RABU, 3 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Tatanan Rumah Sakit dituntut tidak hanya memberi pelayanan kesehatan kepada pasien, namun juga harus bertanggung-jawab membuat kebijakan dan sistem pelayanan yang mendukung upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan, terlebih di era Jaminan Kesehatan Nasional.

Demikian diungkapkan Menteri Kesehatan RI, Prof. DR. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K) saat membuka Konferensi Nasional Promosi Kesehatan Rumah Sakit (Health Promoting Hospital/HPH) dan Konferensi Asia Global Green and Healthy Hospital di Yogyakarta, Rabu (3/8/2016). Dalam sambutannya, Nila menegaskan, sejak dua dekade ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan inisiatif agar rumah sakit memberikan penekanan lebih besar terhadap upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dan tidak hanya fokus kepada pelayanan kuratif semata.

Sejak tahun 1993, kata Nila, sebanyak 20 rumah sakit dari 11 negara di Eropa telah berpartisipasi sebagai pilot projek HPH WHO. Sementara itu, revitalisasi promosi kesehatan rumah sakit di Indonesia telah dimulai sejak 2006. Dua rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah R Syamsudin, SH di Sukabumi, Jawa Barat dan Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo dipilih sebagai pilot projeknya.

Nila mengatakan, promosi kesehatan rumah sakit menjadi penting karena sejak tahun 2012 menjadi salah satu unsur penilaian standar akreditasi rumah sakit berskala internasional (Joint Commision International/CJI). 

"Artinya, promosi kesehatan rumah sakit menjadi bagian integral dari mutu layanan rumah sakit" ujarnya.

Selain itu, lanjut Nila, di era Jaminan Kesehatan Nasional, promosi kesehatan rumah sakit menjadi sangat penting dilakukan secara berkesinambungan, guna mencegah atau mengurangi jumlah kasus kejadian pasien dirawat kembali (read mission) di rumah sakit. Read mission, kata Nila, menjadi salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit. Karenanya, promosi kesehatan rumah sakit juga bisa menjadi solusi meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit melalui penguatan pendidikan pasien dan pemberdayaan keluarga, sehingga bisa menekan jumlah read mission di rumah sakit. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: