RABU, 3 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Kejadian unik dan aneh dialami oleh keluarga Waluyo (62), warga Kampung Suryoputran PB 3 /43 Panembahan, Kraton. Waluyo yang telah dianggap meninggal dunia dan dimakamkan oleh keluarganya sejak setahun lalu, tiba-tiba kembali ke rumah. Tak ayal, keluarga dan warga juga masyarakat luas dibuatnya gempar.

Waluyo
Entah, misteri besar apa yang dibawa Waluyo, warga Kampung Suryoputran yang telah diyakini meninggal dan dimakamkan di desa asalnya, Canden, Jetis, Bantul, pada 7 Mei 2015 itu. Kedatangannya secara tiba-tiba setelah dianggap mati itu membuat heran warga. Putri sulung Waluyo, Anti Ristanti, saat ditemui Rabu (3/8/2016) mengaku kaget ketika mendengar kabar jika ayahnya yang sudah meninggal itu kembali ke rumah.

Anti mengisahkan, sejak Januari 2015 ayahnya itu pergi meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai penarik becak. Keluarga sudah maklum, jika sang ayah bernama Waluyo itu tidak pulang dalam waktu berbulan-bulan, karena penghasilannya sebagai penarik becak di luar kota tentu tidak akan cukup jika harus terlalu sering pulang ke rumah. Bahkan, kata Anti, ayahnya itu pernah tidak pulang selama 9 bulan.

Ketika Anti hendak menikah, ia sempat mencari ayahnya di sejumlah pangkalan becak, namun tidak ketemu. Lalu, pada bulan Mei 2015, Anti dan keluarga mendapat kabar jika ada korban tabrak lari di Wonosari, Gunungkidul. Keluarga kemudian mendatangi korban itu dan bersama pihak terkait memastikan identitasnya. Setelah yakin, keluarga pun sempat merawatnya di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama 6 hari.

Karena luka yang terlalu parah, Waluyo kemudian meninggal dunia. Jenazah Waluyo pun kemudian dimakamkan di tempat asalnya, Dusun Suren Kidul, Canden, Jetis, Bantul, pada 7 Mei 2015. Sesudah itu pun, keluarga juga mengurus berkas administrasi atau surat kematiannya. Tak dinyana, pada Selasa (2/8/2016), Waluyo tiba-tiba pulang ke rumah dan mengetuk pintu.

Anti Ristanti
Hingga kini, Anti mengaku masih tak habis pikir. Namun, Antik juga merasa bersyukur dan bertekad untuk merawat ayahnya yang sudah tua itu dan melarangnya untuk pergi jauh lagi. Anti mengatakan, beberapa hari sebelumnya ia memang merasa mendapat firasat akan ada peristiwa besar di keluarganya. 

"Di malam sebelum bapak pulang, anak saya tiba-tiba menangis keras dan panjang seperti kucing. Saat itu, saya yakin akan ada sesuatu yang terjadi", ungkapnya.

Sementara itu, Waluyo yang ditemui di hari yang sama mengatakan, selama setahun dianggap mati ia berada di Semarang, Jawa Tengah dan bekerja sebagai tukang sapu. Selama itu, katanya, ia tinggal di Kampung Pusponjolo, Gang III, Semarang. 

"Tapi, saya juga biasa tidur di emperan toko", ujarnya.

Waluyo juga mengatakan, tak ada alasan khusus mengapa ia selama ini tidak pulang. Menurutnya, ia hanya ingin pergi dan mencari pekerjaan. 

"Sudah biasa saya tidak pulang berbulan-bulan. Tapi, setelah kejadian ini saya tidak akan pergi lagi", pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: