SABTU, 6 AGUSTUS 2016

MALANG --- Memasuki bulan Agustus, banyak kegiatan yang telah dipersiapkan warga untuk menyambut perayaan hari kemerdekaan ke-71 tahun Indonesia. Salah satu kegiatannya yaitu acara 'Kampoeng Genitri Tempo Doloe' yang diadakan oleh warga RW 04 Kelurahan Pisang Candi Kecamatan Sukun kota Malang.


"Acara Kampoeng Genitri Tempo Doloe sebenarnya merupakan rangkaian kegiatan pembuka dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-71 Republik Indonesia,"jelas Reza, salah satu panitia pelaksana kepada Cendana News, Sabtu (6/8/2016).

Ia juga mengatakan, kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini merupakan gagasan tokoh masyarakat maupun sesepuh kampung dengan maksud untuk mengingatkan kembali kepada generasi mudah mengenai sejarah asal usul nama kampung Genitri sebelum berganti nama menjadi Pisang Candi. Kawasan ini dulunya dikenal dengan sebutan kampung Genitri yang di ambil dari nama nama pohon yang dulu banyak tumbuh di kawasan RW 04.

"Dulu di daerah sini banyak di tumbuhi pohon Genitri yang buahnya memiliki banyak manfaat, sehingga banyak orang yang menyebut kawasan ini sebagai kampung Genitri. Namun seiring dengan semakin banyaknya pemukiman, pohon Genitri sekarang justru sudah hampir tidak ada di daerah sini,"ucapnya.

Lebih lanjut, Feri panitia lainnya juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga sebagai ajang mempererat rasa kebersamaan antar warga.

"Alhamdulillah warga disini cukup kompak sehingga acara Kampoeng Genitri Tempo Doloe bisa terlaksana dengan baik,"ucapnya.

Disebutkan, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (3-6 Agustus 2016) ini banyak menampilkan berbagai kesenian yang di bawakan sendiri oleh warga RW 04 diantaranya jaranan, tari-tarian dan campursari. Banyaknya tokoh-tokoh kesenian yang tinggal di wilayah ini, membuat kesenian daerah tetap bisa di pertahankan.


Sementara itu, dari pantauan Cendana News, selain dihias berbagai ornamen khas 17-an seperti bendera Merah Putih maupun umbul-umbul, di sepanjang Jalan Pisang Candi Barat RW 04 juga terdapat puluhan stan dengan hiasan bernuansa jadul (jaman dulu) yang di dalamnya diisi oleh para penjual sovenir dan jajanan lawas. Para warga pun sejak siang hari terlihat sangat antusias mengikuti acara ini, bahkan tidak jarang masyarakat dari luar kota turut hadir dalam acara tersebut.

"Kami mempromosikan kegiatan ini melalui berbagai media, mulai dari media sosial, radio hingga televisi lokal sehingga tidak heran jika banyak masyarakat yang berdatangan,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: