JUMAT, 5 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Rimbunnya buah lada serta buah cengkeh bergelantungan di pohon adalah pemandangan yang jarang ditemui di lereng Gunung Rajabasa, lereng Gunung Tanggamus serta beberapa lereng gunung yang ada di wilayah Provinsi Lampung. Semboyan tanah lada sekaligus penghasil cengkeh oleh sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir Rajabasa bahkan kini menyisakan kenangan meski masih ada sebagian masyarakat di wilayah Desa Kunjir, Desa Totoharjo, Desa Tanjung Heran serta sepanjang pesisir yang menanam lada dan cengkeh.


Menurut Zainudin, salah satu petani lada pemilik kebun seluas setengah hektar di Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni di lereng Gunung Rajabasa, komoditas lada dan cengkeh pada masa kejayaannya di tahun 1990-an membuatnya memiliki sekitar 1000 batang tanaman cengkeh dan 5000 tanaman lada. Seiring dengan anjloknya harga komoditas dua tanaman tersebut dirinya memilih merombak tanaman primadona tersebut dan memilih beralih menanam tanaman pisang dan tanaman kopi coklat atau dikenal dengan kakao.

“Pernah anjlok harganya dan tak berpihak ke petani sehingga sempat hanya seharga Rp 5 ribu perkilogram sementara kebutuhan petani meningkat dan muncul tanaman kakao yang bisa seharga Rp 30 ribu akhirnya banyak cengkeh dan lada yang ditebang” ungkap Zainudin yang ditemui sedang menjemur cengkeh dan lada hitam sisa hasil kebun yang masih dipertahankannya, Jumat (5/8/2016)

Ia mengakui tanaman lada hitam yang saat itu menjadi tanaman andalan sebagai komoditas ekspor mengakibatkan Lampung mengalami kejayaan dan  kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam sudah dikenal sejak zaman dahulu. Karena sejak zaman dahulu, Lampung dikenal sebagai sentra perkebunan lada tak heran sebutan Tanoh Lado sangat melekat.


Ia bahkan mengakui, mutiara hitam inipun menjadi salah satu lambang daerah Lampung saat sang Bumi Rua Jurai diresmikan menjadi Provinsi pada 18 Maret 1964, namun sayang saat ini kejayaan tersebut telah pudar seiring dengan tumbangnya pohon-pohon lada yang digantikan dengan tanaman karet dan singkong,kakao serta tanaman lain yang dipandang lebih menjanjikan.

Kualitas lada Lampung sejak dulu memang diakui dunia, tapi sayang komoditas ekspor ini di daerah Lampung semakin berkurang, banyak petani lada yang berpindah ke tanaman lain. Alasannya tanaman ini mudah sekali terkena hama penyakit busuk batang dan juga persoalan harga yang terkadang menjadi permainan tengkulak. Saat ini harga lada hitam ditingkat petani masih dikisaran Rp80ribu-Rp90ribu perkilogram sementara harga cengkeh bisa mencapai Rp 40 ribu perkilogram.

Zainudin mengatakan, penurunan produktivitas lada karena beberapa faktor, di antaranya serangan hama penyakit yang sulit diidentifikasi, tanaman yang sudah tua serta faktor iklim. Selain itu, masih kurangnya pengetahuan masyarakat dalam menanam serta merawat tanaman tersebut. Tanaman lada yang harganya cukup mahal akhirnya banyak ditinggalkan orang dengan memilih sistem pertanian lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi diantaranya kakao dan pisang. Harga pisang di tingkat petani untuk jenis pisang Raja Nangka bisa mencapai Rp 30 ribu Rupiah perjanjang selain bisa dijual dalam kondisi mentah tanaman tersebut secara ekonomis lebih menguntungkan bagi petani.


”Produksi tahun ini tidak sebanding dengan produksi tahun-tahun dulu, banyak petani lada di kampung ini yang beralih menanam singkong atau karet, meski harga sudah menembus ratusan ribu, tetapi tetap saja produksinya berkurang,“ kata Zainudin.

Senasib dengan lada, sebagian petani yang masih mempertahankan tanaman cengkeh di lereng Gunung Rajabasa pun mengakui tidak lagi merasakan harumnya harga cengkeh yang sempat menjadi primadona di Lampung. Mualimah, wanita yang sehari-hari berangkat ke kebun mengaku untuk mempertahankan hasil tanaman cengkeh,dirinya bersama sang suami menerapkan sistem “cikru” dengan mengumpulkan buah cengkeh yang terjatuh dari pohon sementara buah yang masih dipohon dipanen dengan menggunakan tangga segi tiga.

“Kalau dulu kami jual hingga berton-ton dan langsung kami jual ke Jakarta tapi sekarang selain jumlah tanaman sedikit hasilnya kurang hanya pengepul dari kota yang datang langsung ke sini” ungkap Mualimah.


Mualimah dan suaminya,Hasan,mengungkapkan pergeseran nilai dan harga komoditas pertanian mengakibatkan petani memilih beralih ke tanaman lain. Proses tersebut bahkan telah menjadi umum di kalangan petani lereng Gunung Rajabasa yang nyaris jarang melakukan sistem pertanian sawah. Berada di lereng gunung dan kawasan hutan register 2 dan 3 Gunung Rajabasa membuat sebagian besar penduduk memilih menjadi pekebun.

Pada bulan Agustus ini,diakui oleh Kepala Balai Penyuluhan Pertanian,Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Penengahan Suhardi Gumay merupakan puncak masa panen hasil pertanian kebun diantaranya lada,cengkeh,pinang,kakao yang menjadi penopang perekonomian masyarakat di lereng Gunung Rajabasa. Ia mengakui pemanfaatan kawasan wilayah hutan di luar tanah Register Gunung Rajabasa terus dilakukan masyarakat tanpa menganggu kawasan tersebut.

“Meski mengalami masa panen namun jumlahnya tidak sebanyak pada masa kejayaan tanaman lada dan cengkeh sehingga hanya sebagian petani yang merasakan hasilnya” ungkap Suhardi.

Peralihan jenis tanaman yang ditanam masyarakat menurut Suhardi disebabkan oleh faktor kebutuhan masyarakat. Sebab masyarakat selama ini akan menanam tanaman yang memiliki pangsa pasar baik sehingga tidak mengherankan populasi tanaman lada dan cengkeh yang pernah berjaya di Lampung beralih ke tanaman kakao dan pisang. Ia dan petugas penyuluh lapangan tetap terus melakukan pendampingan kepada masyarakat petani terutama dalam persoalan hama penyakit yang mengganggu produktifitas tanaman. Terkait jenis tanaman yang ditanam masyarakat ia yakin masyarakat memiliki alasan memilih tanaman tertentu.

“Beberapa waktu lalu pernah dibagikan secara gratis jenis tanaman pepaya California dan belimbing merah namun kembali ke soal pemasaran yang sulit sehingga banyak petani akhirnya beralih ke tanaman jagung” ungkap Suhardi.

Peralihan pilihan jenis tanaman yang dilakukan oleh petani dan pekebun menurutnya merupakan dinamika sistem pertanian sama halnya dengan proses pengolahan lahan pertanian yang saat ini menggunakan alat dan mesin pertanian modern dan mulai meninggalkan bajak dengan kerbau. Selain itu proses penjualan dan pembelian pupuk dengan sistem manual diganti dengan sistem online (billing system) merupakan perkembangan masyarakat petani yang semakin modern dan maju.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: