SENIN, 8 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Polemik pasca relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) dari Taman Adipura ke Lapangan Kerapan Sapi Giling, Desa Panagarangan, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur tak kunjung berakhir. Pasalnya pemindahan tempat tersebut bukan hanya dikeluhkan oleh para pedagang akibat pendapatannya menurun, tetapi masyarakat sekitar yang ada di daerah itu juga mengeluh karena keberadaan pedagang itu menghambat aktifitas warga.

Pengalihan jalan di sekitar tempat relokasi PKL yang baru
Ketika pada saat sore hari para pedagang yang sudah mulai berjualan, warga yang tinggal di sekitar tempat itu tidak bisa melakukan aktifitas perjalan dengan menggunakan mobil. Karena sepanjang dimana para pedagang berjualan sedang ditutup, sehingga apabila ingin membawa pulang mobil ke rumahnya masih harus menunggu tengah malam ketika pintu akses masuk dibuka.

“Sejak pedagang dipindah kesini warga yang tinggal di sekitar lokasi ini merasa kesulitan melakukan aktifitas, apalagi ditambah kondisi jalan yang macet. Sehingga warga sekitar tempat ini sering mengeluh, karena di tempat ini masih areal pemukiman warga yang selalu keluar masuk melaksakan aktifitas,” kata Khairul, salah seorang warga setempat, Senin (8/8/2016).

Disebutkan, bahwa sejak awal ia tidak pernah diberitahu dengan pihak terkait bahwa akan ada pemindahan pedagang yang akan ditempatkan di depan rumahnya, namun secara tiba-tiba sudah banyak perdagang yang berjualan. Sehingga ketika mereka ingin melakukan aktifitas keluar ingin masuk dari rumahnya mulai merasa tidak nyaman, karena di depan halaman rumah selalu padat dan antri dengan pengedara yang melintas.

Suasana pedagang berjualan di tempat yang baru pasca direlokasi.
“Jadi kalau sore hari disini pasti ramai, sehingga orang yang biasa lewat disini untuk mengantar anaknya mengikuti kursus sering mengeluh, karena membutuhkan waktu lama ketika sedang macet untuk bisa keluar dari jalan ini. Tetapi kalau saya pada saat sudah banyak pedagang yang berjualan tidak bisa keluar masuk membawa mobil, sebab tidak ada jalan alternatif lain yang bisa dilewati. Jelas ketika seperti ini menganggu terhadap aktifitas warga,” jelasnya.

Bahkan dengan menumpuknya para pedagang yang ada di depan rumahnya juga telah mematikan usaha warung makan yang selama ini ia jalankan, sebab warung yang berada di halaman rumah tersebut tertutupi oleh kios para pedagang. Sehingga para konsumen yang ingim membeli merasa kesulitan melewati deretan kios yang berada di tempat usahanya.

“Kami berharap pemerintah segera mencari solusi permasalahan ini, supaya tidak terus menerus ada yang dirugikan. Sebab kasian warga yang ada disekitar lokasi ini, mereka kan juga butuh kelancaran beraktifitas,” pungkasnya. (M. Fahrul)  
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: