SABTU, 20 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Kondisi kemarau basah yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur menambah lengkap penderitaan petani tembakau daerah setempat. Pasalnya sebagian petani sampai sekarang sudah ada yang tanam tembakau hingga tiga kali, sebab tanaman garapannya selalu mati akibat tergenang air hujan, sehingga biaya yang mereka keluarkan untuk cocok tanam daun emas tersebut membengkak.

Petani sedang menyiram tanaman tembakau.
Bagi mereka, mengidolakan tanaman tembakau berkeinginan untuk bisa mendapat rezeki yang lebih menjanjikan dari pada tanaman lain. Sehingga meskipun saat ini kondisi kemarau basah, para petani yang ada di ujung timur Pulau Madura ini kebanyakan enggan pindah ke komoditas lain, sehingga walaupun beberapa tahun terakhir harga tembakau anjlok, petani tetap bertahan bercocok tanaman musiman tersebut.

"Saya ini sudah tiga kali menanam tembakau pada musim kali ini, karena dua kali tanaman tembakau yang saya garap mati akibat tergenang air hujan. Tetapi saya tetap memaksa tanam kembali, sebab kadung banyak biaya yang dikeluarkan untuk bercocok tanaman ini," kata Wardi (50), salah seorang petani di Kabupaten Sumenep, Sabtu (20/8/2016).


Disebutkan, bahwa dengan sering matinya tanaman tembakau yang digarapnya, ia sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar, sehingga apabila harga tembakau tersebut anjlok, kemungkinan besar modal yang digunakan tidak akan kembali. Namun masalah harga dirinya masih belum memikirkan, tetapi paling penting tanaman tembakau yang sudah ketiga kalinya tersebut tidak mati seperti tanaman garapan sebelumnya.

"Lahan yang saya garap ini bukan milik sendiri, itupun hanya sewa dalam satu musim. Makanya untuk beralih ke tanaman lain sangat tidak mungkin, sebab waktu sewa penggunaan lahan ini juga dibatasi, jadinya tetap memaksa tanam tembakau," jelasnya.


Selama tiga kali menanam tembakau biaya yang dikeluarkan tidak tanggung-tanggung, yaitu sekitar Rp. 5.000.000, itupun hanya untuk biaya pembelian bibit serta proses penggarapan lahan, sedangkan untuk sewa lahan ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.000.000 dalam satu musim dengan kapasitas tanam mencapai 18.000 pohon tembakau.

"Sampai sekarang biaya yang dikeluarkan sudah mencapai Rp. 7.000.000, itu kerja saya masih belum terhitung. Jadi saya dan petani lainnya hanya bisa berharap agar harga tembakau stabil, supaya saat panen nanti tidak mengalami kerugian. Karena tanaman ini hanya satu-satunya harapan untuk mendapatkan rezeki yang menjanjikan," terangnya.

Sejak dulu tanaman tembakau memang menjadi primadona bagi masyarakat Madura, namun beberapa tahun terkhir harga daun emas tersebut mengalami penurunan cukup drastis, akibatnya banyak petani yang merugi. Namun hal itu belum bisa membuat petani beralih ke komoditas lain, terbukti saat ini masih banyak petani yang menanam tembakau. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: