MINGGU, 28 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Ratusan warga Desa Bulok Kecamatan Kalianda Lampung Selatan melakukan kegiatan unik dalam rangka mengisi liburan dan memperingati 133 tahun letusan Gunung Krakatau yang mendunia. Kegiatan yang digagas oleh Karang Taruna Desa Bulok tersebut merupakan kegiatan tahunan untuk mengisi dan merefleksikan sejarah letusan Gunung Krakatau yang meluluhlantahkan sepanjang pesisir Kalianda.


Menurut ketua karang taruna Desa Bulok sekaligus ketua panitia, Oki Hernanda, kegiatan tersebut dipusatkan di pantai Teluk Nipah yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lampung Selatan yang selama ini kurang dikenal. Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) satu atap 3 Kalianda Kabupaten Lampung Selatan selain itu komunitas pegiat lingkungan dan komunitas motor ikut serta dalam kegiatan bhakti lingkungan di pantai tersebut. Pelibatan siswa-siswa sekolah tersebut merupakan upaya karang taruna desa setempat menjaga lingkungan pantai yang sering dipenuhi sampah dari laut.

“Sebetulnya acara ini merupakan bentuk rasa syukur dan peringatan atas letusan Krakatau pada ratusan tahun lalu dan wilayah Bulok merupakan salah satu saksi bisu, kini kita lestarikan alam yang ada di sekitar pantai Teluk Nipah agar tetap terjaga keasriannya" ungkap ketua karang taruna Desa Bulok, Oki Hernanda saat ditemui media Cendana News, Minggu(28/8/2016)


Ketua karang taruna yang juga pegiat lingkungan tersebut mengungkapkan bentuk pelestarian lingkungan diantaranya dilakukan dengan bhakti lingkungan membersihkan sampah sampah di pinggir pantai Teluk Nipah berupa sampah plastik,kayu yang terbawa ombak. Selain itu ratusan siswa dengan berseragam Pramuka juga melakukan penanaman ratusan pohon berbagai jenis di sekitar pantai diantaranya pohon cemara laut,ketapang,mangrove, pandan laut serta berbagai tanaman lain untuk menjaga kondisi pantai dari terjangan ombak laut. Komunitas motor yang terlibat dalam kegiatan bhakti lingkungan di pantai Teluk Nipah juga dilibatkan dalam penanaman pohon serta bersih pantai.

Setelah kegiatan bersih pantai, peserta juga berkesempatan menyaksikan lomba memancing dengan menggunakan bambu dan sebagian memancing di tepi pantai menggunakan joran. Oki Hernanda mengungkapkan kegiatan memancing di tepi pantai dengan joran atau sebagian memancing menggunakan bambu dan mengapung di perairan merupakan kegiatan harian warga di sekitar Teluk Nipah untuk mencari ikan untuk dikonsumsi sendiri atau dijual.

Selain memancing menggunakan teknik mengapung menggunakan bambu sebagian peserta juga melakukan kegiatan memancing di sekitar tebing batu yang ada di wilayah pantai Teluk Nipah.


“Kegiatan memancing oleh warga merupakan kegiatan rutin diantaranya menggunakan pancing sederhana  namun kita lombakan untuk memberi semangat dengan menyiapkan berbagai hadiah bagi peserta lomba memancing” ungkap Oki Hernanda.

Setelah kegiatan tersebut seluruh peserta melakukan tradisi unik dengan melakukan renang masal dengan menceburkan diri di pantai yang berombak dengan kontur pantai cukup landai. Beberapa peserta bahkan masih mengenakan seragam pramuka saat menceburkan diri ke pantai mengikuti kegiatan renang masal di sepanjang pantai Teluk Nipah tersebut.

Selain kegiatan unik tersebut, menurut Oki Hernanda, peringatan 133 tahun letusan Gunung Krakatau juga diperingati dengan kegiatan lain diantaranya doa bersama sebagai renungan atas korban keganasan letusan Gunung Krakatau. Renungan suci sudah dilakukan pada malam hari dengan melakukan doa bersama di lapangan Desa Bulok dengan menggunakan obor menyala membentuk formasi angka 133 yang merupakan peringatan letusan Gunung Krakatau.


Menurut Oki Hernanda, renungan suci tersebut sekaligus mendoakan para korban letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 ditulis dalam sejarah menimbulkan gelombang Tsunami atau dikenal dalam Bahasa Lampung kelebui setinggi 20 hingga 30 meter melanda wilayah Kalianda.

Setidaknya tercatat sekitar 4.000 korban letusan Gunung Krakatau yang banyak terjadi akibat awan panas yang kala itu melanda wilayah Ketimbang yang kini masuk di wilayah Kalianda. Beberapa komunitas diantaranya Yayasan Krakatau dan Research melakukan kegiatan menonton bareng film Krakatoa: The Last Days untuk melihat kedahsyatan Gunung Krakatau yang melanda Kalianda.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: