MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

KUBU RAYA --- Kapal klotok (kapal kayu tradisional) di Dermaga Sukalanting, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Setiap harinya menyeberangkan ratusan kendaraan roda dua di Sungai Kapuas ke sebuah dermaga lainnya. 


Ditemui dermaga Sukalanting, Saridin, lelaki berusia 28 tahun yang berprofesi sebagai penarik ia menceritakan selama menyebrangkan kendaraan roda dua. Ia bersama pemandu dengan tekun menyusun motor dengan rapi. Tujuanya supaya motor jangan sampai terjatuh kesungai.

Untuk satu kali menyebrang, ia mematok harga Rp 10 ribu berikut orang yang menumpangi motornya. 

“Orangnya tidak dihitung, hanya motor saja,” tuturnya bercerita kepada Cendana News, Minggu (7/8/2016).

Disebutkan, dalam menyeberangkan motor. Banyak suka dan dukanya. Diantaranya harus berhadapan dengan cuaca yang ekstrim. Perlu kehati-hatian agar kapal yang dikemudikan sampai ke tempat tujuannya, derga Tanjung Duku.

“Angin kencang di sungai Kapuas ini sudah biasa setiap harinya. Cuaca berubah setiap saat, itu makanan setiap harinya. Ya kita harus waspada,” ucapnya.

Dalam sehari, ia bisa mengantongi keuntungan Rp 5 juta. Uang itu, ia putar untuk membeli bahan bakar jenis solar. 

“Saya bagi juga ke kernet uangnya. Saya menarik kapal klotok ini sudah 9 tahun. Dulu bersama bapak saya,” ujarnya.


Baginya, menyeberangkan kapal klotok untuk kendraan roda dua merupakan kewajiban dan pekerjaanya. Karena di wilayah itu tidak ada jembatab yang menghubungkan ke sejumlah desa di Kabupaten Kubu Raya itu.

“Selama 24 jam menyebrangkan kendaraan motor. Saya gantian dengan teman. Saya mulai pagi hingga sore. Kalau teman saya, dari sore sampai pagi,” ucapnya.
[Aceng Mukaram]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: