JUMAT, 5 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Kondisi degradasi lahan di beberapa wilayah di Indonesia yang kian memprihatinkan salah satunya di wilayah provinsi Lampung tidak bisa dipungkiri. Degradasi lahan terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada bagian hulu dan terlebih di bagian hilir terus meningkat dan bahkan terkesan tak terkendali.


Hal tersebut dikemukakan oleh salah satu pendamping lingkungan,Ir. Idi Bantara ,Msc yang memiliki perhatian khusus terhadap kondisi alam dan lingkungan daerah aliran sungai. Dampak kerusakan tersebut diantaranya bahkan merusak siklus hidrologi sehingga berdampak pada krisis air banyak petani kesulitan mendapat pasokan air pada masa tanam terutama tanaman padi sawah.

Idi Bantara selaku salah satu pendamping masyarakat dalam bidang kehutanan di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Sekampung Way Seputih (BPDAS WSS) mengungkapkan, selama ini dirinya telah mendampingi masyarakat di kawasan sungai di Lampung diantaranya di Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus,Kabupaten Lampung Barat serta beberapa wilayah lain di Lampung berkaitan dengan konservasi kawasan sungai. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman konservasi di wilayah aliran sungai adalah bambu yang menurutnya tindakan konservasi menggunakan kayu dalam pemulihan hutan masih terbilang mahal dan memerlukan waktu lama.

“Salah satu langkah bijaksana yang bisa diambil dalam waktu jangka pendek terutama untuk melindungi DAS adalah dengan memanfaatkan bambu sebagai tanaman konservasi dan tanaman tersebut masih banyak terdapat di Lampung” ungkap Idi Bantara saat dikonfirmasi media Cendana News, Jumat (5/8/2016)

Potensi tanaman bambu tersebut menurut laki laki asal Solo Jawa Tengah tersebut memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik sehingga mampu meningkatkan water storage (cadangan air bawah tanah) secara nyata. Selain itu karena tanaman bambu memiliki keistimewaan mudah ditanam serta memiliki pertumbuhan sangat cepat dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Selain memiliki pertumbuhan yang cepat investasi penanaman bambu hanya membutuhkan waktu 3,5 tahun dan bisa dipanen serta mampu menghasilkan banyak oksigen bagi lingkungan.


Idi melanjutkan tanaman bambu yang bisa menjadi hutan di sepanjang daerah aliran sungai atau di pinggir sungai bisa ditanam melalui konsep yang tidak mengganggu tanaman pertanian milik masyarakat lainnya. Konsep penanaman bambu pun memiliki perbedaan, tanaman bambu yang ditanam di pinggir sungai disebut penanaman kaki kiri sungai (kakisu), sementara tanaman bambu yang ditanam di hulu (bukan pinggir sungai) disebut pelestarian DAS. Ia menerangkan bahwa DAS bukan sungai tapi daerah tangkapan aliran air hujan yang akhirnya mengalir. Ke sungai atau biasa disebut Catchmen area(Area Penangkapan).

Langkah dan upaya dari pihak BPDAS-WSS selama ini telah mengembangkan persemaian bambu untuk bibit di lokasi persemaian permanen di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan. Meski sudah memiliki bibit tanaman bambu namun lokasi persemaian permanen saat ini belum mampu memproduksi banyak untuk bibit melainkan baru untuk indukan. Ia memprediksi akhir tahun ini bibit serta indukan tanaman berbagai jenis bambu diantaranya bambu ori,bambu petung,bambu tali,bambu hitam dengan maskimal bibit masih dikisaran 1000 batang.

Ia juga mengungkapkan upaya konservasi sungai harus melibatkan banyak pihak selain masyarakat, sebab ada perbedaan antara pemanfaatan sungai dan DAS. Selama ini pemanfaatan sungai ditangani instansi Dinas Pekerjaan Umum, sementara DAS ditangani oleh BPDAS yang menangani lahannya atau di hulu yang meliputi gunung-gunung, hutan, kebun, pemukiman dan lain-lain.

Ia menuturkan penanaman bambu  sangat dianjurkan, tapi saat ini minat masyarakat menanam bambu masih kurang terutama di wilayah yang kebutuhan akan pemukiman sudah sangat mendesak membuat banyak tanaman bambu dimusnahkan. Upaya dari BPDAS-WSS menurut Idi Bantara saat ini selain melakukan upaya pembibitan di lokasi persemaian permanen pihaknya juga telah memulai pembibitan dan sosialisasi di wilayah Kabupateni Pringsewu yang dijuluki kabupaten bambu seribu.

Pentingnya peranan bambu diakui Idi masih bisa terlihat di beberapa wilayah di Lampung bahkan ia mencatat bambu alam masih tersedia melimpah di Kabupaten Lampung Barat,Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Utara,Kabupaten Lampung Selatan meski pemanfaatan tanaman bambu masih sebatas  untuk bahan bangunan.

“Kurangnya sosialisasi serta pelatihan mengakibatkan pemanfaatan tanaman bambu, untuk kerajinan skala besar belum banyak, namun beberapa petani binaan yang kami dampingi mulai melakukan pengolahan bambu untuk kerajinan terutama di wilayah Lampung Barat” ungkap Idi Bantara.


Idi Bantara menuturkan saat ini masyarakat mulai mengetahui pentingnya menabung dengan cara menanam pohon terutama bambu karena banyak konstruksi bangunan saat ini masih memanfaatkan tanaman bambu. Satu tanaman bambu untuk kebutuhan bangunan di beberapa wilayah di Lampung saat ini bahkan bisa mencapai Rp 4.000 per batang.

Pentingnya tanaman bambu untuk konservasi lingkungan khususnya menjaga ekosistem tanah dan air menurut Idi hanyalah salah satu dari banyak manfaat bambu. Sebab sebagian bambu bisa digunakan sebagai bahan industri pulp dan kertas, kayu lapis, mebel, anyaman, peralatan pertanian dan peternakan. Selain itu daun bambu bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan rebung bambu bisa diolah menjadi bahan makanan manusia. Selain itu tanaman bambu merupakan sumber daya lokal yang tak perlu diimpor namun memiliki nilai ekonomis sangat tinggi.

Ia mengungkapkan akan terus mendampingi masyarakat pedesaan terutama di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) karena ke depan seiring dengan pembangunan yang  berkembang beberapa wilayah akan kekurangan tanaman bambu. Ia mengungkapkan di wilayah Lampung ke depan pengembangan masih ke arah minat konservasi dan potensi bahan untuk pembuatan bagan (alat tangkap nelayan) di wilayah Lampung dan Jakarta.

“Kami masih mengumpulkan data jenis bambu yang potensial dan berdasarkan catatan kami sementara bambu petung, dan kami juga baru mencari bambu yang unik, salah satunya bambu hias Lampung Selatan untuk kami kembangkan” ungkap Idi.

Ia mengaku permasalahan pengembangan konservasi bambu diantaranya kurangnya perhatian pemerintah daerah padahal setiap provinsi memiliki luas lahan yang cukup dan kurang dimanfaatkan. Meski demikian ia menegaskan pemanfaatan bambu untuk konservasi dan menambah ekonomi masyarakat di sektor usaha kecil telah dimanfaatkan sebagian masyarakat yang tekah didampingi di wilayah Lampung.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: