MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Sebagai sentra, kawasan Desa Tanjungsari, Desa Banyumas, Desa Kalirejo Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan mayoritas warganya berprofesi sebagai pembuat genteng dan batu bata. Kampung batu bata dan genteng bahkan disematkan di kawasan tersebut sejak tahun 1970. 


Sebagian besar warga memanfaatkan potensi tanah liat yang banyak di kawasan tersebut meski hingga akhirnya keberadaan semakin sulit diperoleh. Beberapa warga bahkan telah menggali hingga kedalaman lima meter meski akhirnya banyak warga pembuat kerajinan batu bata dan genteng memilih membeli tanah baku ke wilayah lain.

Salah satu pengrajin batu bata di Desa Tanjungsari, Ranto (34) mengungkapkan, saat ini pengrajin batu bata mengalami kesulitan memperoleh tanah dari wilayah desa setempat. Akibatnya pengrajin lebih memilih membeli tanah bahan baku dari kawasan desa lain dengan pembelian menggunakan kendaraan jenis L300. Pembelian tanah bahan baku terus dilakukan untuk proses pembuatan batu bata sebagai mata pencaharian utama warga setempat. Proses pengerjaan pembuatan batu bata yang dikerjakan secara manual tanpa mesin sebagian dikerjakan oleh kaum laki laki dan sebagian dibantu oleh kaum perempuan.

"Sejak tahun 1990-an tanah yang digunakan sebagai bahan baku membuat batu bata sudah sulit diperoleh di wilayah ini dan mulai dibeli dari kecamatan lain dengan harga sekitar Rp50ribu per mobil hingga kini sudah mencapai Rp300ribu permobil, tanah kami di sini sudah habis dan jenisnya sudah tak bagus untuk membuat batiu bata dan genteng,"ungkap Ranto saat ditemui media Cendana News di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas sedang melakukan proses penjemuran batu bata, Minggu (7/8/2016).

Meski bahan baku tanah untuk proses pembuatan batu bata sukar diperoleh dan saat ini harga batu bata naik, namun Ranto mengakui rata rata pengrajin batu bata sepanjang awal bulan Agustus tidak memiliki stok bata cukup untuk dijual. Ia bahkan mengaku harga batu bata di sepanjang bulan Juni-Juni tahun ini hanya mencapai kisaran Rp310-Rp330ribu per seribu bata sampai di tempat namun sejak bulan Agustus harga batu bata sudah mencapai RpRp380ribu hingga sampai di tempat pembeli. Meski harga mulai merangkak naik ia mengaku sama sekali tidak memiliki stok bata siap jual karena sebagian besar batu bata miliknya masih dalam tahap penjemuran.

Serupa dengan Ranto, pengrajin batu bata lain, Sukimin (40) mengungkapkan saat ini tidak memiliki stok batu bata akibat sebagian besar batu bata miliknya sudah habis terjual semenjak akhir bulan Juli. Selain itu kecepatan pembuatan batu bata yang dilakukannya dengan teknik manual membuat ia tidak bisa membuat batu bata dalam jumlah banyak. 

Dibantu sang isteri dalam sehari ia mengaku dengan cetakan batu bata sebanyak 8 lubang dirinya hanya bisa membuat batu bata sebanyak 500 buah perhari. Lamanya proses pengeringan dan pembakaran batu bata diakuinya tidak sebanding dengan besarnya permintaan akan bahan bangunan tersebut.

Sukimin bahkan mengaku pada bulan Juli ia mampu menjual batu bata dengan jumlah mencapai 16.000 buah yang banyak dibeli oleh warga di sekitar lokasi terdampak tol Sumatera. Sebagian pembeli merupakan warga yang rumahnya terimbas tol sehingga terpaksa membuat rumah baru di lokasi lain. Akibatnya stok batu bata merah milik sebagian pengrajin di wilayah Kecamatan Palas laris manis terjual. Sebagian harus melakukan pembuatan batu bata hingga lembur saat malam hari untuk memenuhi permintaan batu bata yang meningkat.

"Sebagian pembeli akhirnya membeli ke wilayah kecamatan lain diantaranya di Kecamatan Tanjungan yang sebagian pengrajinnya menggunakan tekhnik pembuatan dengan mesin, sementara di sini pengrajin dengan mesin hampir belum ada karena keterbatasan modal,"ungkap Sukimin.

Kondisi tersebut menguntungkan 'broker' atau makelar penjualan batu bata yang biasa menawarkan batu bata kepada konsumen yang membutuhkan. Salah satu makelar tersebut diantaranya, Winarso (30) yang menawarkan batu bata ke wilayah lain dengan cara membawa contoh batu bata yang dibuat sebanyak 2 buah. Batu bata yang ditawarkan olehnya selanjutnya akan dilihat oleh konsumen di lokasi pembuatan batu bata dan saat terjadi kesepakatan harga, sang makelar akan mendapat presentase dari harga penjualan yang dilakukan oleh pemilik batu bata.

Winarso mengaku, saat ini bisnis penjualan sedang bergairah dengan semakin banyaknya warga di Lampung Selatan yang membuat rumah dan sekaligus banyaknya proyek pemerintah dan swasta dalam membuat bangunan baru. Sebagian proyek pembanguan perumahan memanfaatkan batu bata yang berasal dari wilayah Palas dan Tanjungan. Ia bahkan harus pandai pandai bernegosiasi dengan pengembang untuk bisa memasok yang diperlukan untuk pembuatan bangunan. Selain itu kepada konsumen perseorangan ia menawarkan dari rumah ke rumah batu bata milik pengrajin yang akan dijualnya.

"Kalau ada kesepakatan harga saya segera menghubungi pemilik bata siap jual dan saya juga akan mencari tenaga kerja untuk muat dan bongkar batu bata sampai di tempat konsumen yang membutuhkan,"ungkapnya.

Selain batu bata dirinya mengaku menjadi perantara jual beli genteng. Harga bahan baku tanah liat membuat harga genteng dan batu bata merangkak naik selain adanya faktor permintaan yang tinggi dari konsumen. Namun ia juga mengakui saat ini stok barang milik pengrajin dari wilayah Palas cukup terbatas. Akibatnya ia harus banyak melakukan negosiasi dengan beberapa pengrajin batu bata dan genteng di wilayah Tanjungan yang banyak menggunakan mesin. Harga batu bata dengan pembuatan mesin diakuinya cukup mahal bisa mencapai Rp400ribu hingga sampai di konsumen. Meski demikian kualitas dan kekuatan batu bata hasil cetakan mesin yang dijualnya memiliki kualitas cukup baik karena dicetak dengan sistem press.


Ia berharap harga batu bata dan genteng yang sedang bagus diimbangi dengan banyaknya permintaan serta stok yang mencukupi. Sebab ia mengakui dengan kondisi stok terbatas namun harganya mahal maka belum bisa memberi keuntungan bagi pengrajin batu bata serta makelar seperti dirinya. Kondisi cuaca yang cukup bagus dengan jarangnya terjadi hujan membuat proses pengeringan batu bata memerlukan proses yang cepat. Namun kendala permodalan dari beberapa pengrajin batu bata untuk membeli kayu bakar menjadi faktor lambatnya proses pembakaran batu bata yang menjadi penyebab tersendatnya pasokan batu bata. Saat ini ia melihat konsumen lebih banyak membeli batu bata langsung ke pengrajin dibanding membeli batu bata di toko bangunan yang harganya bisa lebih mahal.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: