RABU, 24 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Fasilitas infrastruktur pendukung kegiatan masyarakat untuk melakukan mobilitas dari wilayah pedalaman ke kota yang masih minim menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat di Pekon Bandardalam Kecamatan Belimbing Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat Lampung. Beberapa pekon diantaranya Pekon Bandardalam, Pekon Way Haru serta beberapa dusun di wilayah tersebut hingga saat ini terisolir akibat tidak adanya fasilitas jalan yang memadai berikut jembatan. Ratusan Kepala Keluarga (KK) yang akan melakukan aktifitas di Kecamatan Way Heni bahkan terpaksa harus melewati jalan tanah, melewati padang savana, tepi pantai dengan ombak Samudera Hindia yang ganas dan melewati beberapa muara sungai.


Salah satu warga Pekon Way Haru, Sodikin, merupakan salah satu pemilik jasa gerobak sapi yang merupakan kendaraan favorit di tempat tersebut karena kondisi jalan yang tak memungkinkan dilalui kendaraan roda empat besar. Dirinya mengaku untuk menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer diperlukan waktu selama setengah hari dengan sebagian waktu dipergunakan untuk istirahat. Ia mengaku waktu istirahat digunakan untuk memberi kesempatan sapi penarik gerobak makan dan minum untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.

"Warga ada yang mengojek hasil bumi yang akan dijual ke kota kecamatan diantaranya kelapa, lada, sayuran serta hasil bumi lainnya yang tidak bisa didistribusikan menggunakan kendaraan roda empat," ungkap Sodikin saat berbincang dengan Cendana News di Pekon Bandardalam, Rabu (24/8/2016).

Perjalanan dengan jarak tempuh dan waktu yang lama menjadi perjalanan rutin yang dilakukan oleh Sodikin dan puluhan rekan lainnya yang memiliki pekerjaan sebagai ojek gerobak. Ia mengaku tak jarang akibat kelelahan dirinya mengaku pernah mengalami satu ekor sapi miliknya mati dalam perjalanan karena kondisi medan yang cukup berat dan harus melewati ombak, beberapa rekan bahkan pernah mengalam sapi dan gerobaknya tergulung ombak Samudera Hindia.


Beberapa fasilitas yang selama ini ada menuju pedalaman diantaranya hanya jembatan gantung dari tali sling baja, jembatan ponton yang disewakan serta jembatan terbuat dari kayu. Khusus untuk jembatan ponton, pengelola mewajibkan penyeberang membayar biaya ponton yang digerakkan oleh tenaga manusia dengan biaya Rp5ribu sekali menyeberang sehingga untuk perjalanan pulang pergi pengendara harus mengeluarkan uang Rp10ribu. Kondisi tersebut terjadi pada sekitar 9 sungai yang harus membayar untuk menyeberang bagi pengguna kendaraan roda dua. Sementara bagi pemilik gerobak sapi, jalur sungai masih bisa dilewati menyusri sungai yang dangkal.

Kepala Pekon di wilayah tersebut, Ansor, mengungkapkan kondisi buruknya infrastruktur jalan, jembatan sudah ada sejak puluhan tahun silam dan hingga saat ini belum ada perhatian dari pemerintah terkait. Ia bahkan mengungkapkan wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat dan kini menjadi Kabupaten Pesisir Barat tersebut masih memiliki banyak wilayah yang tak tersentuh pembangunan diantaranya dengan kondisi jalan masih jalan tanah dan jalan berbatu.

Ia mengaku idealnya di beberapa sungai yang selama ini menjadi penghambat mobilitas warga terutama saat banjir rob pasang tertinggi dan musim penghujan segera dibuat jembatan permanen. Ketiadaan jembatan permanen dan jembatan gantung bahkan berakibat warga sama sekali tidak bisa melakukan perjalanan karena harus melawan resiko terbawa banjir dan beresiko pada kendaraan yang digunakan mengalami kerusakan. Akibatnya saat musim penghujan dan kondisi ketiadaan jembatan aktifitas ekonomi masyarakat terganggu dan berdampak harga barang di wilayah tersebut menjadi mahal dua kali lipat dibandingkan harga barang di kota kecamatan.

"Kami sudah mengusulkan untuk perbaikan jalan dan jembatan namun dengan adanya kondisi alam yang cukup sulit maka terpaksa beberapa usulan harus menunggu dan dialihkan ke pembangunan bidang lain," ungkap Ansor.


Ia tetap mengaku senang karena pemerintah pusat melalui Dirjen Energi Baru, Terbarukan Kementerian ESDM memberikan bantuan instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk beberapa wilayah yang tak tersentuh listrik PLN. Selain itu bantuan sumur bor untuk beberapa peratin serta Rukun Tetangga (RT) di wilayah tersebut telah cukup membantu warga yang selama ini kesulitan air bersih.

Pantauan Cendana News, moda transportasi menggunakan gerobak sapi menjadi salah satu kendaraan utama bagi masyarakat untuk pergi ke pasar. Para pemilik gerobak biasanya melakukan konvoi dengan jumlah pengendara gerobak berkisar 5-10 gerobak untuk saling membantu jika terjadi kerusakan pada gerobak. Setelah melakukan perjalanan selama satu hari penuh diselingi istirahat, para pengojek dan pemilik gerobak biasanya akan melakukan transaksi jual beli di pasar Way Heni.

Seusai transaksi di pasar dengan menjual hasil bumi yang dihasilkan diantaranya kakao, kelapa, lada, padi, para pemilik gerobak pulang dengan membawa keperluan warga untuk dijual kembali. Sebagian membawa gas elpiji 3 kilogram, mie instan, keperluan rumah tangga lain serta barang barang dagangan yang bisa dijual kembali di pedalaman. Para pemilik gerobak tersebut berharap jalan yang saat ini terbuat dari tanah bisa segera diperbaiki agar aktifitas ekonomi masyarakat yang selama ini mengandalkan gerobak sapi bisa bergeser menggunakan moda transportasi lain.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: