RABU, 24 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang berhak menerbitkan Lisensi Perjanjian Kemitraan Sukarela dan Penegakan Hukum Tata Kelola dan Perdagangan Bidang Kehutanan (Forest Law Enforecement, Governance and Trade Voluntary Partership Agreement/FLEGT VPA).


Hal demikian menyusul telah disetujuinya usulan Komisi Eropa tentang pengakuan Lisensi FLEGT VPA bagi Indonesia oleh Parlemen Eropa pada 9 Agustus 2016, yang kemudian ditindak-lanjuti lagi oleh Komisi Eropa dengan menerbitkan Regulasi Uni Eropa yang mengakui Indonesia telah memenuhi persyaratan dalam kerangka Undang-undang Perdagangan Uni Eropa (UE Trade Regulation) dan Perjanjian Sukarela (VPA) di bidang produk kayu. 

"Dengan terbitnya regulasi itu, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memperoleh Lisensi FLEGT untuk ekspor produk kayu ke pasar Uni Eropa, jauh meninggalkan negara-negara pesaingnya  di Afrika yang juga sudah mempunyai VPA, Negara-negara di Amerika Latin, dan ASEAN seperti Vietnam, Myanmar, Thailand, Laos dan China", jelas Staf Ahli Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Ir. Laksmi Dhewanti, MA., dalam sosialisasi Lisensi FLEGT VPA di Yogyakarta, Rabu (24/8/2016).

Laksmi mengatakan, diraihnya Lisensi FLEGT VPA akan menjamin semua produk ekspor kayu Indonesia yang telah bersertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) tidak perlu lagi menjalani uji tuntas sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perdagangan Uni Eropa. Hal tersebut, kata Laksmi, juga membuktikan jika SVLK yang dikembangkan sejak tahun 2001 oleh Indonesia guna melindungi dan menjamin kelestarian hutan, diakui oleh 28 negara anggota Uni Eropa, sebagai suatu sistem yang menjamin produk kayu asal Indonesia bukan berasal dari pembalakan liar atau ilegal logging.

Lisensi FLEGT VPA Indonesia akan diberlakukan resmi pada 15 November 2016 setelah semua Otoritas Kompeten (Competent Authority) di semua negara Uni Eropa telah siap menerima eksport produk kayu dengan Lisensi FLEGT Indonesia. Laksmi berharap, dengan diraihnya Lisensi FLEGT tersebut, akan meningkatkan industri perkayuan di Indonesia, karena Lisensi FLEGT tak hanya akan membuat produk kayu Indonesia diterima di negara-negara Uni Eropa. Melainkan, juga negara-negara lain di luar Uni Eropa.

Sosialisasi Lisensi FLEGT VPA dihadiri sejumlah pejabat terkait antara lain Kepala Dinas Kehutanan Provinsi DI Yogyakarta, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Provinsi DI Yogyakarta, dan sejumlah perwakilan dari Kementerian Perdagangan dan Lembaga Verifikasi dan Tim Pemantau Independen. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: