SENIN, 15 AGUSTUS 2016

LOMBOK --- Musim tanam tembakau yang tidak serempak akibat cuaca tidak menentu, membuat petani Lombok melakukan panen tidak serempak pula. Di beberapa wilayah, sebagian petani tembakau sudah mulai panen dengan harga yang dinilai masih murah.


"Harga daun tembakau basah pada panen tahun ini sama saja dengan musim tanam tahun lalu, masih murah, di mana harga tetap 200 ribu perkwintal," kata Sali, petani tembakau Desa Pengembur, Kabupaten Lombok Tengah NTB, kepada Cendana News, Senin (15/8/2016).

Ia mengatakan, harga tersebut belum termasuk upah buruh tani yang membantu melakukan panen di sawah, sehingga masih jauh dari harapan.

"Masih jauh dari harapan petani untuk bisa mendapatkan untung, tapi mau bagaimana lagi, daripada tidak ada yang membeli, petani lebih pusing lagi,"sebutnya.

Sahlan, petani tembakau lain mengungkapkan, kalau bicara harga tembakau basah memang harganya dari dulu kisarannya di antara 200 sampai 250 ribu, jarang sekali bahkan tidak pernah ada ceritanya, harga tembakau perkwintal sampai 300 ribu.

"Tapi sebenarnya, harga 200 ribu perkwintal tembakau basah sebenarnya tidak menjadi persoalan, asalkan pembayarannya lancar, itu saja kita sebagai petani sudah senang," ungkapnya.

Tapi, kata ia, yang mengecewakan, nanti harganya sudah murah, pembayaran macet bahkan terkadang tidak dibayar, dengan alasan tidak jelas, bagaimana petani tidak rugi, belum lagi biaya yang sudah dikeluarkan tidak sedikit, mulai dari proses penggarapan lahan hingga panen.
[Turmuzi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: