RABU, 10 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Di tengah situasi global penuh peperangan yang terjadi karena perbedaan agama, suku dan kepercayaan, sudah seharusnya Indonesia mengambil peran penting dalam menyebarkan toleransi antar umat beragama, kerukunan dan kedamaian dalam keberagaman hidup bermasyarakat.


Hal demikian diungkapkan putri almarhum Gus Dur, Yenny Wahid, usai menghadiri Konferensi Bilateral Unites Stated Indonesia Society (USINDO) antara Amerika Serikat dan Indonesia di Yogyakarta, Rabu (10/8/2016). 

Yenny mengatakan, ada kehausan dari dunia global agar Indonesia bisa berperan lebih besar dalam menciptakan toleransi antar umat di dunia.

Menurut Yenny, budaya dan dasar negara Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai perbedaan bisa dipromosikan ke dunia untuk menciptakan perdamaian dan mengurangi peperangan. Selain itu, melalui konferensi bilateral tersebut Indonesia juga bisa menunjukkan wajah umat muslim di tanah air yang cinta damai, santun dan berbudaya.

Hal itu, kata Yenny, menjadi sangat penting di tengah semakin seringnya terjadi aksi terorisme berkedok Islam di Indonesia. Bahkan, di Amerika Serikat ada fobia terhadap muslim, sehingga melalui konferensi yang membahas tentang toleransi dan pluralisme yang ada di kedua negara sahabat itu, Indonesia berkesempatan menunjukkan jika Islam itu bukan teroris.

Konferensi bilateral USINDO digelar guna membahas berbagai hal terkait toleransi antar umat beragama, keberagaman dan plurasime di kedua negara. Konferensi tersebut dihadiri oleh puluhan tokoh keagamaan dan aktifis toleransi agama dari dua negara. 

Melalui konferensi itu, kata Yenny, kedua negara bisa saling bertukar ide dan pengalaman terkait upaya membangun toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman yang ada di masing-masing negara.

"Amerika nanti bisa belajar banyak kepada Pemerintah Indonesia dalam menjalin hubungan harmonis antar negara. Sementara, Indonesia sendiri juga bisa belajar bagaimana melindungi dan memberikan jaminan kepada kaum minoritas," ungkap Yenny.

Sementara itu dalam sambutannya, Presiden USINDO, David Merill mengatakan, konferensi bilateral tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen Presiden Obama dan Presiden Joko Widodo untuk menciptakan strategi persahabatan (strategic partnership) yang dicetuskan dalam pertemuan antara keduanya pada 26 Oktober 2015 di Amerika.

Amerika dan Indonesia, kata David, merasa sama-sama memiliki warga negara yang beragam dari berbagai suku, negara dan agama. Namun, keduanya menjunjung tinggi keberagaman, pluralisme dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

"Dalam konferensi ini, Amerika dan Indonesia akan saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman untuk mengembangkan toleransi dan menyikapi keberagaman yang ada untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan mempromosikannya kepada dunia," pungkas David. 
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: