SELASA, 9 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Paduan Suara SMAK Frateran Maumere (Smater), Gita Smater Choir (GSC) kembali mengukir prestasi yang sangat membanggakan pada Bali International Choir Festival 2016, yang berlangsung di Sanur Paradise dari tanggal 25-31 Juli 2016. GSC yang beranggotakan 37 orang peserta itu membawa pulang 2 Emas (gold) dan 1 Perak (silver). 


Demikian disampaikan kepala sekolah SMAK Frateran Maumere Frater M Polikarpus ,BHK ,SE, M.Pd saat ditemui Cendana News, Selasa (9/8/2016). Dikatakan Frater Poly, GSC juga mencetak sejarah baru pada kompetisi kali ini.  

Sejarah baru yang ditorehkan GSC terangnya yakni pada kategori lomba Folklore dimana GSC meraih predikat the winner (Sang Pemenang) kategory dengan mengalahkan puluhan kelompok paduan suara dari dalam negeri dan luar negeri. Salah satu yang menjadi pesaing GSC adalah paduan suara dari Manila, Filipina.

“Dalam Festival Paduan Suara Internasional ini GSC berkompetisi pada  3 kategori lomba yaitu:  Folklore, Scanic Folkore dan Teenager’s,” ujarnya.

Ditambahkan Frater Poly, dalam setiap kategori peserta wajib menyanyikan 2 lagu kecuali Scanic Folklore yang hanya 1 lagu. Jadi GSC sambungnya, harus menyanyikan 5 buah lagu. Pada kategori Folklore, GSC membawakan 2 buah lagu yakni: Bulu Gila, komposer oleh Christian Izaac Tamaela, dan Yamko Rambe Yamko komposer oleh Agustinus Bambang Jusana. 

Di kategori Scanic Folkore, paparnya, GSC membawakan lagu dari niang Sikka yakni Tena Reta Iung composer oleh Christian Izaac Tamaela, sedangkan di kategori Teenager’s. GSC membawakan lagu Sing When The Spirit Says Sing komposer oleh Jesse Vaughn dan lagu Kalwedo Basudara komposer oleh Christian Izaac Tamaela.

“Kategori yang sangat membanggakan bagi GSC adalah kategori Folklore dan kategori Scanic Folklore,” tuturnya.

Frater asal Sikka ini menjelaskan, pada kategori Folklore, dua lagu yang dibawakan rupanya sangat mencuri hati dewan juri yang berasal dari 5 kebangsaan karena Intonation, Quality of Sound, Accuracy to the Score serta Artistic Overall sangat bagus sehingga meraih Final Score: 30,38. Di kategori ini juga, GSC meraih predikat the winner category. 


Sedangkan di kategori Scanic Folklore bebernya, juga sangat memikat hati dewan juri karena Intonation, Quality of Sound, Accuracy to the Score serta Artistic Overall sangat bagus sehingga meraih Final Score: 30,20. Pada 2 kategori ini, Gita Smater Choir (GSC) menggondol 2 medali emas. 

“Mengikuti festival paduan suara internasional ini, sangat membanggakan karena sudah 3 tahun berturut-turut GSC selalu mengukir prestasi dengan pulang membawa emas,” terangnya.

Blasius Moa conductor GSC kepada Cendana News mengatakan, prestasi ini diperoleh sebab pihaknya telah mempersiapkan diri dengan baik serta selalu mendapat dukungan yang luar biasa dari kepala sekolah.

Guru Fisika di Smater ini menjelaskan, GSC yang baru terbentuk pada bulan Mei 2013 beranggotakan siswa/siswi SMAK Frateran Maumere yang sangat berbakat. Untuk menjadi anggota GSC, biasanya dilakukan seleksi yang ketat melalui audisi, yang dikemas dalam bentuk semi outbond. 

Tidak tanggung-tanggung, untuk menambah wawasan dan rasa percaya diri yang tinggi, kata Blasius, Smater mendatangkan juga pelatih dari Malang Jawa Timur, untuk olah vokal dan koreografi.

Atas nama Smater, Frater Poly mengucapkan terima kasih untuk segala dukungan dari para orang tua/wali anggota GSC, dinas Pariwisata dan Kebudayaan provinsi NTT, keluarga besar Smater, para alumni, orang tua wali serta semua pihak yang dengan caranya sendiri telah mendukung GSC sehingga boleh meraih prestasi yang membanggakan  ini. 

“Harapan kami semoga tahun depan, GSC boleh berkompetisi di Singapore, Korea atau di Eropa. Kami berharap semoga banyak pihak tergerak hatinya untuk boleh mensuport bakat yang luar biasa dari anak-anak muda ini karena mereka juga akan mempromosikan budaya kita di mata dunia,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam festival paduan suara internasional 2016 ini, tercatat 122 kelompok paduan suara yang ikut berkompetisi. Selain kelompok paduan suara yang berasal dari berbagai berbagai kabupaten atau kota dan provinsi di Indonesia, juga berasal dari beberapa negara yakni: Filipina, Singapura, Malaysia, Korea Selatan dan Italia. 

Para dewan juri dalam festifal ini juga berasal dari berbagai negara. Yang menjadi juri pada festival tahun 2016 berasal dari 5 negara yaitu : Josu Elberdian asal Sapnyol, Susanna Saw dari Malaysia, Monica Hwang Hwa Sook asal Korea Selatan, Emily Howe asal Amerika Serikat serta Andreas Sugeng Budirahaarjo dari Indonesia.(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: