JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Drs. Suryamin saat jumpa pers dengan media cetak maupun media elektronik di Kantor BPS Pusat, Jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat pagi (19/8/2016) menjelaskan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi secara langsung terhadap adanya perbaikan tingkat ketimpangan atau Gini Ratio terhadap pengeluaran selama periode bulan Maret 2015 hingga bulan Maret 2016.

Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat seusai acara jumpa pers di kantornya
Faktor pertama yang mempengaruhi perbaikan Gini Ratio adalah terjadinya kenaikan upah buruh tani harian dari sebelumnya Rp. 46.180 pada bulan Maret 2015 menjadi Rp. 47.559 pada bulan Maret 2016, atau mengalami kenaikan sebesar 2,99 % pada periode bulan Maret 2015 hingga bulan Maret 2016.

Kemudian faktor kedua yang mempengaruhi perbaikan Gini Ratio adalah terjadinya kenaikan upah buruh bangunan dari Rp. 79.657 pada bulan Maret 2015 menjadi Rp. 81.481 pada bulan Maret 2016 atau mengalami kenaikan sebesar 2,29 % pada periode bulan Maret 2015 hingga bulan Maret 2016.

Kemudian berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) telah terjadi peningkatan jumlah pekerja bebas pertanian dari sebelumnya 5,1 juta orang pada bulan Februari 2015 meningkat menjadi 5,2 juta orang pada bulan Februari 2016. Sejalan dengan itu terjadi pula peningkatan jumlah pekerja bebas yang bukan sektor pertanian dari 6,8 juta orang bulan Februari 2015 meningkat menjadi 7,0 juta orang bulan Februari 2016.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perbaikan tingkat ketimpangan Gini Ratio
Sedangkan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk 40 % terbawah mengalami peningkatan dari Rp 371,336 pada bulan Maret 2015 menjadi Rp. 416,489 pada bulan September 2015 dan kembali mengalami peningkatan menjadi Rp. 423.969 pada bulan Maret 2016.

Terkait dengan kenaikan pengeluaran yang merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah tidak terlepas dari upaya pembangunan infrastruktur padat karya, bantuan sosial antara lain bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, kemudian adanya perbaikan pendapatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan bawah.

Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat mengatakan "penurunan angka Gini Ratio tersebut kemungkinan besar terkait dengan menguatnya perekonomian penduduk kelas menengah ke bawah atau 40 % dampak sebagai dari pembangunan infrastruktur, dimana pengembangan usah lebih kondusif di sektor industri, perdagangan dan jasa, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi perbaikan tingkat ketimpangan Gini Ratio Indonesia hingga bulan Maret 2016" katanya sat jumpa pers di kantonya, Jumat pagi (19/8/2016).(Eko Sulestyono)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: