SABTU, 20 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Puluhan murid Sekolah Dasar (SD) dengan lihai memainkan alat musik tradisional dari wilayah Yogyakarta seperti alat musik tabuh dan pukul atau dikenal dengan gamelan. Permainan disajikan di hadapan ratusan penonton undangan dan warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan merupakan penampilan dari sanggar kesenian yang dilatih oleh Paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY) di wilayah Kecamatan Penengahan. Setelah berlatih selama berbulan-bulan setiap hari beberapa lagu bahkan disajikan kepada penonton layaknya permainan orang dewasa.


Puluhan siswa SD pemain gamelan tersebut merupakan beberapa sajian yang ditampilkan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-71 dan secara khusus merupakan puncak ulang tahun Desa Pasuruan yang memasuki usia ke-82. Kesenian gamelan merupakan salah satu kesenian yang ditampilkan mengingat mayoritas masyarakat Desa Pasuruan merupakan warga transmigran swadaya asal DI Yogyakarta.

“Selain giat berlatih sebagai upaya melestarikan kesenian gamelan anak anak tersebut dilatih untuk bisa menampilkan kesenian gamelan yang bisa disajikan kepada penonton seperti pada puncak peringatan ulang tahun desa ini” terang Widodo yang merupakan salah satu pembibing kesenian tradisional gamelan saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (20/8/2016).

Penampilan kesenian tradisional gamelan sengaja ditampilkan sebagai pembuka acara yang akan dilanjutkan dengan kesenian wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan oleh dalang yang langsung didatangkan dari DI Yogyakarta. Kegiatan sebelumnya dalam rangkaian HUT RI ke-71 dan HUT Desa Pasuruan ke-82 sekaligus HUT Paguyuban Keluarga Yogyakarta ke-10 berbagai perlombaan sekaligus menghias desa serta bersih desa pun dilakukan.

Kepala Desa Pasuruan, Kartini mengungkapkan, saat ini Desa Pasuruan memiliki sebanyak 3 Dusun yang memiliki ratusan kepala keluarga rata rata berasal dari Pulau Jawa. Sebagai salah satu kegiatan peringatan hari ulang tahun desa, Kartini mengungkapkan seperti tradisi tahun sebelumnya diselenggarakan “merti desa” atau bersih desa yang merupakan sarana untuk memohon keselamatan serta ucapan syukur warga atas berkah yang diterima setiap tahun.

Merti desa yang dilakukan diantaranya diselipkan dalam kesenian wayang kulit yang memiliki filosofi serta wejangan dari dalang terkait kondisi desa serta harapan ke depan terhadap kemajuan desa yang ada di kaki Gunung Rajabasa tersebut. Memohon kemakmuran bagi seluruh warga desa yang mayoritas merupakan petani padi sawah juga dilakukan dengan simbol membuat tumpeng selaku simbol rasa syukur warga atas hasil panen masyarakat dan memohon keselamatan atas tanaman,ternak,serta penduduk setempat.

“Kita tidak melakukan ritual khusus pada acara merti desa atau bersih desa tahun ini hanya kegiatan bersifat ungkapan syukur dilakukan dengan dzikir bersama di masjid serta dilanjutkan dengan kegiatan tradisional wayang kulit yang syarat nilai pelajaran kehidupan,”terang Kartini.

Salah satu kepala desa wanita dari sebanyak 200an desa yang ada di Kabupaten Lampung Selatan tersebut mengungkapkan keberhasilan Desa Pasuruan selama 69 tahun terlihat dari berbagai infrastruktur desa yang semakin membaik dan bisa dinikmati warga. Fasilitas fisik yang dinikmati masyarakat diantaranya kondisi jalan jalan beraspal dengan jalan jalan kecil menggunakan sistem rigid.

Upaya memajukan masyarakat dalam berbagai kegiatan pendidikan diantaranya dengan dibangunnya beberapa bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta dibidang kerohanian Desa Pasuruan memiliki keberagaman agama dan menjaga toleransi dengan adanya gereja, masjid secara berdampingan. Selain itu dengan luas sekitar ratusan hektar Desa Pasuruan dianugerahi lokasi yang cukup strategis bagi masyarakat di bawah kaki Gunung Rajabasa sehingga masyarakat bisa melakukan kegiatan bertani padi sepanjang tahun.

Ia mengungkapkan selama memimpin Desa Pasuruan selama dua periode merupakan bentuk kepercayaan masyarakat kepadanya dalam memimpin dan memajukan desa tersebut. Pesta kesenian tradisional yang sudah dilakukan sebelumnya di beberapa dusun diantaranya kesenian kuda kepang, kesenian wayang kulit serta memberikan kesempatan pada anak anak siswa sekolah memainkan gamelan merupakan upaya memajukan desa dalam bidang kesenian tradisional.

Berbagai bidang yang terus mendapat perhatian dalam upaya kemajuan desa menurut Kartini akan terus dilakukan seiring dengan kesempatan merayakan HUT desa ke-82 dengan memanfaatkan anggaran Dana Desa (DD) yang diperuntukkan bagi pembangunan fisik dan non fisik. Ia berharap dengan kemajuan di segala bidang akan memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di Desa Pasuruan.


Pantauan Cendana News, persiapan puncak peringatan HUT Desa Pasuruan ke-82 sekaligus HUT RI ke-71 terlihat meriah dengan jalan jalan yang dihias cukup semarak. Sebuah panggung terbuka untuk menampilkan kesenian wayang kulit disiapkan untuk menjadi tontonan bagi warga yang merupakan para transmigran sukses dari Pulau Jawa.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: