SENIN, 29 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Sejarah Proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945 tidak lepas dari sejarah terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 1945. Dari sisi terbentuknya TNI turut andil tokoh-tokoh sentral sebagai peletak dasar organisasi kemiliteran, hirarki, dan tujuan pengabdian dimana ketiganya merupakan kekuatan dari TNI itu sendiri. Salah satu tokoh tersebut adalah adalah Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Besar TNI Soedirman.


Soedirman lahir 24 Januari 1916 di desa Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, Jawa tengah. Ia dikenal sebagai seorang guru Holandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah. Memulai karier kemiliteran dengan cara mengikuti pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor Jawa Barat dan setelah selesai ia diangkat menjadi Daidancho (komandan batalyon) yang berkedudukan di Kroya, Banyumas, Jawa tengah.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Jepang membubarkan PETA. Dan ketika Pemerintah RI membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) tanggal 23 Agustus 1949 maka Soedirman terpilih menjadi Ketua BKR Keresidenan Banyumas. BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan Soedirman muda menjadi Komandan Resimen Divisi V Banyumas berpangkat Letnan Kolonel.

Berdasarkan hasil konferensi TKR di Yogyakarta pada 12 November 1945 maka Soedirman dipilih sebagai pemimpin tertinggi TKR. Selang satu bulan, tepatnya 18 Desember 1945 ia dilantik sebagai Panglima Besar TKR dan pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal.

Setelah organisasi ketentaraan disempurnakan bentuknya yaitu peralihan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) serta menentukan status laskar serta badan perjuangan, maka tanggal 25 Mei 1946 Presiden Soekarno melantik Panglima Besar Jenderal Soedirman sebagai Pemimpin tertinggi (Panglima Besar) TRI.

Pada tahun 1948, pemerintah melakukan kebijakan reorganisasi dan rasionalisasi (Re-Ra) Angkatan Perang dengan mengurangi jumlah tentara. Salah satu efek dari kebijakan tersebut adalah penurunan pangkat satu tingkat yang diberlakukan mulai dari Panglima Besar hingga prajurit. Dengan begitu, maka pangkat Panglima Besar Jenderal Soedirman (akrab disapa Pak Dirman) turun menjadi Letnan Jenderal (Letjend).

Walaupun demikian, karir kepemimpinan Pak Dirman dalam organisasi kemiliteran Indonesia terus berlanjut ke tingkatan-tingkatan selanjutnya yaitu sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), sekaligus menjabat Panglima Besar Angkatan Perang Mobil.


Sesudah agresi militer Belanda II di Indonesia, pemerintahan darurat RI menetapkannya sebagai Panglima Besar Tentara. Seusai perang kemerdekaan yang diikuti penghapusan jabatan Panglima Besar (Pangsar) maka Letnan Jenderal Soedirman dilantik sebagai KSAP. Namun seiring perjalanan tugasnya, Pak Dirman jatuh sakit. Oleh karena itu, maka Kolonel TB.Simatupang akhirnya ditunjuk menggantikannya sebagai KSAP.

Setelah cukup lama bergelut dengan penyakit Tuberculosis yang dideritanya, Letnan Jenderal Soedirman akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 29 Januari 1950 dalam usia yang masih sangat muda yakni 34 tahun dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Pesan terakhirnya kepada Kolonel TB.Simatupang sebelum mangkat adalah : "Bangunlah angkatan perang yang dapat menjadi kebanggaan dari rakyat Indonesia, yang mampu melindungi Kemerdekaan Negara Indonesia, serta dapat menjamin keamanan rakyat Indonesia ".

Karena Jasa dan Pengabdiannya kepada bangsa dan negara Republik Indonesia maka Presiden Soekarno dalam kapasitasnya sebagai Pemerintah RI memberikan penghargaan tertinggi dengan menaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Anumerta Soedirman.

Di era Pemerintahan Presiden Soeharto, Jenderal Anumerta Soedirman diberikan gelar Pahlawan Nasional tepat pada tanggal 20 Mei 1970. Kemudian, masih di era pemerintahan yang sama, maka pada 30 September 1997 kembali Jenderal Anumerta Soedirman menerima penghargaan dari negara yaitu dikukuhkan sebagai Jenderal Besar TNI.

Dari sejarah karir militer serta kepemimpinan Jenderal Besar TNI Soedirman baik dalam organisasi Tentara Republik Indonesia maupun perjuangannya memimpin laskar gerilya dalam perang kemerdekaan, ada bagian yang tidak bisa dilupakan oleh seluruh rakyat Indonesia khususnya barisan Tentara Nasional Indonesia sejak dahulu hingga kini, yaitu peristiwa Pertempuran Ambarawa 12 Desember 1945 atau lebih dikenal dengan Palagan Ambarawa.

Dalam pertempuran tersebut, Panglima Besar Soedirman memimpin seluruh laskar gerilya TKR diantaranya Batalyon Imam Adrongi, Batalon Soeharto (Letkol Soeharto yang akhirnya menjadi Presiden kedua RI) dan Batalyon Soegeng untuk menghancurkan barisan pertahanan pasukan Inggris (Sekutu) dan NICA (Belanda) dengan strategi "supit urang" atau pengepungan dari dua penjuru.


Dengan heroik, Panglima Soedirman turun langsung memimpin pertempuran di garis depan dengan bersenjatakan Pedang Katana dan sepucuk pistol. Akibat serangan frontal tersebut, Pasukan Sekutu (Inggris) yang diboncengi NICA (Belanda) kala itu berhasil dipukul mundur sampai akhirnya mereka terkepung selama 4 (empat) hari didalam benteng Willem milik Belanda kemudian melarikan diri mundur ke Kota Semarang.

Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI di Jalan Gatot Subroto 14 Jakarta merekam jejak langkah perjuangan dan karir militer Jenderal Besar TNI Soedirman atau disebut juga Panglima Besar (Pangsar) Soedirman atau akrab disapa Pak Dirman.

Sebuah ruangan besar berisi barang-barang peninggalan Pak Dirman diletakkan sekaligus dirawat dengan baik agar generasi bangsa dapat mengenali para pahlawannya. Mulai dari tandu Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Besar TNI Soedirman yang digunakan saat perang gerilya dalam keadaan sakit, meja tulis, tempat tidur kayu, kursi dan meja tamu dikediamannya, sampai rute perjalanan perang gerilya sang Jenderal yang membuatnya dijuluki " Senopati Perang Gerilya ".

Tidak lupa barang-barang pribadi milik Pak Dirman berupa tanda pangkat, kancing baju, Bintang Republik Indonesia, Bintang Kartika Eka Paksi, Bintang Yudha Dharma, Bintang Gerilya, Pedang Katana berikut sarungnya, tas kerja, gantungan pakaian, anglo, telepon, tanda jabatan, Bintang Maha Putra, dan terakhir adalah surat kematian beliau yang dikeluarkan oleh Kepala Djawatan Kesehatan Tentara Angkatan Darat Republik Indonesia yaitu Letnan Kolonel Dr.R.Soetarto di Magelang, Jawa tengah tertanggal 29 Januari 1950 untuk disahkan pada 24 November 1956.

Sosok Jenderal Besar TNI Soedirman, sang " Senopati Perang Gerilya " merupakan figur sentral bagi seluruh prajurit TNI hingga saat ini. Bagaimana seorang Jenderal Besar bisa menghargai jerih payah anak buahnya yaitu Letnan Kolonel Soeharto yang berjuang gigih memimpin Serangan Umum 1 Maret, lalu bagaimana ia terkejut terpilih sebagai Panglima Besar Angkatan Perang padahal menurut hematnya, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo merupakan sosok rekannya yang lebih pantas untuk posisi tersebut. Namun karena semua menginginkannya duduk disana maka ia pun akhirnya bersedia melaksanakan tugas sekaligus merekomendasikan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo untuk posisi Kepala Staf Oemoem (KSO). Hal tersebut membuktikan betapa jiwa kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman membuatnya dapat melihat ke setiap sudut manapun jika berkaitan dengan anak buah maupun koleganya. Dapat dibayangkan jika saat itu ia tidak merekomendasikan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, maka tidak akan lahir sebuah organisasi pendidikan bernama Akademi Militer (AKMIL) yang bertugas membentuk para pemuda dan pemudi bangsa ini untuk menjadi seorang prajurit TNI (Tentara Nasional Indonesia) hingga sekarang.

Secara kepemimpinan di lapangan maka strategi perang serta semangat pantang menyerah yang ditularkan kepada para anak buahnya adalah kelebihan beliau yang terutama. Namun begitu, latar belakangnya sebagai seorang guru turut pula menentukan kebijakan-kebijakannya dalam mengatur organisasi dalam hal ini organisasi militer yang masih mengalami pembentukan kala itu. Dan sebagai pribadi Pancasila yang memeluk Agama, ia pun adalah soko guru bagi para prajurit dalam ketaatannya beribadah dengan tidak pernah melupakan sholat lima waktu.

Cerminan kepemimpinan yang ada didalam diri Jenderal Besar TNI Soedirman turut membentuk karakter TNI hingga saat ini, yakni bagaimana seorang prajurit atau pimpinan TNI bisa menjadi soko guru di tengah masyarakat serta menjadi seorang prajurit sejati yang mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sampai titik darah terakhir dengan tetap berada di garis Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.


Satu ucapannya yang membuatnya semakin menjadi sosok pemimpin sekaligus pengayom bagi para tentara atau prajurit Indonesia sejak dahulu hingga sekarang adalah ; " tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah ". Kalimat tersebut diucapkan kepada Presiden Soekarno pada 18 September 1948 di Istana Yogyakarta. Dan sebait kalimat itu abadi hingga kini di halaman muka Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI, Jakarta.

Ada satu kalimat menarik di media sosial sekitar tahun 2014, bahwa Tuhan, Keluarga, dan Sumpah Prajurit adalah tiga hal yang harus selalu dijunjung tinggi oleh seorang prajurit. Jika salah satu dari ketiganya hilang, maka ia hanyalah seorang tentara. Dan Panglima Besar Jenderal Besar TNI Soedirman sudah menjaga ketiganya sampai titik darah terakhir.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: