SELASA, 30 AGUSTUS 2016

MATARAM --- Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung di NTB selama ini masih dilihat sebatas Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pernikahan dini, padahal bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan tidak saja fisik, tapi juga psikis dan psikologis.


"Kekerasan terhadap perempuan bentuknya tidak saja fisik seperti KDRT maupun pernikahan dini yang nampak dipermukaan, tapi juga psikis dan psikologi" kata Direktur Eksekutif Tapak Perempuan,
Yane Rachma Bhirawati di Mataram, Selasa (30/8/2016).

Bentuk kekerasan psikologis bisa berupa pelecehan seksual, pembatasan atas akses ekonomi dan sumber daya maupun kebijakan di tempat kerja oleh perusahaan atau tempat layanan publik, justru lebih banyak berlangsung dan menimpa kaum perempuan.

Selain itu, Yane juga mengkritik upaya penanganan kekerasan dilakukan pemerintah maupun aparat hukum sebatas pendekatan hukum, tapi upaya pencegahan dan rehabilitasi masih sangat minim dilakukan.

"Upaya pencegahan dan rehabilitasi saya kira jauh lebih penting untuk dilakukan, untuk meminimalisir praktik tindak kekerasan terhadap perempuan, baik yang bersifat psikis maupun psikologis" tutupnya.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: