RABU, 3 AGUSTUS 2016

PONTIANAK --- Beberapa hari terakhir, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, mengerahkan para petugasnya ke lapangan untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat terkait tumbuh satwa liar yang dilindungi Undang-Undang.


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sustyo Iriono menyebutkan, sekarang pihaknya tengah melakukan peningkatan pengawasan peredaran tumbuh satwa liar yang dilindungi.

Khususnya peredaran Telur Penyu di Kalimantan Barat. Berdasarkan SPT Kepala SKW III Singkawang Nomor: ST.197/BKSDA.KALBAR-III/Peg/8/2016 Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL - BKSDA Kalimantan Barat - Kementerian LHK dalam hal ini Tim SKW III Singkawang bersama sama Bhabinkantibmas dan Babinsa Desa Pemangkat melakukan Patroli Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dilindungi.

“Hasilnya menertibkan 1 orang pedagang sayur di Pasar Nelayan Pemangkat, Kabupaten Sambas  yang kedapatan menjual telur penyu sebanyak 63 butir. Dengan rincian 50 butir yang diasinkan dan 13 butir alami,” kata  Sustyo Iriono, Rabu (3/8/2016).

Disebutkan Sustyo Iriono , berdasarkan hasil pemeriksaan dari pelaku, telur penyu tersebut merupakan titipan seseorang yang berasal dari Pelabuhan Baru sekitar Pemangkat untuk bantu dijualkan.

“Berdasarkan keterangannya pula bahwa Telur Penyu tersebut berasal dari Pulau Tambelan - Kepulauan Riau. Sampai hari ini sudah hampir 2 minggu yang bersangkutan menjualkan telur penyu tersebut.  Sisa telur penyu yang belum terjual sebanyak 63 butir diamankan sebagai barang bukti,” jelas Sustyo Iriono.

Disebutkan, pelaku telah dimintai keterangan dan diberikan Surat Pernyataan oleh Anggota Reserse Polsek Pemangkat. Pembinaan ini dilakukan agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya kembali. 

"Mengingat pelaku adalah seorang pedagang yang utamanya menjual sayur mayur dan baru kali ini memperjual belikan telur penyu tersebut,”sebutnya.


Kata Sustyo Iriono , pelaku sebelumnya juga tidak mengetahui bahwa memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur penyu adalah perbuatan yang dilarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Untuk selanjutnya barang bukti berupa telur penyu sejumlah 63 butir tersebut diamankan di Kantor SKW III Singkawang.  Sampai saat ini masih terus dilakukan pengembangan kasus tersebut untuk mengungkap sindikat atau jaringan perdagangan telur penyu di Pemangkat dan sekitarnya,” ucap Sustyo Iriono.
[Aceng Mukaram]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: