KAMIS, 25 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Sejumlah aktivis mahasiswa Kabupaten Sumenep, Jawa Timur melakukan aksi unjukrasa di depan kantor pemerintah daerah setempat, Kamis (25/8/2016). Mereka menuntut adanya transparansi Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak Gas (Migas) perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut, karena jika tertutup akan dapat mengancam terhadap kesejahteraan masyarakat yang menjadi dampak eksplorasi dan eksploitasi.


Sejak dulu keberadaan Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas (Migas) memang kesannya sangat tertutup, sehingga masyarakat merasa kesulitan untuk mengetahui dana bagi hasil dari kerukan Minyak dan Gas (Migas) di daerah ujung timur Pulau Madura ini. Masih banyak masyarakat yang menjadi dampak dari perusahaan tersebut hidup dibawah garis kemiskinan.

“Kami melihat masih banyak warga yang menjadi dampak dari perusahaan itu hidupnya tidak layak, padahal kekayaan yang dikeruk dari daerah ini cukup banyak. Sehingga keberadaan Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas (Migas) larinya kemana, makanya harus transparan seberapa banyak dana bagi hasil tersebut diperoleh oleh daerah, jangan tertutp kayak ini, masyarakat punya hak untuh mengetahui,” kata Hazmi, kordinator aksi unjurasa, Kamis (25/8/2016).

Disebutkan, dengan banyaknya perusahaan Minyak dan Gas (Migas) yang beroperasi di daerah ini belum mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang menjadi daerah dampak. Selain banyaknya kemiskinan, ketersediaan infrastruktur cukup minim, sehingga masyarakat selalu bertanya-tanya kemana saja dana bagi hasil tersebut. Ketika dibandingkan dengan kekayaan yang dikeruk sangat tidak sebanding dengan perubahan perekonomian masyarakat setempat.

“Ini sungguh tidak adil, banyak masyarakat yang tinggal di daerah dampak harus bekerja ke daerah lain, maupun luar negeri untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Jadi apa dampak dari banyaknya perusahaan Migas di daerah ini, bukan menambah kesejahteraan, melainkan semakin menyengsarakan,” jelasnya.

Sedangkan kekayaan Minyak dan Gas (Migas) yang berada blok malio di perairan Desa Gili Raja yang dikelola PT Santos menghasilkan gas sebanyak 100.000 kaki kubik per hari, ditambah diperaian Kangean sebanyak 1500 barel minyak mentah per hari yang dikelola PT Kangean Energi Indonesia (KEI). Namun sayang kekayaan yang dikeruk itu rupanya masih belum bisa mampu mendongkrak perubahan terhadap kesejahteraan masyarakat.

Meskipun hanya bertiga dengan mengendarai becak dan membawa jerigen bertuliskan ‘Migas Memiskinkan Rakyat’, aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Melawan Korupsi (Gramsi) pantang menyerah untuk mendesak pemerintah agar memperjelas keberadaan dana bagi hasil tersebut, sebab yang akan menjadi korban adalah masyarakat yang tinggal di daerah dampak dimana perusahaan Minyak dan Gas Beroperasi.

Sementara, Heri Koentjoro Pribadi, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Pemerintah Kabupaten Sumenep, usai menemui para pendemo menghindar dari sejumlah wartawan yang hendak melakukan konfirmasi terkait demo mahasiswa tersebut dengan alasan terburu-buru sedang ada rapat.
[M. Fahrul]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: