RABU, 10 AGUSTUS 2016

SOLO --- Diperingatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional  (HKTN), menjadi ajang  untuk menunjukkan berbagai kemajuan di bidang teknologi.  Selain di bidang pertanian, teknologi nuklir juga terus dikembangkan oleh ilmuwan dunia khususnya di bidang kesehatan.  Salah satunya sebagai alat pembasmi sel  kanker, yang jauh lebih efektif dibanding dengan metode pengobatan pasa umumnya, seperti kemoterapi yang justru banyak menimbulkan effek samping.

Agus Puji Prasetyo Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas,
“Banyak sekali manfaat teknologi nuklir untuk kesehatan, di symposium ini lebih menekankan kepada penanganan penyakit kanker,” papar Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman disela-sela Symposium Internasional Penerapan Teknologi Nuklir, yang di gelar di Pendapi Gedhe, Balaikota Solo, Rabu siang (10/8/16).

Pengembangan teknologi nuklir untuk penyakit kanker ini telah dilakukan oleh ilmuwan di Japan dan sejumlah Negara maju lainnya. Dengan menggunakan alat Baron Neutron Cancer Therapy (BNCT), dapat membasmi sel kanker dengan sangat efektif dan tanpa merusak sel yang tidak rusak. “Sistem kerja BNCT ini on target, tidak merusak sel kanker yang tidak rusak. Alat ini untuk terapi kanker dan dapat melihat lebih dalam kanker yang ada di tubuh kita,” lanjutnya.

Menurut Rosman, saat ini Indonesia tertinggal jauh dalam hal pemanfaatan teknologi nuklir untuk bidang kesehatan. Untuk tindakan medis, Indonesia sejauh ini juga masih ketergantungan pengembangan teknologi nuklir dengan luar negeri.


“Oleh karena itu kita hari ini mencoba mengejar ketertinggalan di bidang nuklir. Sudah saatnya Indonesia mengambil peran aktif dalam dunia kesehatan, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi nuklir,” tekannya.

Guna mengejar ketertinggalan, Kimia Farma saat ini telah membentuk Akademisi, Bisnis, Government dan Cociety (ABGC). Dimana ABGC ini bekerjasama dengan sejumlah Universitas  ternama di Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan beberapa ilmuwan di sejumlah Negara di dunia. “Ini dalam kaitannya untuk percepatan implementasi teknologi nuklir di bidang kesehatan yang ada di Indonesia. Kita bersama mejukan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi nuklir, ” imbuhnya.

Indonesia Serius Kembangkan Energy Nuklir

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas, Agus Puji Prasetyo menambahkan, Pemerintah Indonesia semakin serius mengembangkan pemanfaatan energi nuklir. Pemenataan teknologi nuklir agar dapat dikembangkan di bidang kesehatan, pertanian, energi dan lingkungan hidup.


“Symposium ini kita harapkan memberi manfaat, baik bagi peneliti, perekayasa dari berbagai belahan dunia untuk saling tukar pengetahuan, guna menemukan solusi bagi masalah kesehatan dunia. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi antara Pemerintah, Akademisi, Pebisnis serta Mahasiswa agar penelitian energi nuklir bisa menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tandasnya.

Dijelaskan Agus, pengembangan teknologi nuklir untuk pengobatan  penyakit kanker yang telah dikembangkan negara maju tak dapat dipungkiri. Sebab, Indonesia dengan jumlah populasi yang hampir sepertiga dunia rawan akan adanya penyakit mematikan ke dua setelah jantung tersebut. Namun, sayangnya upaya penemuan alat pembasmi kanker seperti BCNT masih menemui jalan buntu. 

Sementara proses penyembuhan penyakit kanker dengan  menggunakan metode konvensional seperti kemoterapy, justru menyebabkan efek samping yang merusak sel-sel hingga mengakibatkan kerontokan rambut kepala.

“Ini menjadi alasan kuat kenapa Indonesia harus bergerak cepat dalam pemanfaatan teknologi nuklir. Dengan menggunakan BNCT, kita tidak perlu membunuh sel yang tidak terkena kanker, karena alat ini hanya membunuh sel yang terserang kanker saja. Yakni dengan cara mengikatkan boron pada sel kanker dan jika baron itu ditembak dengan neutron makan baron akan mengeluarkan sinar alpha yang akan merusak sel kanker pada area yang sangat kecil. Area yang tidak terkena sinar tidak akan terdampak,” ungkapnya.

Keunggulan teknologi nuklir melalui BNCT ini adalah membunuh sel kanker hanya dalam satu kali terapi. Dan inilah yang membuat metode penyembuhan penyakit kanker dengan metode BNCT berbeda dengan metode kesehatan lainnya. 

“Dengan hadirnya peneliti dari Japan yang sudah mengembangkan teknologi BNCT ini diharapkan dapat dikembangkan di Indonesia,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: