SELASA, 23 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Upaya bongkar pasang untuk mempercantik area istirahat (rest area) di sekitar Masjid Agung Kubah Intan Kalianda terus dilakukan bahkan telah dilakukan perubahan selama nyaris empat kali pada dua periode bupati yang menjabat, sejak bupati Rycko Menoza hingga bupati Zainudin Hasan. 


Pembongkaran giant letter bertuliskan Kota Kalianda dengan anggaran tak sedikit bahkan sudah terjadi selama tiga kali meski hingga saat ini bangunan tersebut terlihat dalam kondisi memprihatinkan dengan sebagian trotoar berwarna yang mengelupas pada beberapa bagian. Meski demikian pemerintah Kabupaten Lampung Selatan terus melakukan upaya mempercantik area rest area yang terletak di tepi Jalan Lintas Sumatera dari arah Bakauheni menuju Bandarlampung tersebut.

Sebagian kalangan bahkan mencatat pembangunan di area masjid agung Kubah Intan selama kurun waktu 4 tahun telah menghabiskan anggaran kurang lebih 5 milyar rupiah. Seperti yang diungkapkan salah satu anggota lembaga swadaya masyarakat Forum Pemuda Terampil Lampung Selatan (FTPL) di Lampung Selatan, Adi, pembangunan area masjid agung kubah Intan menyedot anggaran yang mencapai milyaran rupiah karena dilakukan selama bertahun tahun.

“Sebagai warga masyarakat kita tidak pernah mengkritisi niat baik pemerintah yang akan melakukan upaya mempercantik kota Kalianda namun upaya bongkar pasang diantaranya giant letter, tugu tuping serta paving blok yang dibongkar merupakan pemborosan,”ungkap Adi saat ditemui Cendana News, Selasa (23/8/2016).

Ia menyayangkan kualitas proyek pembangunan yang terkesan asal-asalan pada tahap sebelumnya dengan cara pemasangan paving blok yang cepat amblas dan rusak sehingga dana ratusan juta dan jika diakumulasikan sejak tahap pertama pembangunan mencapai milyaran rupiah. Selain itu upaya bongkar pasang bukan kali pertama dilakukan, diantaranya tugu tuping yang merupakan satu paket pembangunan untuk mempercantik kota Kalianda yang menggunakan dana tak sedikit yang dibiarkan teronggok di area kantor Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan setempat.

Adi juga mengungkapkan seharusnya rencana pembangunan di area tersebut yang dilengkapi dengan food court agar pengunjung bisa beristirahat dan beribadah serta menikmati kuliner dibangun dengan perencanaan yang matang. Beberapa proses pembangunan yang asal asalan diduga menjadi sebab cepat rusaknya fasilitas di area tersebut diantaranya paving blok serta besi jembatan penahan pada saluran air yang bengkok dan beberapa trotoar yang terkelupas.

Sebelumnya proses pembangunan, perbaikan di area rest area masjid agung kubah Intan Kalianda sudah dianggarkan dalam APBD Lampung Selatan dan terus mengalami perubahan beberapa kali. Beberapa pembangunan di area rest area Masjid Agung Kubah Intan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 dan dilanjutkan hingga tahun ini dengan beberapa proyek pengerjaan tersebut antara lain berupa pembangunan 3 pos jaga untuk petugas pol PP yang berada di tiga pintu masuk dan pintu keluar masjid, pembuatan toilet khusus wanita yang sebelumnya masih menyatu dalam satu lokasi dengan toilet laki laki serta pembangunan tempat mengambil air wudhu khusus wanita.

“Sudah banyak fasilitas yang dibongkar terus diperbaiki seharusnya master plan yang akan dibangun sudah direncanakan jangka panjang agar tidak ada pembongkaran lagi dan ini kan menggunakan uang rakyat”ungkap Adi.

Berdasarkan perencanaan rest area masjid agung Kubah Intan Kalianda dari situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Lampung Selatan berkode 1076217 unit Dinas Pekerjaan Umum paket penggunaan anggaran  pada tahun 2015 menggunakan anggaran  sebesar Rp100.000.000 sementara pada tahun 2016 terdapat lelang pengawasan tekhnis pengembangan Rest Area Kalianda dengan nilai kontrak 79.100.000.

Proses pembangunan yang terus dilakukan tersebut mengakibatkan sementara omzet para pedagang di lokasi kuliner masjid agung kubah Intan Kalianda menurun. Beberapa pedagang mengaku jika sebelum dibongkar bisa mendapat omzet sekitar Rp500ribu perhari kini bisa hanya mendapat omzet Rp200ribu perhari. Sebagian pedagang bahkan tak berjualan dan memilih berjualan di lokasi lain.

Rest area sebelumnya dibuat untuk memberi rasa nyaman dan aman bagi masyarakat yang akan beristirahat sekaligus menjalankan ibadah di masjid agung kubah Intan. Beberapa fasilitas yang sudah ada mengalami beberapa kali pembenahan dengan untuk mempercantik rest area tersebut salah satunya dengan pembenahan lantai paving blok yang selama ini berfungsi sebagai lahan parkir.


Pantauan Cendana News satu unit alat berat dikerahkan untuk melakukan proses pembersihan lahan,perataan tanah sementara paving blok yang akan diganti sudah dibongkar untuk diganti dengan paving blok yang baru. Beberapa saluran air dan talud sudah dibongkar untuk dilakukan pembenahan sehingga sementara waktu area rest area masih belum bisa digunakan oleh pengunjung yang akan sejenak menikmati kuliner di lokasi tersebut.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: