MINGGU, 28 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Kawasan kota yang masih memiliki hutan merupakan sebuah oase untuk warga yang ingin menikmati kesunyian dan merasakan berada dekat dengan alam. Suasana tersebut menjadi sebuah anugerah yang bisa dinikmati warga Kota Bandar Lampung yang bisa keluar dari hiruk pikuk kendaraan dan sejenak beristirahat di hutan wisata kera yang berada di Sumur Batu Teluk Betung Utara Bandar Lampung. 


Lokasinya yang berada dekat dengan kota memudahkan pengunjung yang ingin menuju ke lokasi tersebut dengan mudah sekaligus melihat Teluk Lampung dari ketinggian. Beberapa masyarakat menyebut kawasan hutan wisata kera dengan kawasan hutan Tirtosari yang merupakan kawasan sumber air bagi warga. Beberapa pohon berukuran besar masih dipertahankan karena menurut warga masih dimanfaatkan sebagai sumber pemasok air.

Hutan wisata kera merupakan saksi sejarah dengan adanya bunker bunker goa peninggalan Jepang yang saat ini masih bisa ditemui meski sebagian sudah ditutup. Saat memasuki area hutan wisata kera, pengunjung akan disambut dengan satwa jenis kera ekor panjang atau Macaca Fascicularis yang bergelantungan di atas pohon, sebagian bahkan terlihat jinak dan bercengkerama dengan pengunjung yang membawakan makanan dan minuman untuk para kera tersebut. 

Menurut Ahmad (34) warga di sekitar hutan wisata kera, pada saat jam-jam tertentu jumlah kera yang turun dan bisa diajak bercengkerama bisa mencapai ratusan, namun sebagian beristirahat di atas pohon-pohon besar dan tinggi di lokasi tersebut.

"Kalau sudah lapar nanti banyak yang turun tapi sebagian juga ada yang tetap bermalas malasan di pohon dan ada yang sedang menyusui anaknya di atas pohon, rata-rata kera yang ada di sini jinak bahkan anak kecilpun berani memberi makan kacang atau kue kue,"ungkap Ahmad saat ditemui Cendana News di hutan wisata kera, Bandar Lampung, Minggu (28/8/2016).

Selain sebagian bergelantungan di pohon, sebagian kera-kera tanpa takut mendatangi pengunjung dengan cara berjingkat jingkat dan sebagian melompat ke pagar besi yang digunakan sebagai pembatas hutan tersebut dengan rumah warga. Terkesan tidak ada rasa takut bahkan tak segan mendekati pengunjung yang sengaja datang membawa makanan ringan dan minuman untuk diberikan kepada kera kera yang ada di lokasi tersebut. Beberapa kera bahkan naik ke kendaraan roda dua dan duduk dengan santai di jok motor setelah diberi makanan berupa kacang.


Menurut Ahmad, Taman Hutan Kera Tirtosari Kelurahan Sumur Batu kecamatan Telukbetung Utara tersebut selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung yang mengajak serta keluarga diantaranya anak anak terutama sore hari dan semakin ramai saat akhir pekan Sabtu dan Minggu sore. Sebagian sengaja datang untuk berswafoto bersama kera-kera yang terlihat jinak tersebut bahkan pengunjung menyukai lokasi tersebut karena sama sekali tidak dipungut biaya layaknya tempat wisata lain.

Sementara itu pengelola taman hutan kota, Hi Keno Rukmana, kera-kera tersebut awalnya muncul di taman hutan kota sekitar tahun 1984 saat puteranya berburu di kawasan tersebut dan tanpa sengaja menembak seekor kera jantan. Akibat tembakan tersebut kera tersebut selanjutnya dibawa ke rumah untuk diobati sebab sebaagi seorang PNS yang bertugas di dinas kesehatan dirinya bisa melakukan operasi menyembuhkan kera tersebut. Setelah sembuh kera tersebut dipelihara namun akhirnya kembali ke habitat aslinya.

Kera tersebut terlihat muncul bersama dengan kera-kera lain yang akhirnya tinggal di kawasan tersbeut dan kini jumlahnya mencapai ratusan. Meski menjadi sebuah tempat wisata yang unik dan sering dikunjungi pengunjung warga Bandar Lampung namun tempat tersebut hingga kini dikenal sebagai lokasi wisata hutan kera yang bisa dikunjungi tanpa harus merogoh kocek. Pengembangan lokasi tersebut sebagai tempat wisata bahkan masih belum cukup memadai dengan kondisi apa adanya hingga sekarang.


Putri, salah satu pengunjung yang mengajak serta dua temannya mengaku sering mengunjungi lokasi tersebut setelah berkeliling kota Bandar Lampung. Sebab selain bisa bercengkerama dengan kera ia juga membawakan makanan berupa kacang untuk kera-kera tersebut. Selain itu dirinya menunggu saat sore sambil melihat suasana Teluk Lampug dari ketinggian.

"Sekalian mampir dan kalau menjelang malam suasananya sangat romantis dari lokasi ini kami bisa melihat Teluk Lampung menyala dengan adanya kapal kapal yang mencari ikan" ungkap Putri.

Selain Putri, terlihat beberapa warga juga mendekati kera-kera yang sebagian naik di pagar rumah warga dan sebagian tetap duduk di dahan dahan pohon. Beberapa ekor kera bahkan terlihat memiliki beberapa anak yang mengakibatkan sang induk lebih agresif saat anak anak mereka didekati, sementara sebagian kera lainnya sengaja duduk di lantai paving blok yang ada di lokasi tersebut. Sebagian warga masih terus mengunjungi hutan kera tersebut terutama lokasi tersebut digunakan sebagai lokasi pengembangan konservasi dan menjaga ekologi dengan adanya kolam renang Tirtosari yang kini tidak dioperasikan dan hanya menjadi sumber air bagi warga dan juga bagi kera kera yang hidup di kawasan tersebut. Keberadaan kera yang hidup berdampingan dengan perumahan warga dan hutan di tengah tengah kota menjadi salah satu bentuk menjaga keseimbangan ekologis warga Bandar Lampung.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: