RABU, 31 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI (Tentara Nasional Indonesia) Jakarta disamping memiliki beragam koleksi menarik jejak langkah TNI dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia juga memiliki ruangan khusus bagi empat Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan sekaligus pembentukan TNI. 

(kiri ke kanan) Jenderal Besar TNI Soedirman, Jenderal TNI Oerip Soemohardjo, Jenderal Besar TNI AH Nasution, Jenderal Besar TNI HM.Soeharto
Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Besar TNI Soedirman, Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo, Jenderal Besar TNI AH.Nasution, dan Jenderal Besar TNI HM.Soeharto adalah empat Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah TNI dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang diabadikan dengan tempat khusus di Museum Satria Mandala, Pusat Sejarah TNI Jakarta.

Jika berbicara tentang keempatnya secara bersamaan sama dengan memasuki pintu gerbang "Kala Mangkara" simbol lorong waktu dalam kehidupan. Diibaratkan "kala" dengan empat lengkungan maka fenomena empat Jenderal memiliki makna empat lorong waktu : masa lalu, masa kini, masa depan, dan sebuah masa diantara ketiganya. 

Tak terbantahkan keempatnya sudah meletakkan bongkahan batu karang teguh sebagai dasar bagi TNI untuk berpijak hingga saat ini. Bahkan bukan hanya itu saja, perjalanan keempatnya sudah menyentuh sendi-sendi pembangunan bangsa dan negara secara menyeluruh.

Keempatnya memiliki andil yang sama besar sejak perjuangan kemerdekaan. Dimulai dengan perjuangan Letjend Oerip Soemohardjo dan Panglima Besar Jenderal Soedirman dibidang pembentukan sistim organisasi kemiliteran Angkatan perang Indonesia sekaligus perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Ditengah perjalanan keduanya muncul dua tokoh berikutnya yaitu Letkol Soeharto dan Kolonel Abdul Haris Nasution dalam garis perjuangan yang sama dengan para seniornya tersebut.

Panglima Besar Jenderal Soedirman bersama Letnan Kolonel Soeharto bahu membahu meretas kemerdekaan sekaligus mempertahankannya dalam perjuangan fisik melelahkan secara gerilya lewat berbagai pertempuran yang memakan banyak korban baik dari sahabat, anak buah, maupun lawan. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Kolonel Abdul Haris Nasution memberikan dukungan dengan berjuang secara birokrasi mengatasi permasalahan-permasalahan pelik terkait pembentukan organisasi kemiliteran kearah yang lebih baik lagi. 

Impian berikut usaha keras seorang Oerip Soemohardjo akan tatanan organisasi militer profesional dalam satu negara berhasil melahirkan sebuah Akademi Militer (AKMIL) yang sampai sekarang menjadi kawah candradimuka generasi muda nusantara yang terpanggil untuk menjadi Tentara Nasional Indonesia. 

Disamping itu bersama rekannya Pangsar Jenderal Soedirman ia menjadi tokoh sentral yang menyatukan laskar-laskar rakyat pejuang kemerdekaan yang ada diseluruh nusantara khususnya pulau Jawa kedalam satu kesatuan utuh bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga akhirnya terus berkembang menjadi TNI.

Panglima Besar (Pangsar) Soedirman bahu membahu dengan Letnan Kolonel Soeharto dan perwira-perwira lainnya menjalani berbagai pertempuran fisik secara bergerilya untuk menjawab berbagai propaganda Belanda yang mencoba merobek-robek proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Dan kehadiran Kolonel Abdul Haris Nasution ibarat siraman air sejuk ditengah perjuangan untuk semakin memperkuat barisan dalam kerangka penyatuan sekaligus penggalangan keamanan negara sampai ke Indonesia bagian timur sejak berkecamuk hingga selesainya perang kemerdekaan.

Masa lalu perjuangan yang menyita waktu, tenaga, nyawa, dan airmata dari seluruh rakyat Indonesia dijalani keempatnya dengan semangat pantang menyerah dan rela berkorban bagi bangsa dan negara. Ditambah juga mereka harus mengimbangi perjuangan para birokrat dipanggung politik Internasional dalam perundingan-perundingan demi meneguhkan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia juga bukan masalah yang mudah. Friksi antara militer dan birokrat ditambah usaha pengkhianatan dari dalam negeri sendiri ibarat makanan sehari-hari bagi mereka. Namun semakin pukulan-pukulan tantangan datang, semakin teguh pula hati keempatnya untuk menjaga garis komando kemudian maju bersama dengan topi baja diatas kepala masing-masing.

Akan tetapi seiring bergantinya masa didalam lorong waktu " Kala Mangkara ", Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo adalah orang pertama yang pergi meninggalkan rekan-rekannya di TNI serta bangsa Indonesia untuk selamanya. Kemudian diikuti oleh " Sang Senopati " Pangsar Jenderal TNI Soedirman. AKhirnya ibarat empat orang pelari estafet maka otomatis tongkat estafet tersisa pada dua pelari terakhir yakni Jenderal TNI Soeharto dan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Walau begitu, perjuangan terus berlanjut dengan berujung pada sebuah catatan sejarah bangsa Indonesia dimana Ketua MPRS Jenderal TNI Abdul Haris Nasution melantik Jenderal TNI Soeharto menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 12 Maret 1967.

Lorong waktu yang terus berputar membuat tongkat estafet terakhir dari keempatnya ada ditangan Jenderal TNI Soeharto untuk masuk ke tahap perjuangan berikutnya seorang diri yaitu berlari sekencang-kencangnya menuju garis akhir. Dengan keadaan itu maka yang ada di benak Jenderal TNI Soeharto adalah ia harus mengumpulkan semua kekuatan baik diri maupun semua kekuatan bangsa Indonesia untuk kemudian mengkonversinya menjadi sebuah dorongan besar bagi pembangunan bangsa dan negara demi melanjutkan amanat perjuangan para pendahulunya.

Dengan mempelajari sejarah perjuangan birokrasi para pendiri bangsa, mengingat pengalaman pedih selama berjuang menyabung nyawa sebagai seorang prajurit bersama para pendahulunya demi mempertahankan kemerdekaan, memahami masih adanya para pengkhianat didalam tubuh pemerintahan yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi tertentu, menyaksikan betapa rakyat di daerah terpencil begitu menderita dengan revolusi yang berkepanjangan, serta mengerti bagaimana isi kepala para seniornya di TNI dari Pangsar Jenderal Soedirman, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, dan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution mengenai betapa TNI dan rakyat merupakan bagian integral yang tak bisa dipisahkan maka sebagai seorang Presiden sekaligus pengisi pembangunan membuat ia mengambil banyak langkah penting dalam masa pemerintahan yang dilakoninya.

Jika dicermati, fenomena empat Jenderal yang hingga kini abadi di Museum Satria Mandala memberikan sebuah pembelajaran berikut hikmah teramat berharga bagi bangsa Indonesia khususnya TNI. Penanaman kerangka dasar sistim organisasi militer, pembentukan akhlak dan sikap pribadi didalam diri setiap prajurit TNI, ketegasan berikut kejelasan akan garis komando, sampai bagaimana peran serta TNI dalam membangun negara ini adalah wujud nyata hikmah dan pembelajaran tersebut.

Sebagai seorang pelaku sejarah yang tersisa maka selama 32 tahun pemerintahannya di Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Jenderal Besar TNI Soeharto atau sudah disebut sebagai Presiden Soeharto menanamkan kepada rakyatnya bagaimana seharusnya menghargai sekaligus mengingat jasa-jasa para pahlawannya. Bahwa Negara ini tidak serta merta berdiri atau ada karena pemberian bangsa lain melainkan didapatkan melalui perjuangan dengan nyawa dan airmata sebagai taruhannya. 

Presiden Soeharto juga teramat sangat mengerti bagaimana keadaan desa-desa terpencil di nusantara. Pengalamannya sebagai seorang prajurit gerilya membuat ia menjadi saksi sejarah betapa derita rakyat kecil di nusantara merupakan satu hal yang harus dientaskan dari bumi pertiwi. Ia memperkuat ketahanan pangan yang akhirnya membawa Republik Indonesia dari bangsa pengimpor beras menjadi negara pengekspor beras terbesar di Asia Tenggara melalui keberhasilan program swasembada pangan yang dilakukannya bersama jajaran pemerintahan lainnya.

Ruangan khusus bagi Empat Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah TNI di Museum Satria Mandala Jakarta

Hasil-hasil pembangunan saat pemerintahan beliau di era Orde Baru dirangkum menjadi dua bagian, yakni :

1. Dibidang Politik Dalam Negeri tercapai stabilitas politik dan keamanan yang mantap. Selain itu, dalam penerapan politik luar negeri, Indonesia berhasil memimpin ASEAN, Gerakan Non Blok, dan APEC.
2. Pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 6 persen dengan pemerataan kesejahteraan (kemiskinan hanya 11%) dan kesenjangan sosial kecil dengan gini ratio 0,32.

Angka dan pencapaian tersebut bukanlah sebuah omong kosong belaka, karena dunia Internasional melalui badan-badan resmi dibawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) memberikan apresiasi kepada Bangsa Indonesia dengan berbagai pengakuan serta penghargaan diantaranya : 

1. Pencapaian Swasembada Beras dari WHO tahun 1984
2. Kependudukan dari UN Secretary tahun 1989
3. Kesehatan dari WHO tahun 1991
4. Pendidikan dari UNESCO tahun 1993
5. Pengentasan Kemiskinan dari UNDP tahun 1997

Presiden Soeharto atau akrab disapa oleh rakyat dengan Pak Harto memahami bahwa stabilitas keamanan negara dan politik adalah hal terutama yang harus dijaga dengan tegas agar proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Selama pemerintahannya tidak satupun yang dapat menyakiti atau mempermainkan rakyat Indonesia dengan semena-mena, karena salah satu pesan dari Pangsar Jenderal Besar TNI Soedirman sebelum mangkat adalah : Membangun Angkatan Perang yang Mampu melindungi Rakyat Indonesia. Pak Harto adalah bagian dari Angkatan perang Indonesia yaitu TNI, maka sudah tugasnya untuk melindungi seluruh kepentingan dan martabat bangsanya.

Pak Harto mengerti bagaimana ia dan ketiga Jenderal seniornya bahu membahu menumpas beragam pemberontakan di dalam negeri dari para pengkhianat-pengkhianat yang ingin mengganti Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dengan ideologi versi mereka. Oleh karena itu ia dengan tegas menutup akses-akses vital yang memungkinkan faham-faham radikal keagamaan dan faham Komunis agar tidak bisa masuk ke negara tercinta yang diperjuangkannya dengan darah dan airmata sejak ia pertama kali masuk dinas kemiliteran.

Pak Harto pun mengerti bagaimana perjuangan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Pangsar Jenderal Besar TNI Soedirman mempersatukan laskar-laskar perjuangan rakyat dari seluruh bagian nusantara ke dalam satu tubuh yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI). Oleh karena itu iapun membentuk sebuah penggabungan yang mengagumkan dari semua Angkatan Bersenjata yang ada di Indonesia menjadi satu kesatuan bernama ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Ia juga memahami dengan baik isi kepala Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution yang begitu gigih memperjuangkan penyetuan nusantara sampai ke ujung timur nusantara sejak operasi Trikora di Irian barat. Maka Pak Harto menyatukan nusantara sampai membawa Timor Timur ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Dibawah kepemimpinan Pak Harto maka TNI juga mengalami berbagai kemajuan berarti baik dari sisi keterampilan prajurit mnaupun persenjataan. Pak Harto sangat mengerti bahwa Bangsa Indonesia membutuhkan sebuah Angkatan perang yang dapat dibanggakan sekaligus mampu melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Oleh karena perkembangan pesat dari segi pembangunan Angkatan perang, stabilitas politik dalam negeri, serta pembangunan kesejahteraan rakyat yang dicapai maka Indonesia bisa menjadi sosok sentral yang menyatukan negara-negara belahan dunia ketiga dalam satu kesatuan bernama Negara-Negara Non-Blok. Di antara negara-negara Asia Tenggara sendiripun Indonesia menjadi barometer bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya. Apa yang diinginkan Indonesia maka seluruh negara Asia Tenggara yang tergabung didalam ASEAN akan mengamininya bersama-sama.

Sebagai seorang prajurit, saksi dan pelaku sejarah, dan pemegang tongkat estafet terakhir dari tiga seniornya di TNI yaitu Pangsar Jenderal Besar TNI Soedirman, Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo, dan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution yang sudah tiada maka Pak Harto sudah melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan. Semua dilakukannya sesuai Sumpah Prajurit yang terpatri di dalam diri dan dihadapan Tuhan dimana salah satunya adalah Setia kepada pemerintah, Undang Undang Dasar 1945 dan Ideologi negara Pancasila.

Bagai sekuntum bunga didalam topi baja, maka Pak Harto seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia tumbuh untuk mengharumkan kembali negara ini yang selama ratusan tahun sebelumnya bergelut dengan penderitaan dan air mata dalam perjuangan merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan. Ia membuktikan bahwa jika TNI dan rakyat bersatu maka pembangunan negara ini akan berhasil menemukan titik pencapaian yang diinginkan secara terukur. Dan Pak Harto juga sudah menjalankan tanggungjawab tongkat estafet terakhir sekaligus mengakhirinya dengan meninggalkan hasil-hasil pembangunan untuk diteruskan kepada pelari-pelari berikutnya dari bangsa ini.

Akhirnya, lingkaran waktu " Kala Mangkara " dari fenomena empat Jenderal paling berpengaruh dalam sejarah pembentukan TNI sekaligus sejarah perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia harus berakhir saat Jenderal Besar TNI, Presiden kedua Republik Indonesia, Bapak Pembangunan Indonesia yakni HM.Soeharto menghembuskan nafas terakhir 27 Januari 2008 di Jakarta setelah beberapa tahun berjuang dengan sakit yang dialaminya sejak mengundurkan diri sebagai Presiden kedua Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.

Empat Jenderal paling berpengaruh dalam tubuh TNI telah tiada, tongkat estafet sudah berpindah pada kelompok berikutnya, lorong waktu gerbang " Kala Mangkara " sudah menemukan batas terakhirnya, akan tetapi semangat dari keempat Jenderal tersebut tetap membara didalam dada setiap prajurit TNI dimanapun berada. Dan saat ini TNI terus berkembang untuk menjadi lebih baik lagi demi menjadi : " sebuah Angkatan perang yang dapat menjadi kebanggaan dari rakyat Indonesia, yang mampu melindungi kemerdekaan Indonesia, dan dapat menjamin keamanan rakyat Indonesia " (Amanat Panglima Besar TNI Jenderal Besar TNI Soedirman sebelum beliau mangkat).
(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: