JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Aksi pengeboman dan penangkapan ikan serta biota laut dengan cara merusak ekosistem laut di kawasan taman laut teluk Maumere masih sering terjadi.

Kawasan perairan gugus pulau teluk Maumere.
Demikian disampaikan Fahrian Rambe, salah satu penyelam yang juga penyelenggara lomba foto bawah laut teluk Maumere saat ditemui Cendana News, Jumat (19/8/2016) di sela-sela kegiatan lomba foto bawah laut.

Dikatakan Fahrian, selama sebulan lebih berada di Maumere dan sering melakukan penyelaman di perairan tersebut, dirinya masih menyaksikan aksi pengeboman oleh nelayan tradisional.

“Masih ada pengeboman ikan, saya sebulan disini masih sering menemukan aktifitas pengeboman,” ujarnya.

Dentuman bom ikan tersebut, jelas Fahrian masih sangat jelas terdengar dan alangkah sayang bila di sebuah destinasi wisata bahari yang bagus masih ada kegiatan semacam ini.

“Alangkah baiknya bila pemerintah daerah melakukan sosialisasi, meningkatkan patroli dan melakukan tindakan tegas terhadap pelakunya,” pintanya.

Potensi alam bawah laut di Maumere menurut penyelam senior ini masih lebih unggul dibandingkan Labuan Bajo dan Alor yang arusnya sangat kencang. Di kawasan gugus pulau teluk Maumere, arus lautnya tidak terlalu kencang.

Bali juga dahulunya kata Fahrial, sering ada pengeboman ikan di perairannya namun setelah ada larangan dan sosialisasi terus menerus, masyarakat pun sadar dan mulai melakukan konservasi laut. Wisata bahari menjadi salah satu potensi unggulan daerah ini.

Pariama Hutasoit salah satu penyelam yang mengikuti lomba foto bawah laut
“Ada beberapa wilayah perairan di Bali dimana tidak diperkenankan adanya aktifitas penangkapan ikan,” ungkapnya.

Pariama Hutasoit salah satu penyelam yang juga ditemui di tempat yang sama menyebutkan, konservasi alam bawah laut di Sikka penting dilakukan. Perairan di pesisir rata-rata terumbu karangnya banyak yang rusak.

Ikan-ikan dasar seperti Kerapu, Kakap dan lainnya yang berukuran besar sebutnya, hampir tidak ditemukan. Mungkin penangkapan secara besar-besaran terhadap ikan yang dikonsumsi menyebabkan ikan-ikan karang tersebut hampir jarang ditemui

“Saya tekankan agar pentingnya menjalankan konservasi laut apalagi taman laut gugus pulau teluk Maumere sudah terkenal akan keindahannya,” tegasnya.

Pariama menyayangkan kalau alam bawah laut dengan ekosistemnya yang dulu pernah rusak akibat gempa dan tsunami semakin dirusaki dengan penangkapan ikan dengan cara merusak ekosistem laut.

Peserta lomba foto bawah laut teluk Maumere sedang menyiapkan diri
“Hampir tidak ada penyu yang terlihat, ini juga kemungkinan akibat adanya penagkapan secara besar-besaran untuk dijual,” tuturnya.

Sofi Aida S salah satu fotografer bawah laut profesional mengakui, setelah melakukan penyelaman dan pemotretan di hari pertama lomba, Kamis (18/7/2016) dirinya hampir tidak menemukan ikan berukuran besar. Yang ada hanya ikan-ikan kecil yang bukan untuk dikonsumsi.

“Mungkin ikan-ikan ini tidak dimakan dan ukurannya pun kecil sehingga jarang ditangkap,” sebutnya.

Alam bawah laut di teluk Maumere kata Sofi sudah mulai bagus kembali. Dirinya mengingatkan, nanti bila foto-foto lomba dipublikasikan masyarakat jangan melihat ikannya sudah mulai banyak dan melakukan pengeboman lagi.

“Pengambilan ikan karang cukup tinggi sehingga tersisa ikan-ikan hias berukuran kecil berwarna-warni. Hampir semua karang di pesisir rusak akibat adanya pengeboman,” pungkasnya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: