SENIN, 22 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimbau kepada seluruh Kepala Daerah di suatu daerah agar lebih pro kepada upaya-upaya penanggulangan bencana. Hal demikian, karena dari 500 Kabupaten/Kota di Indonesia tidak ada yang terbebas dari ancaman bencana. 

Lilik Kurniawan, Direktur Direktorat Pengurangan Bencana BNPB
Direktur Direktorat Pengurangan Resiko Bencana BNPB, Lilik Kurniawan, mengatakan hal itu usai membuka Sekolah Sungai bagi 40 peserta dari berbagai daerah di Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Senin (22/8/2016). Kepada awak media, Lilik menjelaskan perlunya keberpihakan Kepala Daerah dalam upaya pengurangan bencana, karena bencana merupakan masalah yang multisektor.

Apalagi, katanya, dari 500 Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia tidak ada yang luput dari ancaman bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, gempa dan letusan gunung berapi, sehingga keberpihakan kepala daerah dalam pengurangan resiko bencana sangat dibutuhkan. 

"Ada 12 ancaman bencana di Indonesia, dan hampir 80 Persennya merupakan bencana hidrologi seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan", ungkapnya. 

Lilik mengatakan, sesuai Undang-undang Dasar 1945, negara berkewajiban melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Tidak hanya melindungi dari ancaman perang, namun juga dari segala ancaman termasuk bencana yang nyata ada di depan mata.

Sekolah Sungai di Sekolah Vokasi UGM
Untuk itu, BNPB telah melakukan berbagai upaya pengurangan resiko bencana secara berkesinambungan dengan menitik-beratkan kepada keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai, yang seringkali menjadi sumber bencana. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui program Sekolah Sungai, yang membekali warga dengan berbagai pengetahuan tentang langkah-langkah pengurangan resiko bencana.

Melalui Sekolah Sungai, kata Lilik, upaya pengurangan resiko bencana dilakukan dengan merubah kultur masyarakat agar memiliki kepedulian untuk menjaga kebersihan sungai, baik yang ada di hulu maupun di hilir. Ditargetkan, dalam satu tahun ini Sekolah Sungai mampu melahirkan 1.000 relawan di satu Kabupaten/Kota.

Sementara hingga saat ini, Sekolah Sungai telah ada di 15 Kabupaten/Kota, sehingga jika target tersebut tercapai, akan ada 15.000 relawan sungai. Dengan jumlah relawan sebanyak itu, kata Lilik, pasti akan memberi dampak positif bagi kelestarian dan kebersihan sungai. 

"Peran masyarakat menjadi sangat penting dalam pengurangan resiko bencana, karena masyarakatlah yang selalu berada di sekitar sungai" pungkasnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: