RABU, 17 AGUSTUS 2016

SOLO --- Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diperingati dengan upacara maupun berbagai lomba. Di Solo, Jawa Tengah, mahasiswa justru melakukan refleksi 71 tahun merdeka dengan menggelar aksi unjuk rasa. Aksi yang dilakukan dengan memblokir jalan di depan kampus UNS ini mengkritisi Presiden yang dinilai selama kepemimpinannya justru terkesan tidak terkelola dengan baik.


"Dalam refleksi 71 tahun Indonesia merdeka, kami menekankan bahwa Indonesia bukan untuk bermain-main. Indonesia juga bukan tempat untuk melakukan kebijakan yang main-main,"ujar Farhan Ramadan, koordinator aksi kepada wak media, Rabu siang (18/8/16).

Dikatakan, dalam aksi ini mahasiswa sangat prihatin, refleksi Kemerdekaan RI yang sudah berusia 71 tahun, namuan rayat masih merasakan berbagai penderitaan. Bahkan selama dua tahun terakhir, kondisi bangsa Indonesia dinilai seperti bahan percobaan kebijakan.

Aksi yang dilakukan dengan membentangkan spanduk dan poster di tengah jalan ini juga menilai Pemerintahan Jokowi tak ubahnya seperti biro jodoh, yang mencoba-coba mencocokkan seseorang untuk duduk di kursi kabinetnya.  Selama hampir dua tahun, kepemimpinan Jokowi  terkesan terlalu sering melakukan perombakan kabinet. Bahkan kasus terakhir, pencopotan menteri ESDM yang baru bekerja selma 20 hari karena masalah kewarganegaraan tak luput dari sikap kritis mahasiswa.

“Seorang menteri yang diangkat hanya selama 20 hari. Ini artinya kurangnya matangnya Presiden dalam memilih orang yang akan duduk dalam kabinetnya. Dengan dicopotnya menteri ESDM,  saya kira kebijakan yang dilakukan Presiden adalah kebijakan yang main-main. Hal inilah yang membuat kami beranggapan bahwa Indonesia saat ini krisis kepemimpinan,” tegasnya.

Seringnya pasang copot dalam Kabinet Kerja Jokowi menjadi seakan bukti managamen yang dilakukan Presiden kurang matang.  Terlepas dari isi jatah partai, menteri titipan, dalam kondisi ini Presiden yang mengemban amanah tertinggi harus membusungkan dada dan melantangkan suaranya dalam menentukan keputusan. 

“Tapi ironisnya hingga saat ini tidak ada keterangan resmi atau penjelasan langsung oleh Presiden atau pencopotan salah satu menterinya,” tandasnya.


Mahasiswa  berharap, diusianya yang ke 71 tahun ini, bangsa ini tidak lagi mencari-cari jati diri. Bangsa Indonesia seharusnya sudah dapat menikmati  hasil perjuangan keras oleh pendahulunya dan hidup dengan makmur sejahtera. Melalui aksi refleksi 71 tahun kemerdekaan ini, mahasiswa berharap pemerintah lebih serius dalam mengemban amanah untuk menjadi pemimpin bangsa.
[Harun Alrosid]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: