JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

PONTIANAK --- Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, dalam beberapa minggu terakhir titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat meningkat secara signifikan. Satelit Modis dari NASA mendeteksi 158 hotspot pada Jumat pagi 19 Agustus 2016. Sebelumnya pada 18/8/2016, jumlah hotspot di sebanyak 106 hotspot.


"Untuk mengatasi hotspot kebakaran hutan dan lahan yang meluas, Gubernur Kalimantan Barat telah mengajukan surat permintaan kepada BNPB agar dibantu helikopter water bombing, hujan buatan dan helikopter patroli pada 16 Agustus lalu," ujar Sutopo, dalam surat siaran pers rilisnya yang diterima di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (19/8/2016).

Disebutkan, BNPB menyiapkan 2 helikopter water bombing. Perijinan terbang ke Kementerian Perhubungan masih diproses. BPPB juga menyiapkan pesawat terbang Casa TNI AU dan bahan semai untuk hujan buatan. Diperkirakan hujan buatan dapat dilakukan minggu depan.

Keterbatasan pesawat terbang menyebabkan operasi hujan buatan seringkali terkendala. Untuk mengcover wilayah Kalimantan yang luas diperlukan pesawat Hercules C-130 yang mampu menjelajah luas dan membawa bahan semai 8 ton untuk hujan buatan.

Dijelaskan, jumlah hotspot fluktuatif setiap harinya. Kebakaran hutan dan lahan di Riau masih terjadi di beberapa tempat. Pantauan satelit menunjukkan sebaran asap atau gas CO2 menyebar hingga Selat Malaka. Namun demikian belum mempengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapore. Indeks Standar Pencemaran Udara di Malaysia dan Singapore masih baik.

Pemantauan satelit Modis dari Lapan terdapat 339 hotspot pada Jumat pagi (19/8/2016) yaitu 218 hotspot untuk hotspot dengan tingkat kepercayaan Sedang (30 - 79 persen) dan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan Tinggi (80 - 100 persen).

Sementara itu, berdasarkan pantauan di sejumlah wilayah di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, kabut asap terlihat menyelimuti. Debu-debu sisa kebakaran lahan terlihat berterbangan dan jatuh ke tanah. Kabut asap ini begitu menyengat. Di sejumlah ruas jalan utama di wilayah ini terlihat sejumlah kendaraan melambatkan laju kendaraan. Karena ditakutkan berbahaya jika memacu kendaraan. Sebab, jarak pandang agak terbatas.
[Aceng Mukaram]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: