SELASA, 16 AGUSTUS 2016

MATARAM --- Besarnya gelombang TKI ilegal asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dideportasi dari sejumlah negara tujuan membuat DPRD NTB prihatin dan menggelar pertemuan dengan sejumlah lembaga dan Instansi pemerintahan NTB, mulai dari Disnakertrans, Ombudsman RI, Imigrasi, BP3TKI dan aparat Kepolisian Polda NTB.


Dalam pertemuan tersebut selain membahas strategi menekan angka TKI ilegal dari NTB ke luar negeri, juga membahas penyebab banyaknya jumlah TKI ilegal asal NTB yang dideportasi.

Dari hasil pertemuan terungkap, bahwa selain kelengkapan dokumen dan over stay, kebanyakan TKI yang tadinya saat keberangkatan berstatus legal menjadi ilegal, karena faktor gaji tidak sesuai dijanjikan perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS).

"Kalau begitu, masalahnya bukan hanya pada TKI, tapi juga karena permainan PPTKIS yang memberangkatkan TKI, karena itu saya kira tidak ada kata ampun dan tindakan tegas harus diberikan kepada PPTKIS nakal yang mempermainkan TKI kita" kata Ketua Komisi lima DPRD NTB, Hj. Warti'ah di Mataram, Selasa (16/8/2016).

Ia mengatakan, bagaimana mungkin nilai gaji dan tempat kerja yang dijanjikan PPTKIS sewaktu kontrak di dalam negeri berbeda dengan jumlah dan tempat kerja saat di negara tujuan, ini jelas penipuan dan termasuk pelanggaran hukum.

"Disnakertrans NTB selaku yang bertanggung jawab atas keberadaan PPTKIS tersebut saya minta supaya menindak tegas dan kalau perlu mencabut izin operasional PPTKIS bersangkutan, supaya memberikan efek jera, ini tidak bisa ditolerir lagi" ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans NTB yang juga Ketua Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) TKI, Zainal menjelaskan, banyak pengakuan dari TKI ilegal yang dideportasi mengaku ditipu soal jumlah gaji dan penempatan kerja oleh PPTKIS

"Ada yang dijanjikan jumlah gaji lima juta di tanah air, tapi ketika di negara penempatan kerja malah berbeda, termasuk sola penempatan kerja yang tidak sesuai perjanjian" pungkasnya.(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: