SELASA, 9 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Belum adanya angkutan umum di Desa Pinggir Papas dan Karanganyar, Kecmatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur membuat anak-anak yang menempuh pendidikan keluar desa merasa kebingungan. Sehingga mereka memanfaatkan roda tiga untuk dijadikan alat transportasi berangkat dan pulang sekolah.

Sejumlah siswa sedang pulang dari sekolah dengan naik roda tiga
Dengan adanya roda tiga menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi siswa di dua desa yang berlokasi di sekitar areal PT. Garam, karena sejak dulu biasanya para siswa ketika pergi ke sekolah harus berjalan kaki. Tetapi bagi mereka yang memiliki sepeda onthel bisa menempuh waktu lebih cepat, sehingga mereka yang berjalan kaki biasanya sambil menunggu orang melintas yang membawa kendaraan untuk bisa ikut berboncen ke tempat ia menempuh pendidikan.

"Jadi roda tiga itu memang dijadikan kendaraan alternatif bagi para siswa disini yang menempuh pendidikan di luar desa. Karena sejak dulu di daerah ini memang tidak angkutan, sehingga mereka yang ingin pergi ke sekolah merasa kesulitan untuk mendapatkan alat transportasi, kecuali orang tua siswa itu memiliki kendaraan, sehingga anaknya bisa diantar," kata Syamsuri (30), salah seorang warga setempat, Selasa (9/8/2016).

Para siswa dari dua desa yang menggunakan angkutan kendaraan roda tiga
Disebutkan, bahwa pemilik kendaraan roda tiga biasanya mematok harga Rp. 30.000 per orang dalam setiap bulannya, mereka setiap hari mengangkut pulang pergi kurang lebih sebanyak 10 orang setiap kendaraan. Itupun pemilik kendaraan roda tiga tersebut melakukan kesapatan dengan para wali murid yang ingin menyewa jasanya.

"Maka adanya roda tiga ini sangat bermanfaat bagi para siswa di dua desa ini, karena mereka tidak lagi berjalan kaki setiap pergi dan pulang sekolah. Hal ini memang sudah terjadi waktu saya masih sekolah, kalau waktu itu kan belum ada angkutan roda tiga, jadi yang tidak memiliki sepeda onthel kita harus berjalan dengan jarak sekitar 3 Kilometer, itupun pulang pergi," jelasnya.

Padahal di dua desa tersebut merupakan daerah dampak perusahaan milik negara, yaitu PT. Garam. Namun sayang sampai sekarang pihak perusahaan maupun pemerintah belum bisa menyediakan angkutan sekolah bagi para siswa yang ada di daerah ini. (M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: