SELASA, 23 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Museum Satria Mandala berada dibawah naungan Pusat Sejarah TNI dan berkedudukan di Jalan Gatot Subroto No.14 Jakarta. Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 5 Oktober 1972 ini berisi edukasi kepada masyarakat tentang sejarah perjalanan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Museum ini juga memiliki empat ruangan khusus untuk empat orang Jenderal Besar di Indonesia dimana salah satunya adalah Jenderal Besar TNI HM. Soeharto yang juga Presiden Republik Indonesia kedua untuk periode 1968-1998.


Jenderal Besar TNI HM. Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Godean, Yogyakarta. Disanalah Soeharto kecil menghabiskan kesehariannya sebelum terpanggil untuk berada di garis depan perjuangan bangsa Indonesia sebagai seorang prajurit. Karier militernya berawal pada tahun 1940 sebagai Kopral KNIL di usia yang masih sangat belia, yakni 19 tahun, dan bertugas di Batalyon XIII Rampal, Malang, Jawa timur.

Masih di tahun yang sama, Soeharto muda masuk Sekolah Kader Sersan selama satu tahun (1940-1941) hingga lulus dengan pangkat Sersan KNIL di usia 20 tahun. Lalu pada masa pendudukan Jepang, ia pun masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) dengan posisi Shodancho (komandan peleton). Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1944 posisinya naik menjadi Chudancho (komandan kompi).

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, mantan Chudancho Sersan Soeharto yang saat itu berada di Yogyakarta terpanggil untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ia mengambil inisiatif dengan mengumpulkan teman-temannya mantan PETA, Heiho, Kaigun, dan Polisi untuk membentuk kesatuan bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Setelah BKR Yogyakarta dikonsolidasikan dengan pembentukan Divisi IX, maka Sersan Chudancho Soeharto ditunjuk sebagai Komandan Batalyon X dengan pangkat Mayor.

Saat meletus pertempuran Ambarawa, Mayor Soeharto memimpin Batalyon X bersama pasukan lainnya untuk melawan kekuatan sekutu yang kala itu diboncengi oleh NICA (Pasukan Belanda). Peran sentral Mayor Soeharto dalam pertempuran tersebut mendapat perhatian dari Panglima Besar (Pangsar) Soedirman. Oleh karena itu, Mayor Soeharto kemudian diangkat menjadi Komandan Resimen III dengan pangkat Letnan Kolonel (Letkol) dan bertugas di Yogyakarta.

Tanggal 19 September 1948 Belanda menyerbu Yogyakarta untuk meneguhkan gembar-gembornya di dunia internasional bahwa Pemerintah Indonesia berikut Angkatan Bersenjatanya sudah tidak ada. Kala itu Letkol Soeharto sebagai Komandan Brigade X/Divisi III-Wehrkreise III memegang tanggung jawab penuh atas pertahanan dan keamanan Yogyakarta. Oleh sebab itu, ia menjawab kedegilan Belanda dengan memimpin Serangan Umum tanggal 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai Kota Yogyakarta selama 6 Jam. 

Serangan tersebut berhasil membelalakkan mata dunia sekaligus mempermalukan pemerintah dan tentara Belanda karena Pemerintah Republik Indonesia dan Angkatan Bersenjatanya ternyata tetap berdaulat. Tidak heran jika sepak terjang kepemimpinan Letkol Soeharto dalam Serangan Umum Satu Maret sampai membuat Panglima Besar Jenderal Soedirman menjulukinya sebagai 'Bunga Pertempuran'. Setelah perang kemerdekaan berakhir, maka Brigade X yang legendaris tersebut berganti nama menjadi Garuda Mataram dengan Letkol Soeharto tetap sebagai komandannya.

Pada tahun 1951, Letkol Soeharto dipindahtugaskan ke Salatiga untuk memimpin Brigade Pragola menumpas pembelotan Batalyon 426 akibat hasutan para pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwiryo yang bermaksud mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila.

Tanggal 1 Maret 1953, Letkol Soeharto dipindahkan ke Markas Divisi kemudian diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri 15 atau dikenal dengan nama RI-15. Setelah itu karir militernya terus melejit saat diangkat menjadi Kepala Staf dan Territorium IV Diponegoro yang berkedudukan di Semarang. Dari pengangkatan sebagai Kepala Staf lalu meningkat lagi menjadi Panglima Tentara dan Territorium IV Diponegoro, maka pada tanggal 1 Januari 1957 pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel. Begitu seterusnya karir militernya terus menanjak hingga pangkat Brigadir Jenderal (Brigjend).

Pada 1 Januari 1962, Brigjend Soeharto dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal (Mayjend) untuk kemudian menjabat sebagai Deputy Wilayah Indonesia Timur, sekaligus merangkap sebagai Panglima Komando Mandala pembebasan Irian Barat.


Setelah perjuangan membebaskan Irian Barat berakhir, maka sejak tanggal 1 Mei 1963 Mayjend Soeharto menerima tugas baru sebagai Panglima Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Saat era sebagai Pangkostrad, meletus untuk kesekian kalinya pemberontakan atau pengkhianatan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan nama Gerakan 30 September 1965 atau dikenal dengan G30S/PKI. Kala itu PKI menculik sekaligus membunuh secara sadis pejabat-pejabat teras Angkatan Darat dengan fitnah keji bahwa para jenderal tersebut ingin makar dengan pembentukan 'Dewan Jenderal'. Sekali lagi Mayjend Soeharto harus mengambil sikap tegas dengan menumpas serta menggagalkan pemberontakan tersebut.

Tanggal 21 Februari 1966, Mayjend Soeharto mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal (Letjend) untuk kemudian diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat dan Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Pada 11 Maret 1966 Letjend Soeharto menerima surat perintah dari Presiden merangkap Pangti Angkatan Bersenjata/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu bagi terjaminnya keamanan, ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan. Surat tersebut dikenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar.

Ketika Presiden Soekarno mengumumkan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, Letjend Soeharto ditugaskan sebagai Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri/Panglima AD dan Kepala Staf KOTI. Pada tanggal 1 Juni 1966 Letjend Soeharto mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal untuk kemudian menjabat sebagai Ketua Presidium Kabinet Ampera/Menteri Utama Bidang Hankam.

Tepat pada 12 Maret 1967, Sidang Umum MPRS melantik Jenderal Soeharto yang akrab disapa dengan Pak Harto menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia yang kemudian melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia dengan melakukan beragam program pembangunan selama era pemerintahan tahun 1968 hingga 1998. Sebagai penghargaan atas jasa berikut pengabdian Pak Harto kepada tanah air yang begitu luar biasa, maka pada tanggal 30 September 1997 Pemerintah RI menganugerahi beliau dengan pangkat kehormatan sebagai Jenderal Besar TNI.

Pada 21 Mei 1998, Pak Harto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Jenderal Besar HM.Soeharto wafat pada tanggal 27 Januari 2008 di Jakarta. Jenazah dan semangat perjuangan beliau sebagai seorang prajurit TNI abadi di kompleks pemakaman keluarga bernama Astana Giribangun tepat di lereng Gunung Lawu, Desa Girilayu, Karanganyar, Jawa tengah hingga hari ini.

Sejarah panjang perjalanan karir militer Jenderal Besar HM. Soeharto terekam rapi dalam sebuah ruangan mungil didalam Museum Satria Mandala, Pusat Sejarah TNI Jakarta. Memasuki pintu utama ruangan maka pengunjung dapat menyaksikan sebuah stupa replika tubuh Pak Harto lengkap dengan seragam kebesaran TNI. Tidak lupa di sisi kiri ruangan, didalam sebuah lemari kaca diabadikan seragam TNI lengkap asli milik beliau.

Seluruh dinding ruangan tersebut dihiasi foto-foto dokumentasi beliau saat masih menjadi seorang prajurit di medan pertempuran berupa peristiwa-peristiwa penting seperti penumpasan-penumpasan pemberontakan yang dipimpinnya, perjalanan bersama Panglima Besar Sudirman dalam perang gerilya, usaha keras untuk mengambil wing penerjun, konsolidasi-konsolidasi menarik dengan beberapa pejuang besar lainnya didaerah seperti Kolonel Kawilarang, kebersamaan beliau dengan Presiden/Pemimpin Besar Revolusi Soekarno, suasana keakraban dengan Jenderal Besar AH.Nasution, menjadi saksi sejarah penandatanganan kesepakatan damai terkait konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia, pengambilan sumpah jabatan sebagai Menpangad oleh Presiden Soekarno, suasana penuh kewaspadaan tinggi bersama pasukan gerilya di garis depan, berada ditengah-tengah pasukan pemerintah bersama Kolonel Kawilarang dalam penumpasan PRRI/Permesta di garis depan, aktifitas beliau sebagai Bapak dari Gerakan Pramuka di Indonesia, sampai bagaimana beliau memimpin langsung operasi pengangkatan tujuh jenazah pahlawan revolusi.

Suasana ruangan semakin menarik untuk disimak pengunjung dengan adanya sebuah etalase kecil dengan beragam judul buku-buku perjalanan hidup Pak Harto baik sebagai seorang prajurit TNI dan Presiden kedua Republik Indonesia. Namun dari sekian foto dokumentasi yang diabadikan tersebut ada selembar kertas ukuran folio berisi tulisan tangan aslinya sebagai Presiden Republik Indonesia yang dituangkan dalam bentuk pantun. Isi tulisan tersebut adalah sebagai berikut

Rakyat dan ABRI selalu manunggal
Perjuangan dari cita-cita pantang gagal
Negara Pancasila tetap jaya dan kekal
Berkat Ridho Tuhan yang Maha Tunggal

Yogyakarta, 6 July 1989
Soeharto

Jika dicermati, tulisan ini memiliki arti bahwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah prajurit-prajurit yang berasal dari rakyat, sehingga sudah sepatutnya selalu dekat dengan rakyat. Kemerdekaan yang didapatkan merupakan hasil nyata dari kemanunggalan antara rakyat dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. Dan semua itu terjadi atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa.

Salah satu suri tauladan dari Jenderal Besar HM. Soeharto adalah bagaimana jiwa kepemimpinan serta kesederhanaan beliau sejak ia masih seorang prajurit di lapangan, pemimpin pasukan hingga menjadi seorang pejabat negara. Walaupun dijuluki sebagai 'Bunga Pertempuran' saat memimpin Serangan Umum 1 Maret oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, namun Pak Harto tetap bersahaja serta mengikuti tugas-tugas selanjutnya yang diberikan pimpinan Angkatan Bersenjata tanpa memikirkan apa yang akan didapatkan kedepannya nanti.

Duduknya HM. Soeharto dalam posisi-posisi strategis di Angkatan Bersenjata sampai sebagai Presiden kedua Republik Indonesia merupakan Ridho Tuhan yang Maha Tunggal untuk bangsa Indonesia, karena selepas era Presiden Soekarno maka bangsa dan negara ini membutuhkan sosok pemimpin yang mengerti seluk beluk rakyatnya. Pak Harto yang secara langsung sudah mengenyam berbagai perih serta pedihnya perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan tampil memimpin bangsa dan negara ini dengan melakukan beragam program pembangunan terukur selama kurang lebih 32 tahun kepemimpinannya sebagai Presiden kedua Republik Indonesia.


Dari sebuah dusun kecil lahir seorang Pemimpin Besar. Dari seorang prajurit lahir seorang Jenderal Besar. Dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia, lahirlah Tentara Nasional Indonesia. Dan Jenderal Besar HM.Soeharto, sekuntum "Bunga Pertempuran" dari Dusun Kemusuk, adalah sosok pemimpin besar bangsa Indonesia yang sudah melakukan amanat serta cita-cita luhur rakyat Indonesia dalam rekam jejak sejarah perjuangan bangsa ini.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: