KAMIS, 4 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Sebanyak tiga jembatan di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan mulai diperbaiki dengan sumber pendanaan Anggaran Dana Desa (DD). Jembatan penghubung dan merupakan akses penting bagi masyarakat tersebut diantaranya dua unit jembatan di lingkungan RK 9, dan satu unit jembatan di RK yang melintas di beberapa sungai kecil yang mengalir ke sungai Way Pisang, sungai terbesar di wilayah tersebut. Hujan lebat dan faktor usia yang sudah cukup lama mengakibatkan beberapa jembatan mengalami kerusakan permanen dan sebagian sehingga harus diperbaiki.


Jembatan selebar 4 meter dengan panjang 6 meter tersebut menurut warga merupakan akses penting bagi ratusan warga di wilayah Gunung Botol, Kediri, Blitar yang merupakan kawasan lahan pertanian dan perkebunan. Selama ini masyarakat petani di wilayah tersebut harus memilih jalan alternatif lain akibat jembatan yang tak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Beberapa jembatan bahkan harus dibangun dengan sistem pengecoran agar bisa dilalui oleh kendaraan pengangkut komoditas pertanian.

“Total ada sebanyak tiga jembatan yang mendapat prioritas perbaikan karena jembatan tersebut merupakan salah satu akses penting bagi mobilitas warga dan juga petani yang tinggal di wilayah transmigrasi ini,”ungkap Marsudi,salah satu tokoh masyarakat di RK 9 Desa Karangsari Kecamatan Ketapang saat dikonfirmasi media Cendana News,Kamis (4/8/2016)

Tiga jembatan yang dikerjakan secara bersamaan tersebut dikerjakan oleh masyarakat dengan proses awal penggalian secara manual dan menggunakan alat berat. Khusus jembatan di RK 9 akibat kondisi talud tidak layak dilalui. sepanjang 7 meter dan cenderung membahayakan, sebagian besar talud sengaja dibongkar dan dilakukan perbaikan ulang.

Proses perbaikan tiga jembatan tersebut mendapat respon positif dari warga masyarakat terutama orangtua yang anak anaknya bersekolah di SDN 1 Karangsari. Selain membahayakan bagi anak anak saat akan berangkat dan pulang sekolah sehingga sebagian harus berjalan memutar melalui jalan lain.


“Beruntung sekarang saat ini ada dana desa yang bisa dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur yang berguna untuk kepentingan masyarakat” ungkap Andi,salah satu warga.

Menurut Kepala Desa Karangsari,Sulistiono, secara khusus di Desa Karangsari memiliki beberapa dusun yang dalam sejarah awalnya merupakan daerah transmigrasi. Menurutnya pelaksanaan transmigrasi tersebut berlangsung sekitar tahun 1970 dan 1971.

Dari data desa, tercatat hingga tahun ini jumlah warga di Desa Karangsari meliputi 1.185 Kepala Keluarga, terdiri dari 10 dusun yang masing masing merupakan warga transmigran. Warga Trans Kediri terdiri dari 75 KK, Trans Blitar 50 KK, Trans Cilacap 210 KK, Dusun I 110 KK, Dusun II 80 KK, Dusun III 50 KK, Dusun IV 80 KK, Dusun X 60 KK serta Dusun IX 90 KK. Data tersebut menurutnya merupakan data global sebab banyak juga warganya yang bekerja di luar daerah seperti di daerah Jakarta.

Sulistiono bahkan mengungkapkan seperti beberapa pola transmigrasi di Indonesia, demikian juga yang dilakukan oleh para transmigran di desa Karangsari.

Pelaksanaan transmigrasi di Indonesia dapat dibedakan menurutnya atas beberapa kategori, yaitu transmigrasi spontan, transmigrasi umum, transmigrasi keluarga, transmigrasi bedol desa, dan transmigrasi lokal. 


"Kebetulan jika di desa kami rata-rata transmigrasi spontan yang umumnya masih satu dusun atau satu desa yang terjadi akibat kondisi di daerah asalnya dulu," ungkap Sulistiono.

Sulistiono bahkan menuturkan berdasarkan kisah para transmigran yang ada di Desa Karangsari, para warga transmigran tersebut datang ke Karangsari karena di daerah asalnya memang tidak memiliki lahan pertanian, kemiskinan di daerah asal sehingga saat ada program trasmigrasi dengan fasilitas yang diberikan pemerintah maka mereka berangkat. Seperti di dusun Trans Kediri, dusun Trans Blitar, dusun Trans Cilacap, serta dusun Trans Banyuwangi. Rata rata saat awal transmigrasi sebanyak 50 orang datang secara bersama sama.

Desa yang dipimpin oleh Kepala Desa Sulityono tersebut mayoritas 90 persen warganya berprofesi sebagai petani dan pekebun sisanya 10 persen terdiri dari para pegawai swasta, wiraswasta. Ia mengungkapkan kontur tanah padas serta berbukit tersebut membuat warga rata rata bertanam jagung, kelapa, kelapa sawit serta tanaman perkebunan lainnya.

Sementara itu petani sawah hanya sebagai penggarap di daerah Tetaan yang berbatasan dengan Desa Karangsari. Lahan persawaahn tersebut rata rata milik warga Tetaan yang digarap dengan sistem bagi hasil.

Berkat keuletan para trasmigran tersebut, seperti halnya Sulistiono, ia bahkan mampu menyekolahkan anaknya ke salah satu perguruan tinggi di kota Malang Jawa Timur. Sementara itu selain berkebun ia menekuni usaha peternakan sapi jenis Metal, budidaya ikan lele serta peternakan ayam pedaging.

"Daerah ini awalnya gersang, tapi berkat kerja keras dan usaha maka berkembang. Dulu tahun 80 an jarang rumah permanen kini rata rata sudah permanen sebagian besar rumah di sini," ungkapnya.

Kini sebagian besar jalan. Di wilayah tersebut dibangun dengan aspal dan sebagian masih berupa jalan batu dan merupakan jalan utama bagi warga di Trans Kediri, Trans Banyuwangi, Trans Cilacap, Trans Blitar untuk aktifitas sehari hari serta distribusi hasil pertanian, berupa jagung, kelapa sawit,kelapa serta hasil pertanian lain.

Desa Karangsari awalnya menjadi bagian dari Kecamatan Penengahan, setelah ada pemekaran desa tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Ketapang. Beberapa fasilitas sekolah dari tingkat TK hingga SMA bahkan sudah berdiri di Kecamatan Ketapang.

Sulistiono mengungkapkan murid murid sekolah sekarang banyak memiliki pilihan untuk menentukan dimana akan bersekolah dengan adanya sekolah di wilayah tersebut. Ia bahkan mengungkapkan para transmigran yang dulu tidak memiliki apa apa kini oleh pemerintah tekah diberikan infrastruktur jalan yang bagus, lahan serta mata pencaharian untuk kehidupan mereka.

"Itulah bagusnya program Pelita oleh presiden Soeharto mas, jadi ada perbaikan nasib melalui transmigrasi dan buktinya kini sudah lebih baik dengan memiliki lahan dan pekerjaan di sini," ungkap Sulistiono.

Sebagai aparat desa ia juga mengaku senang warganya sudah banyak yang memiliki rumah bagus, memiliki mobil atau kendaraan roda dua. Namun ia tak menjadikan ukuran tampilan fisik yang terlihat  tersebut sebagai ukuran kesuksesan warga transmigran. Kesuksesan tersebut justru terlihat dengan semakin bagusnya infrastruktur di desanya serta generasi muda yang mengenyam pendidikan lebih tinggi dan bisa berkarya untuk desanya. (Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: