SELASA, 16 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Di tahun 2016 ini, kekuatan militer TNI berada di peringkat ke-14 dari 126 negara di dunia, menurun dari sebelumnya di tahun 2015 yang menduduki peringkat ke-12. Sementara di antara negara-negara Asia, kekuatan TNI menduduki peringkat ke-8, turun dua peringkat dibawah Rusia yang dimasukkan ke pe-rangking-an Asia.

Sultan HB X mengamati kendaraan peluncur roket
Dengan posisi peringkat ke-14 dari 126 negara, kekuatan militer TNI berada di bawah kekuatan militer negara Pakistan, Mesir, Korea Selatan, Italia, Jerman, Turki, Jepang, Inggris, Perancis, India, Tiongkok, Rusia dan Amerika Serikat.

Namun jika di zona Asia Tenggara, kekuatan militer TNI masih menduduki peringkat tertinggi di atas negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Malasyia, Singapura, Kamboja dan Laos. Bahkan, berdasar data GFP pula, kata Sultan, kekuatan militer Indonesia jauh lebih unggul dibanding Malasyia yang berada di peringkat ke-35. Namun, Sultan mengingatkan, kekuatan militer Malasyia juga bisa disokong oleh beberapa negara federasi seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Singapura.

Sementara itu kendati mengalami turun peringkat, namun indeks kekuatan atau Power Index Score kekuatan militer TNI mengalami peningkatan dari yang semula di angka 0,5321 menjadi 0,3354. Semakin kecil angka indeks kekuatan, maka menunjukkan semakin besar kekuatannya. Demikian diungkapkan Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan pembukaan pameran alutsista yang digelar Markas Besar TNI dalam rangka memperingati 71 tahun kemerdekaan RI di Yogyakarta, Senin (15/8/2016), malam.

Sultan mengatakan, peta kekuatan militer tersebut didasarkan kepada hasil survey terbaru yang dilakukan oleh Global Fire Power (GFP) dengan 50 faktor penentu kekuatan militer suatu negara, di antaranya faktor geografis, populasi, personel militer, anggaran militer, peralatan tempur hingga hutang luar negeri dari 126 negara yang disurve.

Adapun komponen-komponen penilaiannya, antara lain personel (man power), angkatan darat (land system), angkatan udara (air power), angkatan laut (naval power), sumber daya alam (resource), logistik pendukung, dan geografi atau wilayah.

Kekuatan militer Amerika Serikat, kata Sultan, hingga kini masih menjadi yang paling atas di dunia, dengan indeks kekuatan yang juga kian mengganas, yaitu dari 0,1661 menjadi 0,0897. Sementara target kekuatan militer TNI adalah masuk 10 besar dunia. 

Kekuatan militer, kata Sultan, bagi negara berdaulat merupakan kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi dan harus diprioritaskan dalam pembangunan. Karenanya, berbagai upaya meningkatkan kekuatan militer TNI terus dilakukan dengan melakukan beberapa pembaruan dan penambahan alutsista seperti Super Tucano yang masuk ke formasi TNI sejak tahun 2008. 

Menurut Sultan, pemetaaan kekuatan militer bukan berarti karena menginginkan perang, melainkan agar lebih terjamin dan terciptanya perdamaian di kawasan. Modernisasi dan peningkatan kekuatan militer juga terus dilakukan agar Indonesia bisa turut-serta dalam operasi gabungan dan misi-misi kemanusian di dunia.

Pameran alutsista bertajuk Independence Day Military Expo (IDME) 2016 di Yogyakarta akan berlangsung hingga 18 Agustus mendatang. Even besar tahunan yang digelar oleh Mabes TNI juga akan digelar di sejumlah kota-kota besar lain di Indonesia.

Sementara dalam malam pembukaannya, Sultan HB X didampingi petinggi TNI dan Kepolisian di Yogyakarta, menyempatkan diri meninjau sejumlah kendaraan tempur seperti peluncur roket buatan Brasil tahun 2012 yang mulai dimiliki oleh TNI sejak tahun 2014. (koko)
Bagikan:

Sari Puspita Ayu

Berikan Komentar: