MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

BANDUNG --- Mempertahankan sebuah tempat usaha hingga puluhan tahun memang dibutuhkan kiat-kiat yang andal. Banyak perusahaan bangkrut di tengah jalan, lantaran kurang komitmen dalam mengelola bisnisnya.


Di Kota Bandung berdiri sebuah toko kopi yang usianya cukup uzur, yaitu Pabrik Kopi Aroma. Sejak didirkan oleh Tan Houw Sian pada tahun 1930 silam, hingga kini Kopi Aroma tetap menjadi primadona para penikmat minuman yang diyakini bisa menolak rasa kantuk tersebut.

Kini Produk kopi legendaris dari Kota Kembang ini dikelola oleh Widyapratama yang merupakan putra tunggal dari Tan Houw Sian. Lewat tangan Widya, pemasaran Kopi Aroma tak melulu di dalam negeri.  Lantas apa kiat jitu agar bisnisnya ini kian berkembang? 

Sejak tahun 1971, ia mengambil alih pengelolaan bisnis kopi ini. Selama itu pula Widya tetap mempertahankan keaslian dari produknya. Namun yang terpenting, yaitu harus mengenali dari A sampai Z ilmu tentang bisnis yang digeluti. Bagi ia pribadi tentu saja soal seluk beluk kopi.

"Sebagai pengusaha harus menguasai dari mulai menanam kopinya sampai kopi itu diminum," ujar Widya  di Jalan Banceuy, No 51 Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat  Minggu (14/8/2016).

Sampai saat ini Kopi Aroma tidak melibatkan bahan kimia dalam proses produksinya. Yaitu hanya mengandalkan pupuk kandang untuk mendapatkan biji kopi terbaik. Dalam hal ini pihaknya bekerjasama dengan para petani. Bukan hanya itu saja, ia mengaku harus tetap mengontrol ke kebun agan produk kopinya tetap memiliki keunggulan. 

"Sebelum dijual kepada konsumen, biji kopi harus disimpan selama 5 sampai 8 tahun kemudian dijemur. Proses giling dan sangrai juga masih pakai alat tradisional," ucapnya.


Yang terpenting, ia katakan, tak rakus untuk meraih keuntungan. Namun sebuah bisnis harus bertujuan gara masyarakat ikut merasakan manfaat positifnya. Dengan mempertahankan proses produksi tersebut, dijamin produk kopinya akan menyehatkan apabila dikonsumsi dengan benar. 

"Petani juga kan harus bisa hidup," imbuhnya.

Apabila dewasa ini setiap perusahaan memaksimalkan marketing digital untuk memperluas pasarnya, namun hal ini tak dilakukan oleh Kopi Aroma. Hingga saat ini, penjualannya masih mengandalkan cara offline. Bahkan tempat penjualannya pun cukup jadul, sebab masih mempertahankan bangunan gaya Belanda.

"Bisa bertahan sampai saat ini karena tetap berpatok pada 7M (man, money, material, machine, method, market dan minute)," ucapnya 

Kendati demikian, tempat penjualannya ini tak pernah surut pembeli dalam setiap harinya. Agar semua kebagian, ia membatasi setiap konsumen maksimal pembelian 5 kilogram.

"Kita juga tidak bukan agen-agen penjualan lain. Yang terpenting kiatnya berdoa kepada sang pencipta saja tidak usah lewat jalan pintas ke dukun," katanya.

Untuk bisa merasakan nikmatnya Kopi Aroma, Widya hanya membandrol untuk jenis Arabika Rp 25 ribu dan Robusta Rp 20 ribu, untuk kemasan 250 gram.

Pabrik Kopi Aroma sendiri buka dari Senin sampai Sabtu mulai 08.30 WIB hingga 14.30 WIB.(Rianto Nudiansyah)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: