RABU, 31 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Upaya mencegah, menekan penyebaran penyakit Tuberculosis (TB), beberapa kader kesehatan peduli TB wilayah Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung menganjurkan penderita untuk rajin memakai masker dan bagi warga yang tinggal di sekitar penderita bisa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu pola hidup bersih dan sehat (PHBS) terus disosialisasikan dan kegiatan olahraga bersama dilakukan untuk semakin menjaga kebugaran.


Salah seorang kader TB Kecamatan Sragi, Siti Zubaedah menyebutka, salah satu cara menjaga kontak langsung diantaranya dengan menggunakan masker baik bagi penderita maupun warga yang berada di sekitar. Penggunaan ditujukan agar kuman tidak menyebar melalui udara saat pasien batuk, bersin atau meludah, terutama saat musim kemarau yang berpotensi menimbulkan debu.

“Kita tidak pernah lelah dalam memberikan pembekalan serta pelatihan pencegahan, penanganan terhadap pasien atau masyarakat di sekitar penderita TB karena penyakit ini rentan menular kepada warga lain melalui kontak langsung atau tidak langsung,” terang Siti Zubaedah kepada Cendana News disela-sela sosialisasi penyakit TB, Rabu (31/08/2016).

Ia mengungkapkan, sosialisasi kepada masyarakat pedesaan rutin dilakukan setiap minggu terutama kaum perempuan yang memiliki peranan penting dalam keluarga. Sebagian besar perempuan yang mengikuti sosialisasi memiliki potensi menjaga keluarganya dengan cara menerapkan kebersihan dan pencegahan.

Disebutkan, Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman yang bernama mycobacterium tuberculosis. Musim kemarau panjang yang membuat debu beterbangan membuat TB rentan menyebar. Selain itu pola hidup kurang sehat serta kondisi lingkungan tak sehat pun bisa mengakibatkan penyebaran.

Menurut Siti Zubaedah, ia dan beberapa kader lain tak kenal lelah melakukan penyuluhan kepada masyarakat, baik secara lisan maupun menggunakan selebaran. Selain itu, beberapa kegiatan pengecekan oleh petugas kesehatan juga dilakukan.

Dia juga menyebutkan, saat ini di Kecamatan Sragi sudah terjadi penurunan jumlah penderita TB dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari total sebanyak 17 orang yang terdata mengidap, 12 orang dinyatakan sembuh, sementara yang menjalani pengobatan mencapai 5 orang, dua diantaranya anak anak.

"Kami sebagai kader dibantu beberapa rekan bahkan rajin membagikan masker kepada keluarga penderita TB agar lebih bisa meminimalisir penyebaran dalam lingkup keluarga, jika perlu penanganan kami arahkan ke Puskesmas,"ungkap Siti.

Selain memberi penyuluhan, Siti bersama kader lainnya juga rajin memantau penderita untuk lebih rajin meminum obat yang telah diberikan. Sebab peran kader dan keluarga dalam pendampingan terhadap keluarga dan korban menjadi faktor penting untuk proses penyembuhan.

Beberapa waktu lalu, ungkap Siti ia mengakui pernah mendapat sosialisasi terkait bahaya, penanganan dan penyembuhan pasien TB. Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti empat desa yakni Desa Mekarmulya, Palaspasemah, Rejomulyo, dan Palasjaya yang dilaksanakan di Desa Mekarmulya, Kecamatan Palas serta Sragi dan ia pun mengikuti kegiatan tersebut untuk mendapat ilmu terkait penanganan.

Sementara itu, pemateri dari Badan Pemberantasan Penyakit Menular (BPPM), B. Didik Setiawan, yang mewakili Kepala BPPM Dinas Kesehatan setempat, Endang Sutarman menyebutkan, tujuan dari sosialisasi tersebut untuk memberikan pengetahuan terhadap penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis.

Didik menjelaskan, dari 2012 - 2013 jumlah penderita Tuberculosis (TB) Paru diwilayah Kabupaten Lampung Selatan mengalami penurunan. Dimana, jumlah positif penderita TB Paru pada 2012 sebanyak 834 orang, sedangkan pada 2013 sebanyak 819 orang. Sementara ditahun 2014-2015 ini jumlah penderita TB bisa meningkat atau bahkan menurun tergantung dengan pola hidup sehat yang diterapkan masyarakat. Meski jumlahnya di bawah angka 700, namun peran serta masyarakat sangat diperlukan.

“Untuk tahun ini dari Januari – Mei jumlah penderita TB Paru sebanyak 400 orang. Tetapi menurut perkiraan dari hasil survey kami, di Kabupaten Lampung Selatan jumlah penderita ini kisarannya sekitar 1.500 – 1.600 orang. Maka dari itu, diadakan sosialisasi ini diharapkan bagi penderita TB Paru agar segera diobati,”ujar dia.

Ia berharap kader kader yang telah dilatih sebagai kader peduli kesehatan khususnya TB bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pencegahan TB. Sosialisasi tersebut pun diberikan tidak saja bagi penderita yang sudah positif terkena TB tetapi bagi keluarga penderita yang setiap hari berinteraksi langsung dengan penderita.


Ajak Penderita Rajin Olahraga

Selain sosialisasi terkait penyakit TB langkah pencegahan dan penyembuhan juga dilakukan oleh para kader dengan rajin mengajak berolahraga pernafasan. Menurut Siti, olahraga yang tepat dan teratur akan meningkatkan kerja otot, sehingga otot akan menjadi lebih kuat termasuk otot pernapasan. Dengan olahraga, terjadi peningkatan kesegaran jasmani dan ketahanan fisik yang optimal bagi penderita dalam melakukan kegiatan sehari-harinya, karena pada saat olahraga terjadi kerja sama berbagai otot tubuh yang ditandai oleh perubahan kekuatan otot, kelenturan otot, kecepatan reaksi, ketangkasan, koordinasi gerakan, dan daya tahan sistem kardiorespirasi (kesanggupan sistem jantung, paru, dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal).

“Kita melakukan pelatihan soal gerakan dan olahraga yang tepat untuk latihan pernafasan dan selanjutnya bisa dilakukan sendiri atau secara berkelompok,”ungkapnya.

Kesegaran jasmani dalam hal ini adalah kesanggupan tubuh melakukan penyesuaian terhadap beban fisik yang diberikan kepadanya. Kerja fisik tersebut bisa berupa pekerjaan yang dilakukan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Sebaliknya olahraga yang tidak terprogram dengan baik akan menimbulkan masalah bagi si penderita, bahkan dapat timbul komplikasi yang fatal.

Olahraga atau paling tidak melakukan latihan jasmani pada penderita penyakit TB ditujukan untuk meningkatkan otot pernapasan bagi penderita yang mengalami kelelahan pada otot pernapasannya, sehingga tidak dapat menghasilkan tekanan inspirasi yang cukup untuk melakukan ventilasi maksimum yang dibutuhkan.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: