MINGGU, 28 AGUSTUS 2016

NTB --- Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebutkan setiap tahun jumlah mata air di NTB setiap tahun mengalami penurunan cukup drastis hingga 75 persen, banyaknya mata air yang hilang tersebut sebagian besar disebabkan karena kerusakan hutan.


Kerusakan hutan yang terjadi di hampir semua wilayah NTB tersebut, termasuk hutan yang selama ini menjadi sumber mata air untuk kebutuhan rumah tangga maupun irigasi pertanian, selain menyebabkan banyak mata air yang hilang, juga menyebabkan debit air di beberapa titik mata air maupun sungai mengalami penurunan.

Dari 702 titik mata air yang terdokumentasikan pada 1985, yang tersisa sampai sekarang hanya sekitar 178 mata air dan tidak menutup kemungkinan akan terus mengalami pengurangan bahkan hilang sama sekali, kalau kerusakan hutan, terutama kawasan hutan yang selama ini banyak terdapat mata air di sekitar Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terus terjadi.

"Harus segera diselamatkan dengan menempuh langkah antisipatif, baik melalui penghijauan kembali pada kawasan hutan yang gundul maupun langkah hukum dengan menindak tegas para pelaku pengerusakan kawasan hutan" kata Muhammad Nasir, mantan pegawai Dinas Kehutanan Provinsi NTB era pemerintahan Presiden Soeharto kepada Cendana News, Minggu (28/8/2016).

Langkah antisipatif tersebut penting dilakukan, karena kondisi kawasan hutan sekarang ini sudah sangat parah dan mengkhawatirkan, terutama upaya penanaman kembali pada lahan kritis supaya sumber mata air bisa muncul kembali.

Karena kalau kedua langkah tersebut tidak dilakukan secara serius mulai dari sekarang, bukan tidak mungkin, akan semakin banyak sumber mata air yang hilang dan mengancam jutaan masyarakat NTB dari bencana kekeringan air bersih dan kebutuhan irigasi lahan pertanian untuk bercocok tanam.

"Saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya, kalau sumber mata air yang ada sekarang banyak hilang, bencana kekeringan air bersih dan lahan pertanian setiap memasuki musim kemarau akan bertambah" kata pria kelahiran Pulau Sumbawa tersebut.

Ia menambahkan seiring pertumbuhan populasi penduduk yang terus bertambah sudah pasti akan berdampak terhadap kebutuhan air bersih akan semakin besar, demikian halnya dengan kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Balai Lingkungan Hidup dan Penelitian (BLHP) NTB sebelumnya juga menyebutkan, selain penurunan jumlah sumber mata air, juga terjadi penurunan debit air pada beberapa daerah aliran sungai (DAS), bahkan beberapa  DAS di pulau Lombok dan pulau Sumbawa mengalami kerusakan cukup berat.

Beberapa DAS yang mengalami kerusakan berat antaran lain sungai Dodokan, Jelateng, Menanga, Rhee, Moyo Hulu, Ampang dan Parado, sementara di Pulau Lombok terdapat tiga sungai yang kondisinya cukup kritis, yakni sungai Aik Nyet, sungai Sesaot dan sungai Babak yang semuanya berhulu di kawasan hutan Gunung Rinjani.

Kerusakan DAS tersebut mengakibatkan penurunan debit air sungai rata-rata 30 persen dan terjadi kekurangan air hingga 1,25 juta meter kubik.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: