KAMIS, 4 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Balai Penyuluhan Pertanian,Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Penengahan terus melakukan sosialisasi manfaat pentingnya asuransi usaha tani padi (AUTP) yang memberikan perlindungan kepada petani terhadap potensi kerugian lahan pertanian padi akibat serangan hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT). Asuransi yang memproteksi petani dari kerugian akibat serangan hama tersebut diharapkan mampu memberikan perlindungan kepada petani padi yang ada di beberapa kelompok tani wilayah cakupan BP3K Kecamatan Penengahan.


Muailimin, Kepala UPTD Tanaman Pangan dan Hortikultura Kecamatan Penengahan mengungkapkan pihaknya selama ini tak pernah jemu melakukan berbagai sosialiasi dan himbauan kepada para petani yang tergabung dalam setiap kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Meski demikian akibat kesadaran yang masih rendah dari petani membuat petani masih enggan mengikuti asuransi tersebut. Muailimin mengungkapkan semenjak diluncurkan bahkan belum ada satu kelompok tani satupun yang berminat mengikuti program AUTP tersebut.

“Kesadaran yang masih kurang akibat kerugian serangan hama serta keengganan petani membayar premi manfaat bisa jadi faktor belum adanya petani yang ikut asuransi khusus petani tersebut padahal kita sudah sering melakukan sosialisasi tersebut” ungkap Muailimin saat dikonfirmasi media Cendana News di kantor BP3K Penengahan, Kamis (4/8/2016)

Muailimin mengakui, asuransi usaha tani padi tersebut memiliki dasar hukum Undang undang no 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani. Selain itu sesuai peraturan menteri pertanian no 40 tahun 2015 tentang fasilitasi asuransi pertanian.


Berdasarkan asuransi tersebut para petani penggarap yang mengalami kerugian akibat serangan hama sebesar 75 persen berhak memperoleh uang pertanggungan sebesar Rp6juta perhektar. Sementara petani melalui masing masing anggota kelompok tani hanya membayar premi sebesar Rp36ribu perhektar.

Selain kewajiban tersebut beberapa kriteria petani penggarap yang berhak mengikuti asuransi AUTP diantaranya petani penggarap yang tidak memiliki lahan usaha tani dan menggarap paling luas 2 hektar. Wilayah lokasi pertanian padi terletak dalam satu hamparan dalam satu kecamatan atau satu wilayah. Jangka waktu asuransi dimulai satu musim tanam atau 4 bulan dimulai sejak tanam hingga panen.

“Meski mudah persyaratan mudah dan premi asuransi rendah namun masih banyak petani yang belum memiliki kesadaran untuk ikut asuransi tersebut” ungkap Muailimin.

Ia mengakui selama ini upaya penyuluhan dan sosialisasi kepada petani telah dilakukan selain untuk mengikuti asuransi usaha tani padi juga penyuluhan terkait organisme pengganggu tanaman. Penyuluhan dilakukan oleh petugas khusus yang melakukan pemantauan dari petani berdasarkan laporan dari masing masing kelompok tani. Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) dari BP3K Penengahan, Safruddin, mengakui selama ini beberapa hektar lahan sawah di wilayah Kecamatan Penengahan mengalami serangan hama keong mas, hama penggerek batang jenis lembing yang sering dikeluhkan petani. Meski demikian sebagian petani masih menganggap hama yang menyerang dianggap hama wereng yang sudah di atas ambang kendali.


“Setiap petani yang sudah ikut asuransi AUTP dapat menghubungi petugas POPT untuk dilakukan penggantian atas kerugian jika memang memenuhi persyaratan” ungkap Safruddin.

Selama ini sebagai petugas POPT ia mengakui munculnya hama tanaman padi diakibatkan perilaku petani yang mempergunakan pestisida untuk mengusir hama pengganggu tanaman. Akibatnya banyak hama pada tamanan padi yang kebal terhadap pestisida tertentu dan mengakibatkan serangan hama semakin merajalela.

Safrudddin selalu memberikan penyuluhan kepada petani diantaranya untuk wilayah BP3K Penengahan saat ini memiliki sebanyak 221 kelompok tani dan sebanyak 20 gabungan kelompok tani. Selain penyuluh dari BP3K setiap kelompok tani juga diantaranya menyediakan penyuluh swadaya dari masyarakat yang akan memantau adanya OPT yang sering menganggu tanaman petani.

“Seharusnya dengan berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah diantaranya penyuluhan dan resiko adanya POPT maka lebih mudah mengikuti asuransi AUTP yang bisa menekan kerugian petani saat terjadi kerugian ketika gagal panen,” ungkap Safruddin.

Upaya memberikan kesadaran kepada petani untuk meminimalisir kerugian saat masa tanam khususnya tanaman padi diakui Safruddin telah melibatkan berbagai pihak diantaranya pihak kecamatan, Babinsa, kepala desa serta penyuluh swadaya. Sebab selain berkaitan dengan serapan gabah petani,koordinadi dengan berbagai pihak berkaitan dengan upaya swasembada pangan. Koordinasi dilakukan agar penanganan tanaman padi lebih terpantau sejak masa tanam hingga paska panen sehingga kesejahteraan petani lebih terjamin.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: