JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat baru saja merilis laporan terkait dengan perkembangan Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia atau Gini Ratio. Hingga bulan Maret 2016, Gini Ratio tercatat cenderung mengalami penurunan sebesar 0,397, angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan Gini Ratio pada bulan Maret 2015 tercatat sebesar 0,408, sedangkan pada bulan September 2015 tercatat sebesar 0,402.

Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat (tengah)
Sementara itu, pengertian dengan adanya perkembangan Gini Ratio yang angkanya cenderung menurun, maka berarti indikatornya menunjukkan terjadinya perbaikan pemerataan pendapatan masyarakat di seluruh Indonesia, khususnya antara periode bulan Maret 2015 hingga Maret 2016.

BPS Pusat menggunakan beberapa metode untuk melakukan perhitungan   untuk mengukur kesenjangan atau ketimpangan penduduk dengan menggunakan Gini Ratio dan Distribusi menurut Bank Dunia (World Bank). Koefisiensi Gini Ratio berdasarkan kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari nilai pengeluaran konsumsi dengan distribusi uniform (beragam) yang mewakili prosentase kumulatif penduduk.


"Pada bulan Maret 2016, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di Indonesia yang diukur dengan Gini Ratio adalah 0,397, angka tersebut cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Gini Ratio bulan Maret 2015 yang tercatat sebesar 0,408, sedangkan Gini Ratio bulan September 2015 yang tercatat sebesar 0,402" demikian dikatakan Kepala BPS Pusat Drs. Suryamin.

Drs. Suryamin mengatakan "selama periode bulan Maret 2016, distribusi pengeluaran dari kelompok penduduk 40 %palin bawah masih dalam kategori ketimpangan rendah, namun distribusinya semakin menurun, yaitu dari 17,10 % pada bulan Maret 2015 dan 17,45 % pada bulan September 2015 menjadi 17,02 pada bulan Maret 2016" katanya saat jumpa pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta Pusat.
(Eko Sulestyono)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: