KAMIS, 25 AGUSTUS 2016

LAMPUNG  --- Cuaca ekstrem yang terjadi berupa gelombang tinggi  selama dua hari terakhir di Perairan Selat Sunda hingga saat ini masih berlangsung dengan disertai hujan ringan dan angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut belum mengganggu aktifitas pelayaran bagi kapal kapal roll on roll off (Roro). Aktifitas operasional yang masih berjalan dengan normal tersebut dibenarkan oleh kepala cabang PT Munic Line, Joko yang mengoperasikan sebanyak tiga unit kapal roro di Lintasan Selat Sunda.


Meski demikian, Joko mengaku, pihaknya yang saat ini sebagai salah satu perusahaan pelayaran yang melayani pelayaran di Lintasan Selat Sunda menghimbau kepada para nahkoda untuk melakukan koordinasi dengan pihak Stasiun Traffic Control (STC) serta memperhatikan prakiraan cuaca secara langsung oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Selama dua hari ini gelombang tinggi masih terjadi terutama di alur masuk dan alur keluar dan sedikit mengganggu aktifitas bongkar muat kapal saat akan bersandar di dermaga,”ungkap kepala cabang PT Munic Line saat dikonfirmasi media Cendana News, Kamis (25/8/2016).

Hingga saat ini menurut Joko belum ada himbauan dari pihak syahbandar dan otoritas Pelabuhan Bakauheni untuk melakukan penghentian operasional kapal dengan GT di bawah 5.000 karena aktifitas kapal masih normal dengan tanpa adanya gangguan saat olah gerak kapal.

Berdasarkan informasi prakiraan cuaca dari Stasiun Meteorologi Maritim Panjang - Lampung khusus untuk jalur penyeberangan Pelabuhan yang dikeluarkan oleh BMKG (25-26/8) khusus untuk jalur penyeberangan memberikan peringatan prakiraan tinggi gelombang setinggi 2.0 - 3.0 meter dapat terjadi di wilayah Perairan Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Barat Lampung dan Samudera Hindia Barat Lampung. Selain itu khusus untuk rute Jalur penyebrangan Bakauheni-Merak kondisi cuaca dalam kondisi hujan ringan.

Sementara arah angin di sekitar perairan Merak berasal berasal dari angin Tenggara - Selatan, dengan gelombang 0.25 - 1.25 meter dan di sekitar perairan Bakauheni berasal dari angin Tenggara - Selatan, Gelombang 0.25 - 1.00 meter.


Pantauan Cendana News akibat gelombang dan angin kencang mengakibatkan jangkar kapal City Line milik perusahaan pelayaran Atosim Lampung Pelayaran (ALP) bermasalah sehingga sempat terbawa arus dari lokasi anchor saat menjalani proses perbaikan di perairan Bakauheni. Kondisi cuaca dengan kecepatan angin mencapai 15-20 knot diduga menjadi penyebab jangkar kapal tergeser dan kapal berpindah dari posisi semula.

Kondisi cuaca yang tak bersahabat juga mengakibatkan nelayan yang berada di sekitar Pelabuhan Bakauheni tepatnya di dermaga Muara Pilu memutuskan tidak melaut. Sementara kapal kapal roro yang dioperasikan di lintasan Selat Sunda hingga saat ini mencapai 40 kapal lebih dengan sebagian masih menjalani proses perbaikan dan ancor.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: