KAMIS, 18 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Jessica Kumala Wongso (27), seorang perempuan yang selama dikenal sebagai terdakwa tunggal dalam kasus perkara "kopi sianida" yang menewaskan I Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier pada 6 Januari 2016 yang lalu dinilai sebagai salah seorang terdakwa yang "paling istimewa" atau bisa dikatakan lain daripada terdakwa-terdakwa sebelumnya yang pernah ditangani oleh PN Jakarta Pusat.


Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung oleh Binsar Gultom S.H., salah satu anggota Majelis Hakim yang selama ini ikut menangani persidangan dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Binsar Gultom mengaku heran saat melihat sikap dan reaksi Jessica mengapa dirinya tidak seperti terdakwa lainnya pada umumnya.

Saking herannya, sampai-sampai anggota Binsar Gultom sempat meminta secara khusus kepada dr. Natalia Widiasih Raharjanti, seorang saksi ahli Psikiater dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk menafsirkan sebenarnya seperti apa kepribadian dan kejiwaan Jessica terkait dengan sikap dan perilakunya yang terkesan sangat tenang dan cuek tersebut.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) memang rencananya akan menghadirkan beberapa orang saksi ahli Psikiater dari RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, salah satunya adalah dr. Natalia Widiasih Raharjanti. Belakangan diketahui bahwa Natalia bersama rekan-rekannya dari Departemen Psikologi Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tersebut memang pernah memeriksa kondisi kesehatan jiwa Jessica Kumala Wongso.

Binsar Gultom mengatakan "menurut pendapat pribadi, saya menilai terdakwa Jessica Kumala Wongso mungkin salah satu terdakwa yang istimewa, karena selama saya menjadi Hakim selama puluhan tahun dan sudah tak terhitung lagi berapa kali menangani persidangan baru kali ini saya melihat sikap dan perilaku terdakwa yang tenang dan terkesan cuek terhadap sebuah kasus perkara yang besar, yaitu tuduhan pembunuhan berencana yang didakwakan Jaksa kepadanya" katanya dalam persidangan di PN Jakarta Pusat

"Pengalaman saya selama memimpin dalam persidangan sebelum-sebelumnya, hampir semua terdakwa kebanyakan menangis atau gundah gulana, karena ketakutan terkait dengan ancaman vonis hukuman seperti apa yang nanti akan dijalani seorang terdakwa, namun saya perhatikan selama ini Jessica tampaknya tenang-tenang saja dan seolah-olah tidak seperti orang yang bersalah, padahal jika nantinya terbukti bersalah, maka Jessica akan dijatuhi vonis hukuman seumur hidup bahkan mungkin hukuman mati" katanya, Kamis sore (18/8/2016).

Sementara itu, terkait dengan adanya permintaan khusus dari Binsar Gultom sebagai Anggota Majelis Hakim dalam persidangan Jessica, dr. Natalia Widiasih Raharjanti sebagai ahli Psikiater Forensik mencoba menjelaskan secara singkat, memang diperlukan sebuah upaya pemeriksaan dan observasi secara menyeluruh untuk dapat melihat dan mengetahui secara pasti bagaimana sebenarnya karakter dan kepribadian seseorang, termasuk Jessica.
[Eko Sulestyono]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: