SENIN, 28 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Dinas Peternakan (Disternak) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur meminta masyarakat tidak menyembeli sapi betina produktif untuk kebutuhan kurban pada saat hari raya Idhul Adha. Pasalnya penyembelihan terhadap sapi betina tersebut sudah diatur oleh Undang-Undang, sehingga apabila ada warga yang memaksakan diri tetap menyembelih hewan yang dilarang tersebut akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Suasana sapi di pasar ternak Kabupaten Sumenep
Oleh karena itu, menjelang hari raya Idhul Adha ini pihak terkait telah mengeluarkan larangan kepada masyarakat memotong sapi betina produktif untuk dijadikan kurban. Karena berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam Pasal 18, tertuang bahwa sapi betina produktif tidak boleh dipotong, sehingga dengan itu diharapakan masyarakat untuk mematuhi agar tidak terjerat sanksi sesuai yang ada di Undang-Undang tersebut.

“Kami meminta masyarakat mematuhi Undang-Undang yang berlaku, apabila ada larangan mengenai larangan untuk memotong sapi betina produktif harus di ikuti. Karena jika tidak, mereka akan menerima konsekwensinya, yaitu dijatuhi sanksi hukuman,” kata Arief Rudi, Kepala Dinas Peternakan (Disternak) Kabupaten Sumenep, Senin (29/8/2016).

Disebutkan, bahwa akan jelas dalam Undang-Undang tersebut, siapaun yang memotong sapi produktif sesuai Pasal 86, bagi pemotong ternak ruminansia kecil betina produktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat 4 dipidana dengan pidana kurungan paling 1 bulan dan paling lama 6 bulan. Selain itu pelaku juga denda paling sedikit Rp.1.000.000 dan paling banyak Rp. 5.000.000.


“Jadi itu sudah sangat jelas diatur dalam Undang-Undang, makanya jangan sampai mengabaikan Undang-Undang tersebut agar tidak dijatuhi sanksi. Makanya lebih baik cari sapi yang sudah tidak produktif kalau ingin dipotong,” jelasnya.

Selain sapi betina produktif kecil, dalam Undang-Undang tersebut juga mengatur mengenai ternak ruminansia besar betina produktif, hal itu tertuang dalam Pasal 18 ayat 4, yaitu dipidana dengan penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun. Kemudian dengan denda paling sedikit Rp. 100.000.000 dan paling banyak Rp. 300.000.000. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: