang bertugas di wilayah mereka untuk mengusulkan berbagai kekurangan fasilitas bagi generasi penerus bangsa serta para tenaga didik.

Kondisi dunia pendidikan di Lampung khususnya di daerah daerah pelosok dengan keterbatasan lokal belajar, akses jalan yang terbatas masih menjadi mimpi untuk mendambakan fasilitas yang cukup baik bahkan ketika negeri ini memasuki usia ke-71. Selain beberapa sekolah tersebut yang pernah jurnalis Cendana News kunjungi bahkan masih terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah serupa dan ratusan tenaga pendidik lain yang masih belum merasakan manisnya kemerdekaan.

Beberapa sekolah bahkan meliburkan siswanya akibat guru guru diwajibkan mengikuti upacara bendera di kecamatan yang harus ditempuh dengan jarak berkilo kilometer sehingga mengorbankan siswa siswa sekolah tidak pernah mengikuti upacara bendera di sekolah. Beberapa guru bahkan lebih memilih tidak pernah mengadakan upacara bendera di sekolah bertepatan dengan HUT RI karena guru gurunya wajib mengikuti upacara bendera di lapangan kecamatan dengan konsekuensi sanksi jika tidak mengikuti peringatan HUT RI.

Kemeriahan HUT RI lengkap dengan penerimaan fasilitas infrastruktur yang memadai hingga kini masih belum dinikmati secara merata sehingga sebagian masyarakat tidak sempat memikirkan untuk mengadakan perlombaan memeriahkan HUT RI akibat kondisi keterbatasan di pelosok yang masih cukup memprihatinkan. 


Kondisi tersebut diharapkan akan lebih membaik terutama infrastruktur sekolah dan perhatian bagi para pendidik yang mencerdaskan kehidupan anak anak negeri di pelosok negeri. Meski usia negeri ini sudah memasuki 71 tahun harapan akan potret pendidikan yang lebih baik masih menjadi harapan sebagian masyarakat di pedalaman. Semoga pemerintah daerah semakin memperhatikan kondisi infrastruktur pendidikan lengkap dengan perhatian bagi pendidiknya.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: