SENIN, 29 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Ibu Rumah Tangga (IRT) di dua kecamatan di Lampung Selatan dalam beberapa minggu terakhir mulai mengalami kesulitan memperoleh tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram atau dikenal dengan tabung gas melon. Beberapa ibu rumah tangga bahkan terpaksa kembali ke rumah akibat habisnya stok tabung elpiji ukuran 3 kilogram di sejumlah warung tradisional yang biasanya menyiapkan bahan bakar untuk keperluan memasak tersebut.


Sumini (35), salah satu IRT di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas mengaku sejak pagi sudah kehabisan gas elpiji untuk memasak namun setelah membeli di warung tanpa ada stok dirinya terpaksa memasak menggunakan tungku. Beruntung dirinya masih bisa menggunakan listrik untuk menanak nasi yang membuatnya bisa menyiapkan sarapan bagi suami dan anaknya. Ia berencana membeli di SPBU Desa Kekiling sekalian membeli premium untuk bahan bakar kendaraan roda dua miliknya.

“Setelah saya tanyakan ke warung sepertinya pasokan yang berkurang memang merata di sejumlah warung lain juga sudah kosong sambil menunggu pasokan dari pedagang pengecer yang mengirim menggunakan kendaraan roda empat” ungkap Sumini saat berbincang dengan media Cendana News, Senin (29/8/2016)

Sumini mengaku saat membeli tabung elpiji ukuran 3 kilogram sebelumnya masih seharga Rp19ribu namun saat ini sejumlah warung telah menjual gas elpiji ukuran 3 kilogram dengan harga mencapai Rp22ribu hingga Rp23ribu. Bahkan, di wilayah pedalaman bisa mencapai Rp25ribu per tabung. Kenaikan harga yang mendadak naik tersebut sempat membuatnya terkejut karena berdasarkan alasan pedagang di warung kenaikan sudah terjadi di tingkat pengecer.

Terkait kenaikan harga dan langkanya elpiji di sejumlah warung hal serupa diakui oleh pengecer tabung elpiji 3 kilogram yang memasok ke pasar Pasuruan. Salah satu pemasok tabung elpiji ukuran 3 kilogram, Rahmad, mengakui sejak satu bulan terakhir, pasokan gas elpiji 3 kilogram (kg) disejumlah pangkalan diwilayah Kecamatan Palas dan Kecamatan Penengahan berkurang. Pengurangan pasokan gas elpiji 3 kilogram berdampak terhadap kenaikan harga gas elpiji ditingkat pengecer. Ia bahkan harus menjatah setiap pemilik kios sembako yang juga menyediakan gas elpiji 3 kg di wilayah yang dipasoknya agar warung lain juga kebagian. Ia mengungkapkan sebelum terjadi kelangkaan, ia mengirimkan pasokan gas dari agen sebanyak 30 tabung dan habis terjual dalam waktu tiga hari.


Pemilik kios, Siti, mengakui sejak berkurangnya pasokan gas 3 kg tersebut, jatah gas di kiosnya pun ikut berkurang. Bahkan harganya pun naik dari harga biasanya. Akibatnya ia mengungkapkan sulit mendapatkan pasokan tabung elpiji yang semula bisa dikirim sekitar 25-35 tabung, namun saat ini stok yang diminta sebanyak 15 tabung aja paling hanya bisa dipenuhi 10 tabung dengan kenaikan harga mencapai kisaran Rp3.000 per tabung.

Menurutnya, dengan berkurangnya pasokan gas elpiji ukuran 3 kg di pangkalan, secara langsung juga berdampak terhadap berkurangnya stok gas 3 kg yang dijualnya. Ia bahkan sebelumnya bisa menyetok gas mencapai 200 tabung untuk satu minggu, tapi sekarang paling hanya 100 tabung. Itu pun harus menunggu berminggu-minggu pengirimannya.

“Sebetulnya elpiji yang berasal dari agen ada bukan langka, hanya jumlahnya saja dibatasi. Jadi wajar saja kalau di kios-kios kecil sering kehabisan karena dapat jatahnya sedikit” terangnya.

Ia menerangkan selama ini sejak elpiji langka para pengecer gas elpiji juga kadang kesulitan untuk mencari gas elpiji 3 kg ke agen-agen resmi. Namun, tetap saja gas elpiji sulit diperoleh karena dibatasi. Kalau pun ada harganya naik antara Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per tabung.

“Pada saat pasokan masih normal, saya bisa menjual gas elpiji ke pengecer dengan harga antara Rp18 ribu sampai Rp19 ribu per tabung. Tapi untuk saat ini tidak bisa lagi. Kalau tetap jual harga lama, pasti kami rugi dan tidak bisa menutupi biaya operasional” katanya.

Ia berharap pemerintah atau instansi terkait bisa melakukan penertiban terkait tidak lancarnya distribusi tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram apalagi khusus di Lampung Selatan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) berada cukup dekat di Kecamatan Sidomulyo. Pedagang pengecer bahkan kuatir adanya aksi menimbun tabung elpiji mendekati hari raya Idhul Adha yang bisa menjadi alasan klasik kenaikan harga barang termasuk elpiji ukuran 3 kilogram.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: