MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Gambang Kromong Ratna Sari didirikan oleh (Alm) H. Kisam Dji'un (Bang Dji'un) pada tahun 1973. Selama tiga generasi grup musik kesenian tradisional Betawi ini tetap eksis hingga sekarang berada dibawah pengelolaan sekaligus kepemimpinan anak dari (Alm) H. Kisam Dji'un sendiri yaitu Sukirman atau akrab disapa Bang Ntong bersama puteranya Septian Ray Sukirman yang akrab disapa Ray.

Gambang Kromong Ratna Sari dalam penampilan puncak mengiringi tarian Lenggang Nyai di Taman Mini Indonesia Indah
Gambang Kromong merupakan sebuah kesenian Betawi yang biasanya mengiringi tari-tarian khas Betawi seperti Tari Topeng, Lenggang Nyai, Nandak Ganjen, Ronggeng Blantek, Kang Aji, Gegot, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri, karena Gambang Kromong yang dimainkan dengan alat musik pukul dari bahan kayu maka boleh dikatakan ia berakar dari seni tradisional Tiongkok kala itu. Namun begitu, walaupun memiliki latar belakang historis mengakar dari tradisi lintas benua namun pada akhirnya kesenian ini mampu melekat dalam kultur masyarakat Betawi hingga kini.

Gambang Kromong adalah kesatuan musikal khas Betawi yang terbentuk dari dua jenis alat musik yaitu perkusi dan melodi. Alat musik perkusi dalam Gambang Kromong biasanya terdiri dari gendang, kecrek, dan gong. Sedangkan peralatan musik melodinya antara lain Kongahyan, gambang, serta kromong. 

Sesuai namanya, maka Gambang Kromong diambil dari kata Gambang sejenis alat musik pukul terbuat dari kayu yang empuk serta sekilas menyerupai kolintang dari Sulawesi utara. Lalu Kromong adalah sejenis gamelan yang terbuat dari bahan perunggu.

"Nama Gambang Kromong itu salah satunya diambil dari dua alat musik melodi tersebut yaitu Gambang dan Kromong. Dan jangan sampai terlewatkan, untuk Gambang Kromong modern maka ditambahkan alat musik keyboard," kata Ray.

Permainan nada Pentatonik khas Gambang Kromong seakan bercerita bagaimana situasi masyarakat Betawi sejak dahulu kala hingga sekarang. Dan pada perkembangannya, lahir beragam ritmik unik yang jika dicermati cenderung ceria dengan tidak meninggalkan sisi sentimentil berikut eksotisme masyarakat berikut kebudayaan Betawi itu sendiri. Salah satu ritmik yang cukup khas dari kesenian Gambang Kromong adalah ritmik yang biasa mengiringi Kesenian Topeng Betawi.

Terkait Kesenian Topeng Betawi, jika ingin dihitung maka grup musik tradisional Betawi Gambang Kromong yang saat ini masih memiliki seniman-seniman Tari Topeng Betawi hanya tersisa di tiga tempat, yakni daerah Ciracas, Gandaria, serta Bekasi. Dan grup musik tradisional Betawi Gambang Kromong Ratna Sari yang berkedudukan di Jalan Raya Bogor, Ciracas adalah salah satunya.

Gambang (kiri) dan Kromong (kanan) dua alat musik asal kata dari Kesenian Gambang Kromong Khas Betawi
Kegiatan sehari-hari grup musik Gambang Kromong Ratna Sari dijalankan oleh Ray bersama 15 orang personil tetap. Ia menghimpun rekan-rekan muda sesama seniman yang punya talenta dalam memainkan kesenian Betawi Gambang Kromong. Mereka rata-rata adalah lulusan universitas-universitas di Jakarta seperti UNJ (Universitas Negeri Jakarta) serta IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Walau sudah bekerja di bidangnya masing-masing namun semua anggota pemusik di Gambang Kromong Ratna Sari tetap disiplin melakukan latihan maupun pementasan kesenian Gambang Kromong diberbagai kota dalam negeri seperti Bandung, Manado, dan lainnya. Bahkan Gambang Kromong Ratna Sari juga sudah mencicipi kesempatan menjadi duta budaya Indonesia ke mancanegara diantaranya Korea, Malaysia, dan Singapura.

Menurut Ray, untuk menjaga kekompakan personil-personilnya, maka sebagai motor penggerak grup ia menggunakan pendekatan secara kekeluargaan. Artinya semua dilakukan secara perlahan namun pasti arahnya, ditambah dengan saling menghargai diantara masing-masing anggotanya.

"Sulit menggabungkan isi kepala dari 15 orang yang berbeda, ditambah lagi kami semua berasal dari beragam etnis nusantara, salah satu contoh pemain Kromong berasal dari Madura dan pemain Gambang itu orang Batak, Sumatera utara. Akan tetapi seperti dikatakan sebelumnya, semua bisa diatasi jika duduk bersama seperti layaknya keluarga diikuti saling menghargai antara satu sama lain," ungkap Ray yang juga berprofesi sebagai seorang guru seni di SMK Negeri 57 Ragunan, Jakarta.

Ditangan Ray dan rekan-rekannya, Gambang Kromong Ratna Sari memasuki era modern dengan menambahkan alat musik keyboard serta gitar elektrik sebagai pendukung. Ini dilakukan karena tuntutan eksplorasi seni modern. Namun berangkat dari hal tersebut, ternyata Gambang Kromong yang hadir dalam ramuan modern justru membuat seni musik tradisi khas Betawi ini semakin digandrungi oleh para penikmatnya saat ini.

Akan tetapi dari pencapaian Gambang Kromong yang terbilang mendapat atensi positif dari masyarakat, agaknya bertolak belakang dengan keadaan Kesenian Topeng Betawi yang mulai terlupakan. Untuk itulah Ray bersama rekan-rekannya di Gambang Kromong Ratna Sari mengawali perjuangan mereka untuk menghidupkan kembali Kesenian Topeng Betawi dengan cara mereka sebagai seniman yakni terus memasukkan ritmik-ritmik kesenian Topeng Betawi dalam mengiringi lagu-lagu Betawi maupun tari-tarian Betawi.

"Kami sangat prihatin dengan keadaan Kesenian Topeng Betawi, menurut kami penyebab dari kemunduran tersebut adalah tersendatnya regenerasi dari Kesenian Topeng Betawi itu sendiri. Dasar pemikiran kami selalu memasukkan ritmik khas Topeng Betawi dalam setiap instrumen adalah agar orang-orang kembali akrab dengan alunan khas ritmik Topeng Betawi sehingga nantinya muncul kerinduan untuk menyaksikan kembali Kesenian Topeng Betawi," terang Ray.

Grup Musik Tradisi Betawi Gambang Kromong Ratna Sari dari Ciracas di Taman Mini Indonesia Indah (Ray bermain gendang)
Ungkap Ray lebih lanjut, bahkan sangat diharapkan bukan mendengarkan saja, akan tetapi tergerak untuk ikut melestarikan Kesenian ini dengan belajar menjadi Penari Topeng Betawi. Disitulah nantinya terjadi regenerasi.

Alunan ritmik Kesenian Topeng Betawi kembali disuguhkan grup musik tradisi Gambang Kromong Ratna Sari untuk mengiringi dua tarian kreasi khas Betawi yakni Lenggang Nyai dan Nandak Ganjen dalam acara Evaluasi Diklat Tari Betawi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DKI Jakarta 2016 yang diadakan di Anjungan Provinsi DKI Jakarta Taman Mini Indonesia Indah pada sabtu 13 Agustus 2016.

Apa yang dilakukan Ray dan rekan-rekannya ternyata menimbulkan efek yang cukup membuat para penikmat seni di acara Evaluasi Diklat Tari Betawi tersebut berdecak kagum. Keceriaan para penari dalam Tari Nandak Ganjen tampak menjadi semakin hidup dengan hentakan ritmik pentatonik khas Topeng Betawi. Demikian pula halnya yang terjadi dengan Tarian Lenggang Nyai yang diperagakan sesudah Nandak Ganjen.

Harapan kedepan dari Ray beserta para punggawa grup Gambang Kromong Ratna Sari, apa yang mereka perjuangkan dapat terwujud walau secara perlahan. Regenerasi Kesenian Tari Topeng Betawi harus terwujud, itulah misi mereka saat ini. Karena dengan dapat terciptanya regenerasi yang berkesinambungan maka kesenian Tari Topeng Betawi bisa lestari kedepannya.(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: