SELASA, 23 AGUSTUS 2016

SOLO --- Kebun Binatang Solo atau sering disebut Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) baru saja menerima ratusan burung sitaan dari Badan Karantina Pertanian Adi Soemarmo. Disitanya pengiriman berbagai jenis burung via pesawat ini ditahan karena tidak dilengkapi dengan dokumen lengkap.


Penanggung Jawab Badan Karantina Pertanian (BKP) Adi Soemarmo, Muhammad Farid menjelaskan, sebanyak ratusan burung sitaan ini yang diserahkan kepada TSTJ ini merupakan paket kiriman dari Medan dengan tujuan Solo. Pada paket itu juga terdapat dokumen yang menyertainya, namun jumlah hewan tidak sesuai dengan di dokumen.  

Jika pada dokumen menyebutkan jumlah burung adalah 87 ekor yang terbagi menjadi 3 jenis burung, yakni Kacer, Love Bird, dan Cucak Daun. 

"Tapi saat dicek ternyata ada 332 ekor burung yang terbagi menjadi 10 jenis burung. Ironisnya, dari 332 ekor burung hanya 167 yang masih hidup," ungkapnya kepada awak media seusai penyerahan burung di TSTJ, Selasa pagi (23/8/16).


Dikatakan lebih lanjut, dari 167 burung yang masih hidup saat disita BKP Adi Soemarmo ternyata saat diserahkan kepada TSTJ kembali berkurang. Sebab sebanyak 28 burung kembali mati, karena mengalami luka bekas bertarung dengan sesama burung. 

"Kondisi burung yang terlalu banyak dengan kandang hanya kecil yang kemungkinan besar jadi penyebab burung pada mati. Selain itu, pengiriman paket yang lebih dari 24 jam juga sangat berpengaruh dengan kondisi hewan," terangnya.


Sementara itu, Tim Dokter BKP Adi Sumarmo, Drh Nur Isti Khomah menambahkan, diduga banyaknya burung yang mati tersebut karena terlalu lama berada di dalam kotak pengiriman. Sebab, dalam dukomen pengiriman, burung itu dikirim dari Medan pada Jumat (19/8) dan sampai di Bandara Adi Soemarmo, Sabtu (20/8/2016). 

"Berada di kotak kayu hingga 24 jam lebih ini yang membuat burung tidak kuat hingga banyak yang mati. Selain udaranya yang terbatas, juga tarung sesama burung," pungkasnya. 
(Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: