SELASA, 9 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Menggalakkan penggunaan zat pewarna alami bagi pengrajin batik bukan hal mudah. Selain mahal, ketersediaan bahan pewarna alami juga masih langka. Karenanya upaya komprehensif kini dilakukan, meliputi pengembangan sumber zat pewarna alami, teknik penggunaannya yang praktis, serta harga yang harus dibuat lebih terjangkau.

Edia Rahayuningsih, Dosen Teknik Kimia UGM
Upaya menggalakkan penggunaan zat pewarna alami bagi produk batik dan lurik asli Kabupaten Sleman dilakukan melibatkan pemerintah daerah setempat, perguruan tinggi dan para pengrajin yang tergabung dalam asosiasi pengrajin. Hal ini dilakukan juga terkait dengan kondisi wilayah Sleman yang merupakan daerah resapan air di DI Yogyakarta, sehingga tak boleh ada industri skala besar yang berdiri.

"Maka, pengembangan batik dan lurik di Sleman hanya boleh dilakukan dalam skala industri rumahan, dengan memaksimalkan kualitas hasil produksi, salah satunya dengan penggunaan zat pewarna alami", jelas pengajar Teknik Kimia Universitas Gajah Mada Yogyakarta, DR. Ir. Edia Rahayuningsih, Selasa (9/8/2016).

Dalam upaya tersebut, jelas Edia, UGM sebagai perguruan tinggi yang ditunjuk dalam melakukan upaya penerapan dan pengembangan zat pewarna alami pada batik lurik Sleman, sejak awal 2016 ini telah melakukan berbagai penelitian dan pengembangan sumber-sumber penghasil pewarna alami. Di antaranya dengan membudidayakan pohon-pohon penghasil zat pewarna alami di lahan seluas 4 Hektar.

Edia mengatakan, beberapa pohon penghasil pewarna alami itu antara lain pohon indigo vera yang menghasilkan warna biru, pohon pingi yang menghasilkan warna orange dan coklat, pohon jalawe untuk warna kuning dan hitam, pohon tegeran untuk warna kuning cerah dan hijau, serta pohon merbau untuk warna coklat muda dan tua.

Berbagai kegiatan dalam rangka mengkampanyekan eko batik meliputi peneletian didanai Pemerintah melalui Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) sebesar Rp. 1,6 Milyar, lanjut Edia, diharapkan mampu mengurangi penggunaan pewarna sintetis secara bertahap.

Sementara dalam pelaksanaannya, perguruan tinggi dan pemerintah daerah setempat membangun kerjasama mutualistis dengan para pengrajin melalui program grassroot inovation atau pendekatan berbasis inovasi masyarakat. 

"Kami melakukan pendampingan dan memberikan solusi termasuk dalam hal pemasaran produk. Dan, semua kerjasama ini juga sejalan dengan Peraturan Bupati Nomor 35 Tahun 2015 Tentang Tata Kelola Batik di Sleman", jelasnya.

Saat ini, menurut Edia, ada sebanyak 75 pengrajin binaan dari total pengrajin di Sleman yang berjumlah sekitar 500 orang. Edia mengklaim, kendati saat ini penggunaan pewarna alami masih dianggap mahal, sulit dalam penerapan serta masih terbatasnya ketersediaan pewarna alami, namun animo para pengrajin untuk menggunakan pewarna alami sangat besar.

"Dan, untuk itu kami sudah melakukan dan menyiapkan upaya komprehensif agar penggunaan pewarna alami ini bisa mudah dilakukan dan harganya lebih terjangkau", pungkasnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: