KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Ratusan petambak ikan bandeng di wilayah Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan kondisi matinya budidaya  ikan bandeng di areal tambak yang mereka miliki. Beberapa petambak bahkan mengaku telah mengalami kerugian akibat puluhan kuintal ikan bandeng yang akan dipanen mati mendadak. Beberapa kuintal ikan bahkan mengambang di tepi tambak dan sebagian sudah membusuk dan menimbulkan bau tak sedap.


Salah satu petambak di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi,Sopian (40),mengaku kondisi ikan yang mati mendadak sudah terjadi selama beberapa pekan meski ikan yang mati tidak berlangsung bersamaan namun rata rata perhari bisa mati sebanyak 50 kilogram yang tersebar di beberapa petak tambak miliknya. Sopian yang memiliki tambak sebanyak 6 petak dengan ukuran rata rata 50 meter x 40 meter mengaku menebar benih ikan bandeng sebanyak 6 ton sekitar empat bulan lalu. Ia mengaku sebagian ikan yang ia tebar sudah mati mendadak dengan kondisi badan rusak pada bagian sisik.

“Setiap ikan bandeng yang mati langsung saya ambil menggunakan serokan dan jaring agar kondisi air tetap bagus dan tidak banyak ikan yang membusuk di area tambak,sudah hampir dua kuintal dari enam petak tambak ikan yang mati” keluh Sopian saat berbincang dengan Cendana News, Kamis (11/8/2016)

Ia mengungkapkan kematian secara mendadak ikan bandeng yang dibudidayakannya diduga akibat adanya peralihan air hujan yang masuk ke dalam tambak membuat oksigen air tambak berkurang dan membuat ikan tidak bisa beradaptasi. Selain itu ia menduga ada semacam virus yang menyerang ikan miliknya karena sebagian ikan yang nyaris mati rata rata mengalami luka pada bagian tubuh dengan kondisi sisik mengelupas.


Ia bahkan menerangkan jika ada serangan hama dan penyakit tertentu biasanya tidak mengakibatkan kematian massal pada ikan budidaya miliknya karena hama biasanya hanya berupa burung bangau pencari ikan, biawak atau hama lain yang bisa dihalau dan dikendalikan. Namun faktor cuaca diakuinya sukar dikendalikan karena berimbas pada kondisi air tempat hidup ikan budidaya.

Cuaca buruk dan intensitas hujan yang tinggi pada beberapa pekan ini diakuinya mengakibatkan ikan kekurangan oksigen karena terjadi umbalan atau arus balik di dasar tambak. Kondisi tersebut diantaranya menimbulkan pertumbuhan jenis penyakit dan ikan mengalami stress akibat perubahan cuaca.

“Saya rencanakan minggu depan panen sebab kalau tidak segera dipanen saya akan mengalami kerugian lebih banyak karena banyak ikan yang mati di beberapa petak lahan tambak saya” ujarnya.

Ia mengaku meski menjual ikan di tambak dalam kondisi belum cukup umur dan beresiko rugi namun ia memilih melakukan panen dini untuk menghindari kerugian lebih besar. Resiko yang siap dihadapi oleh Sopian diantaranya harga ikan lebih murah dibanding ikan yang sudah siap panen dan jual. Ukuran ikan bandeng lebih kecil dipastikan mempengaruhi harga terutama jika dijual kepada pengepul.


Ansori (50), petambak lain di desa setempat mengatakan dengan kondisi banyaknya ikan mati, ikan hanya dihargai Rp5.000 hingga Rp8.000 perkilogram oleh tengkulak. Padahal dengan kondisi normal ikan bisa dijual dengan harga di atas Rp10.000 per kilogram. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan kerugian lebih besar seperti tahun sebelumnya. Selain itu petambak melakukan langkah dengan mengurangi penebaran bibit ikan pada masa tebar selanjutnya.

Penyuluh budidaya perikanan dari BP3 K wilayah setempat, Safruddin, mengaku penyakit pada ikan bandeng didominasi oleh virus dan bakteri. Menurutnya secara kasat mata perubahan iklim menjadi faktor utama karena penyakit biasanya timbul karena perubahan iklim dan kondisi air yang sudah tercemar. Meski demikian perlu pengecekan melalui laboratorium penyebab utama ikan mati mendadak.

“Perlu pengecekan kondisi air pada lahan tambak terutama paska hujan yang mulai sering mengguyur wilayah tambak di Sragi ini sehingga bisa ditemukan penyebab utama kematian ikan tambak” terangnya.

Selain itu hama pada ikan menurutnya terdiri dari predator, seperti jenis ikan nelanak, payus, bioso serta kepiting selain itu ikan mujair, udang, serangga dan siput kerap menjadi musuh alami dalam budidaya ikan bandeng.

Ia melanjutkan, selain faktor itu itu beberapa penyakit pada ikan bandeng yang disebabkan oleh bakteri, virus, ektoparasit dan lingkungan yang kurang baik untuk pertumbuhan ikan terutama kondisi hujan dan cuaca. Jenis parasit yang menyerang ikan bandeng selama ini diantaranya Caligus sp, Caligus epidemicus, caligus punctatus, serta parasit lainnya.

Ia berharap peralihan cuaca bisa diantisipasi dan diwaspadai oleh para petambak sebab peralihan cuaca membuat budidaya ikan tambak rawan penyakit. Namun ia yakin pada umumnya para petambak sudah bisa mengantisipasinya sehingga ketika terjadi musim pancaroba para petambak akan mengganti jenis budidaya ikan yang lebih tahan terhadap penyakit.

Pantauan Cendana News, beberapa petambak membiarkan lahan tambaknya tidak diisi dengan bibit ikan sementara petambak lain membersihkan ikan ikan bandeng yang mati dan mengambang di tepi tambak. Ratusan hektar lahan tambak bahkan sebagian dibiarkan kering tanpa dialiri air yang bersumber dari air sungai Way Sekampung dan air dari pantai pesisir Timur Lampung tersebut.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: